36 - Jogja

21 0 0
                                        

Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih enam jam dengan kereta, akhirnya mereka sampai di Jogja tepatnya di Kabupaten Sleman pada pukul delapan malam. Sesampai di stasiun mereka dijemput oleh sopir menggunakan mobil milik keluarga Devan. 

Keenam remaja itu takjub melihat keramaian kota Jogja di malam hari, perjalanan mereka diiringi dengan suara kaki kuda dan juga pengamen pengamen di pinggir jalan. Mereka sangat menikmati perjalanan.

Perjalanan dari stasiun ke rumah saudara Devan menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Ketika sudah sampai di rumah milik saudara Devan, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya dengan kemeja formal dan juga seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun dengan dress bunga selututnya di depan teras rumah.

"Halo pakdhe, apa kabar?"sapa Devan seraya menyalami tangan pakdhe-nya.

Pakdhe Ario tersenyum seraya mengelus kepala Devan."Alhamdulillah baik seperti yang kamu lihat dev, selamat datang kembali di Jogja."

"Teman teman, kenalin ini pakdhe Ario dan yang disebelahnya itu budhe Ayu."ucap Devan seraya menunjuk pakdhe dan budhe-nya menggunakan jari jempol. Lalu teman teman Devan menyalami tangan Pakdhe Ario dan Budhe Ayu secara bergantian. 

"Kamu Fandy bukan?"

"Iya pakdhe, ternyata pakdhe masih ingat sama saya."

Dulu sewaktu SMP, Fandy pernah ikut papanya untuk bertemu klien sekalian liburan keluarga. Namun sialnya Fandy malah kesasar dengan motor Vespanya, ia menelfon Devan karena ia teringat bahwa Devan pernah bercerita bahwa dia punya saudara di Jogja. Devan pun menelfon pakdhe Ario untuk meminta bantuan.

"Sudah besar ya kamu sekarang, kalau dulu pakdhe tanya ke kamu sudah sunat belum, nah kalau sekarang pertanyaannya jadi sudah punya pacar belum?"tanya pakdhe Ario seraya tertawa, memang pakdhe Ario ini adalah orang yang humoris.

"Sudah dong pakdhe, cewek cantik disana itu pacar aku."ucap Fandy seraya menunjuk Fayola yang hanya tersenyum canggung di tempatnya.

"Emang selera kamu gak main main, beneran cantik ya."

"Terimakasih pakdhe."

"Ayo kita masuk anak anak, kita ngobrol di dalam. Budhe sudah siapkan makan malam untuk kalian, biar kalian cepat istirahat pasti capek banget perjalanan di kereta."ucap budhe Ayu dengan suara lembutnya.

"Iya budhe."

Keenam Remaja itu membawa kopernya masuk ke dalam vila yang ada di belakang rumah pakdhe Ario, rumah dan vila hanya dipisahkan oleh halaman rerumputan yang terdapat kolam ikan serta bangku bangku yang terbuat dari kayu. Mereka cukup takjub dengan vila milik pakdhe Ario, meskipun dengan interior kayu tapi designya tetap modern. Dengan beragam furniture yang terpajang di dinding dan setiap sudut menambah kesan aesthetic, bahkan Fayola dan Lita sudah memotret beberapa sudut menggunakan kamera yang dibawa oleh Lita.

Vila pakdhe Ario yang mereka tempati memiliki tiga kamar tidur, namun mereka hanya menggunakan dua kamar karena masing masing kamar memiliki ruangan yang cukup luas. Dari jendela kamar mereka bisa melihat pemandangan sawah secara langsung, bahkan kalau kurang puas memandang dari jendela, mereka bisa keluar karena kamar itu juga dilengkapi dengan balkon.

Setelah puas mereview singkat kamar dan menaruh barang bawaan, mereka berkumpul di rumah pakdhe Ario untuk makan malam. Di meja makan sudah ada makanan yang menggugah selera, mulai dari ikan, sayur, telur, dan beberapa makanan lainnya. 

"Ini apa budhe?"tanya Rian menunjuk telur yang direbus, tahu, dan tempe yang berwarna sedikit kecoklatan.

"Itu namanya bacem, rasanya manis. Kamu mau?"tawar budhe Ayu.

Dear, FayolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang