Sore ini Fayola duduk santai di balkon rumahnya dengan memangku laptop, ia meluruskan kakinya yang pegal karena dihukum tadi pagi. Belum lagi mentalnya yang terus terusan di serang oleh para murid, nyatanya ancaman dari Devan masih belum bisa membungkam seluruh mulut SMA Luminari Cita, malah dirinya dituduh berselingkuh dengan Devan dan mencampakkan Fandy yang masih jadi pacarnya.
Tak hanya Fayola, namun Devan juga terkena imbasnya. Nama laki laki itu kembali di cap buruk, setelah waktu itu ia diisukan berselingkuh dengan Laras dan sekarang dengan Fayola. Fayola kasihan pada Devan, bahkan tadi istirahat Lita harus mengorbankan jam istirahatnya untuk menunggu Fayola menangis di kamar mandi karena mengasihani Devan.
Padahal tadi Devan sudah bilang bahwa dirinya tidak apa apa, bahkan laki laki itu sampai ikut turun tangan menenangkan Fayola yang bersedih karenanya. Fayola berniat untuk menghampiri Devan dengan membawakan sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf. Tapi Fayola bingung akan memberikan apa pada laki laki itu, dia sudah banyak merepotkan Devan.
"Aih mikirin kado buat kak Devan bikin gue laper."
Fayola memutuskan untuk mencari sate taichan di sekitaran taman kompleksnya, sekalian ia ingin jalan jalan sore. Meskipun udaranya sejuk tetap saja perjalanan kurang lebih dua kilometer itu terasa melelahkan.
Penjual sate taichan sore itu ramai sekali, jadi Fayola memilih untuk memesannya lalu ia tinggal ke minimarket yang ada disebrang penjual tersebut untuk membeli air mineral karena dirinya sangat haus.
Saat Fayola keluar dari minimarket, Fayola mendesah kecewa karena hujan turun dan sialnya dia tidak membawa payung. Fayola mengangkat cardigan yang ia pakai untuk dijadikan payung dan menyeberang ke penjual sate taichan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Fayola berhasil mendapatkan sate taichan miliknya. Ia kegirangan, sampai melupakan satu masalah yaitu hujan yang belum kunjung reda. Karena ia sudah lama tidak bermain hujan, akhirnya gadis itu memilih menerobos hujan untuk pulang.
Namun ditengah perjalanan tiba tiba badanya seakan di dorong dari belakang, badan Fayola terjungkal ke depan sate taichan yang ia pegang erat terlempar. Lalu Fayola menoleh ke belakang, tepatnya ke pengendara motor yang baru saja menabraknya.
"Udah tau lagi hujan malah lari larian di tengah jalan!"Maki pengendara motor tersebut.
Fayola yang mendengar itu langsung melotot dan merasa marah. "Heh mas, saya udah minggir ya, daritadi motor lewat mobil lewat juga aman aman aja tuh. Mata mas nya kayanya yang bermasalah. Udah nabrak, malah marah marah. Gak jelas lo."
"Mungkin itu karma kalau jadi pelakor mbak."setelah mengucapkan itu pengendara itu melajukan motornya melindas sate taichan milik Fayola.
"ORANG GILA! SATE TAICHAN GUE."
Fayola bangkit, ia merasakan perih di lututnya. Ia mengecek, ternyata lututnya memang terluka tergores tanah aspal. Fayola menangis, bukan karena darah yang mengalir dari lutunya, namun karena sate taichan yang sudah ia inginkan dari tadi sudah tidak karuan bentuknya. Fayola pulang ke rumah dengan kaki tertatih dan juga air mata yang terus mengalir.
Di rumah ternyata Frsika sudah berdiri di depan rumah dengan payungnya, seperti mamanya berniat menyusul dirinya. Melihat kedatangan Fayola dengan keadaan yang berantakan membuat Friska langsung berlari dan meneriaki suaminya.
"Astaga Fayola kamu kenapa?"Friska menuntun anak gadisnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Fayola yang ditanya seperti itu semakin mengencangkan tangisannya.
Bahkan sampai dirinya duduk di kursi ruang tengah dan mamanya mengobati lukanya, gadis itu masih menangis. Baik Friska, Pahlevi, dan Resya bingung harus menenangkan dengan model apalagi, karena Fayola tidak berhenti menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
