9 - Dufan

3.9K 179 0
                                        

Suara nada dering dari ponsel dan juga bunyi alarm bersahutan terdengar nyaring, namun seorang manusia yang ada di dalam ruangan itu sama sekali tak terusik.

Semakin lama ponsel itu semakin menggila, akhirnya membuat sang pemilik ponsel kesal lalu meraih ponsel yang tergeletak di nakas dan mengambilnya. Dengan kesal Fayola mematikan panggilan dari temannya."Masih pagi juga, nelpon nelpon, gak tau orang masih ngantuk apa."

Lalu tak lama ponsel nya berbunyi kembali, akhirnya Fayola memilih untuk mengangkat telfon yang sedari tadi mengganggunya. Gadis itu meraba raba tempat tidurnya mencari ponsel tanpa membuka matanya. Setelah menemukan ponselnya ia langsung menempelkan handphonenya ke telinga.

"Apaan?"

"Fe, lo gak sekolah? Ini udah jam tujuh abis ini gerbang ditutup."tanya Lita dengan penuh kekhawatiran didalam suaranya.

Mata Fayola langsung melek kemudian ia melempar ponselnya asal, melompat dari kasurnya dan menuju kamar mandi.

Tak butuh waktu lama untuk mandi dan memakai seragamnya, kegiatan yang biasa ia lakukan dua jam bisa ia selesaikan dalam lima belas menit. Setelah selesai bersiap siap ia turun ke bawah dan menyetir mobilnya seperti orang kesetanan menuju ke sekolah.

Setelah sampai disekolah ia melihat gerbang sudah ditutup, tinggal gerbang kecil yang hanya cukup untuk pejalan kaki.

Ia memutar balik mobilnya, ia memakirkan mobilnya di depan cafe terdekat dari sekolahnya. Ia berlari masuk gerbang, ia menghela nafas tidak ada OSIS yang berjaga, ia mengelus dadanya bersyukur karena tuhan masih menyayanginya.

"HEI KAMU."

Langkah Fayola terhenti, ia memejamkan matanya."Mampus! Baru aja gue bersyukur karna gak ada OSIS jaga."Perlahan Fayola memutar badannya dengan disertai senyum kikuknya.

"Eh bu Ema, pagi yang sangat cerah ya bu. Oh ya saya mau curhat deh bu, orang tua saya gak ada dirumah mereka keluar kota dari kemarin sore jadi gak ada yang bangunin saya dan alhasil saya telat deh."

Bu Ema memegang dadanya seraya menatap iba ke arah Fayola."Cerita karangan yang sangat menyayat hati, tapi saya tidak menerima alasan, sekarang kamu keliling lapangan Lima kali baru kamu boleh menuju kelas."

"Aduh bu banyak banget sih? Lapangan ini luas banget lho bu."Fayola mencoba menego guru BK yang terkenal killer ini. 

"Karna kamu mengeluh, keliling sepuluh kali. Mengeluh lagi saya tambah, cepat laksanakan!"Bu Ema memukul tongkat kayunya ke tiang bendera yang menimbulkan suara gema yang sangat merdu.

Akhirnya Fayola pun menuruti perintah bu Ema daripada hukumannya terus terusan ditambah karena ia protes tidak terima."Itung itung nyenengin guru pagi pagi, dapet pahala fe semangat."

Dengan keringat bercucuran fayola tetap melaksanakan hukumanya.

Namun saat putaran sudah menginjak angka enam ia merasa ada yang mengalir dari hidungnya. Fayola memperlambat larinya, Ia menyentuh hidungnya. Ternyata benar ada darah yang mengalir, ia berlari menuju toilet dan membersihkan darah tersebut.

"Kenapa gue mimisan?"gumam Fayola.

Fayola tak mau berpikir buruk, mungkin hanya kelelahan saja. Fayola pun kembali ke lapangan dan melanjutkan kegiatan berlarinya. Dan saat putaran terakhir ia merasa pusing dan tiba tiba semuanya gelap.

Bu Ema yang sedang mengawasi para murid terlambat itu langsung memanggil seorang laki laki yang sedang berkutat dengan buku poin siswa untuk membantu Fayola ke UKS.

Pria itu berdecak pelan saat membopong Fayola, namun tak urung laki laki itu menjaga Fayola sampai ia sadar. Fayola mengedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang