58 - Crossroads

5.2K 180 0
                                        

Di sebuah gudang tua yang cukup jauh dari pusat kota, seorang gadis dengan pakaian serba hitam turun dari mobil dan memasuki gedung tersebut dengan tergesa gesa menghampiri seorang pria tua yang kini sedang menyesap rokok di kursi kebesarannya.

"Pi, keberadaan kita mulai terancam!"ucap gadis itu seraya menggebrak meja, yang membuat pria yang ia temui itu memutar kursinya.

"Ada apa?"

"Nenek tua itu tau siapa aku, dan apa hubunganku dengan papi. Sampai sekarang Fayola masih belum ditemukan, dan posisi kita semakin tercekik seperti ini, kita harus apa?"

Pria paruh baya itu melempar putung rokoknya yang tinggal sedikit itu ke asbak kayu, raut wajahnya sedikit menegang. "Bagaimana bisa Elara mengetahuinya?"gumam Artezi entah melemparkan pertanyaan itu untuk siapa.

Amora menyilangkan tangan di depan dada seraya berjalan bolak balik dengan ritme pelan. "Apakah mungkin kehilangan Fayola ada kaitannya dengan nenek tua itu?"

Artezi menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, meskipun Elara dari keluarga berada tapi dia tidak sehebat itu untuk menyembunyikan seseorang yang bahkan kita tidak bisa melacaknya."

"Lalu kita harus apa pi?! Kita tidak bisa terus terusan seperti ini!"Teriak Amora frustasi, gadis itu kembali menggebrak meja seraya menatap papinya dengan penuh amarah. "Fayola harus segera ditemukan untuk memastikan apakah gadis sialan itu sudah lenyap atau belum."

Dengan memutar pelan gelas berisi anggur, Artezi memikirkan cara yang bisa mereka lakukan untuk menemukan Fayola. Di depannya Amora mendudukkan dirinya di sofa seraya memijat kepalanya.

Senyuman seringai terbit dari mulut Artezi. "Kita lenyapkan saja Resya, dengan begitu Fayola akan muncul dengan sendirinya. Harusnya dia datang kalau masih mempunyai hati nurani."

Amora mengernyitkan dahinya, apakah papinya ini ingin bunuh diri dengan menyerang Resya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit yang cukup ternama. "Gadis lemah itu ada di rumah sakit dengan penjagaan ketat, bagaimana bisa kita membunuhnya?"

"Siapa bilang kita akan membunuhnya disana, kita bawa kabur."Jawab Artezi yakin yang membuat putrinya itu ikut menyunggingkan seringaiannya.

"The stage is set for you, Fayola."

Sedangkan gadis yang sedang dibicarakan tengah berdiam diri di kamar, ucapan Madona kemarin masih menghantuinya. Ponselnya dari tadi bergetar di nakas, namun itu tidak menyadarkan lamunan gadis yang sedang menatap arah luar jendela kamar. Bahkan ketukan pintu dari luar kamar juga tak ia hiraukan sampai Madona memilih masuk dan menepuk pundak Fayola.

"Eh neda, kenapa?"

"Kamu ini ngapain? Daritadi neda ketok pintu gak dibukain, itu dibawah ada Miko sama Firga yang lagi protes kamu gak angkat angkat telfon mereka. Katanya mau main sebelum nanti sore Miko pulang ke Jakarta."jelas Madona.

Fayola menepuk dahinya, apa yang ada di pikirannya hingga ia melupakan janji untuk bermain bersama Miko dan Firga. Dengan cepat gadis itu bergegas mandi, jika biasanya perlu waktu sekitar setengah jam, kini Fayola sudah keluar dari kamar mandi dengan kimono nya hanya dalam waktu lima menit.

Kini gadis itu berdiri di depan lemari bajunya kebingungan memilih baju yang akan ia gunakan hari ini untuk pergi. Sejak kapan ia mengacak acak lemarinya hanya untuk dilihat oleh Firga? Fayola membanting tubuhnya ke kasur seraya menutupi wajahnya.

Setelah memberantakan kamarnya seperti kapal pecah akhirnya pilihan Fayola jatuh pada kaos croptop lengan panjang warna putih dan juga celana cream pendek. Gadis itu ingin sekali menertawakan dirinya sendiri karena menghabiskan waktu hampir satu jam nya hanya untuk outfit se simple ini.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang