50 - Tragedy

3.2K 149 8
                                        

Dua minggu telah berlalu, Fayola menjalani kehidupan barunya dengan tenang. Sampai saat ini dia masih menutup komunikasi dengan keluarganya, dia benar benar menepati janjinya untuk hidup dengan perjuangannya sendiri meskipun belum sepenuhnya karena orang orang terdekatnya sangat keras kepala dengan terus membantunya.

Pagi hari ia akan berangkat ke resto untuk homeschooling dengan dijemput oleh bu Ema, lalu pulang sekolah Lita, Rian, dan Miko pasti akan datang menghampirinya ke apartemen bahkan beberapa kali Lita juga memilih menginap. Tapi dua hari ini Lita dan Rian absen mengunjunginya karena mereka sedang ke rumah nenek dari Rian yang ada di Sidney Australia untuk merayakan ulangtahun neneknya sekaligus liburan disana selama seminggu. 

Sedangkan Maura setiap hari mengiriminya pesan untuk sekedar mempertanyakan kabar dan juga apa yang Fayola butuhkan, bahkan dua hari sekali wanita paruh baya itu menyuruh seorang asisten rumah tangganya untuk membersihkan apartemen Fayola dan mengisi bahan makanan di kulkas.

Kini Fayola sedang meluruskan kakinya diatas sofa sembari menonton film dari televisi dengan ditemani kripik singkong dan juga minuman dingin. Tiba tiba ponsel di sebelahnya berbunyi menandakan sebuh telfon masuk dari nomor yang tidak dikenal, awalnya Fayola abaikan namun lama kelamaan suara telfon itu cukup menganggu akhirnya Fayola mengangkatnya.

"Fe, tol--long kakak."

Keripik kentang di tangannya lolos begitu saja, kemudian Fayola menegakkan badannya. Ia kenal dengan suara itu, tidak salah lagi itu suara Resya. 

"Kakak lagi dimana? Kakak kenapa kaya kesakitan gitu."

"Kam--mu pulang sek-arang fe, kakak ud-udah gak kuat."

Kemudian telfon dimatikan sepihak oleh Resya, Fayola tidak berbohong kalau dia masih mempunyai rasa khawatir pada Resya. Dengan cepat Fayola bergegas untuk memesan ojek online untuk pulang ke rumah Pahlevi. 

Sesampainya disana rumah itu terlihat gelap dan sepi, seperti tidak ada tanda tanda kehidupan disana. Fayola membuka pelan pintu rumah lalu menggunakan ponselnya sebagai alat penerang, ia menaiki tangga lantai dua seraya memanggil nama Resya. 

Suara lemah Resya membuat Fayola berlari menuju kamar Resya dan betapa terkejutnya ia melihat Resya yang sudah terbaring diatas lantai dengan pisau yang menancap di perut gadis itu. Fayola duduk bersimpuh di sebelah kepala Resya seraya menangis. 

"Kak, tahan bentar ya kita ke rumah sakit."

Resya terbatuk batuk hingga darahnya mengenai wajah Fayola. "Maaf--fin kakak fe, gak-kk kuat."

Setelahnya Resya tak sadarkan diri, dengan tangan bergetar Fayola mencabut pisau dari perut Resya seraya menangis dan berteriak. Melihat darah yang bercucuran membuat traumanya kambuh. Fayola berusaha untuk mempertahankan kesadarannya untuk meraih ponsel milik Resya dan mendial nomor Devan yang Resya letakkan di nomor darurat karena Fayola tidak tau password hp Resya. Tidak butuh waktu lama, suara laki laki itu terdengar.

"Kak Devan."panggil Fayola lirih, ia tak kuasa menahan tangisannya melihat kondisi Resya dan juga rasa traumanya yang semakin parah. 

"Fayola? Lo kenapa fe, ada apa?"tanya Devan dengan khawatir.

"Ada yang berusaha bunuh kak Resya kak, aku bingung aku gak tau, aku takut sama darah, aku takut kak. TOLONG KAK TOLONG AKU."genggaman tangan Fayola pada ponsel milik Resya terlepas, ia menutupi telinga dan menjambak rambutnya. 

"Fe, dengerin gue lo jangan panik, sekarang panggil orang keluar buat minta tolong gue bakal hubungin ambulance untuk kesana."perintah Devan, Fayola masih dapat mendengarnya karena ia tadi menyalakan loudspeaker.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang