Hari ini masih pagi, tapi sekolah sudah dihebohkan dengan kedatangan Fayola yang sedang berjalan bersama papanya dan juga Resya. Jelas para siswa di koridor langsung mencibir Resya yang berpenampilan kurang modis di kalangan siswa siswi SMA Luminari Cita. Dengan kacamata minus yang melingkar di mata, serta kaos kaki panjang yang hampir menyentuh lutut.
Fayola mengeluarkan headset miliknya lalu memberikannya pada Resya untuk dipakai dan Resya menerimanya serta langsung memakainya, mulai kemarin malam Fayola melakukan pendekatan pada saudara tirinya karena Fayola rasa Resya pasti perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang pasti terkesan asing untuk Resya.
Fayola mengantar papanya dan Resya sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah, setelah mereka berdua masuk, Fayola langsung menuju kelasnya. Tak sedikit yang menghadang Fayola di koridor untuk dimintai penjelasan atas apa yang mereka lihat tadi. Namun, Fayola memilih menyumpal telinganya seraya berjalan ke kelas, ia terlalu malas mengadakan sidang pers di pagi hari.
Sesampainya dirinya di kelas, ternyata dirinya sudah disambut dengan Lita yang sepertinya sudah mendengar perbincangan hangat para siswa siswi di koridor. Dan rupanya teman sebangkunya sudah siap menagih penjelasan.
"Jadi mana utang lo cerita ke gue ngapain lo ke bogor kemarin dan juga kehebohan yang lo buat pagi ini Fayola Thevani."
"Dia saudara gue, lebih tepatnya kakak gue. Jadi jangan macem macem sama dia, atau kalian abis gue sikat."Fayola sedikit mengeraskan suaranya berharap dia tidak akan mengadakan klarifikasi dua kali.
Saat teman teman sekelasnya sibuk dengan penjelasan Fayola, Lita menarik tangan Fayola ke kantin untuk mendengarkan penjelasan sekaligus sarapan bubur ayam langganannya karena ia tidak sarapan di rumah. Saat kedua nya telah duduk dengan sempurna, Fayola mulai menceritakan kejadian semalam dan bagaimana asal usul Resya menjadi kakaknya.
"Hah? Jadi harusnya lo itu punya kakak ganteng satu tahun diatas kita? Sayang banget cowok ganteng itu harus menghadap ke hadapan sang kuasa."
Fayola memicingkan matanya merasa aneh mendengar ucapan Lita."Ganteng? Kaya lo tau aja gimana wajah kakak gue, padahal gue aja gak tau."
"Fe, lo itu cantik. Papa mama lo juga good looking semua bahkan di umur mereka sekarang, dan juga kalau mereka ngaku mereka itu kakak lo gue juga percaya aja fe. Dan lo masih meragukan gen orang tua lo yang diturunin ke kakak lo? Sinting sih lo."Lita menggeleng seraya menyeruput susu hangatnya.
Fayola mengangkat kedua tangannya menyerah, ia akui dia tidak akan bisa menebak alur otak temannya."Gue nyerah kalau debat sama lo."
Dilain tempat seorang laki laki baru saja datang dengan tas yang tersampir di bahu kirinya, saat tiba di kelas ia memperhatikan kondisi kelasnya yang ricuh lebih dari biasanya. Ia menimbrug ke salah satu grup yang beranggotakan laki laki dan perempuan.
"Lagi ngomongin apa sih?"
"Nah ini pacarnya yang bersangkutan, pasti dia tahu sesuatu. Jadi gini fan, hari ini kita kedatengan murid baru, dia itu jelek eh astaghfirullah bukan maksutnya cupu banget. Dan yang paling bikin gong adalah dia berangkat sama pacar lo."jelas salah satu temannya dan diangguki oleh yang lain. Fandy memasang wajah cengo, terkejut, bingung dalam waktu yang bersamaan.
"Dari raut muka dia, kayanya dia juga gak tau deh. Jadi sia sia banget si Aldo jelasin ke dia, yaudah lah fan sana balik ke bangku lo. Jangan bikin perut gue mules liat muka lo."ucap salah satu perempuan yang ada di grup itu.
Fandy mengangguk lalu menuju bangkunya seraya mengeluarkan telfon dari saku celananya untuk menghubungi Fayola, namun sayangnya sepertinya handphone Fayola tidak memiliki koneksi internet.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
