"Americano nya satu ya mas, sama minta air putih dingin."
Setelah pesanannya selesai dibuat, Devan naik ke lantai dua cafe tersebut tepatnya dibagian rooftop untu menikmati udara pagi di hari liburnya. Ia baru saja selesai berlari mengelilingi taman kota lalu sekarang ia mencari kopi di cafe yang ada di sekitaran taman kota.
Ia mengelap keringatnya menggunakan handuk lalu merogoh saku untuk mengambil ponsel. Tatapan laki laki itu tertuju pada notifikasi teratasnya yang menampilkan banyak panggilan tak terjawab dari Fandy, tanpa berlama lama Devan mendial nomor Fandy dan tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat oleh Fandy.
"Halo?"
Suara Fandy yang kesal langsung menyahut sapaan Devan."Lo dimana sih? Gue pagi pagi nyamper lo ke rumah tapi lo nya gak ada. Gue lagi butuh bantuan lo, ini urgent tau gak."
"Se urgent apa sih?"
"Hari ini one week anniversary gue sama Fayola, gue mau kasih dia hadiah nah tapi gue gak tau mau ngasih apaan. Buntu otak gue kalo masalah ginian, menurut lo gue harus kasih dia apa?"
Devan memijat kepalanya, tak habis fikir dengan Fandy."Jadi ini yang kata lo urgent? Nyesel banget gue buru buru ngangkat telfon lo anjir."
"Eh eh jangan dimatiin, kasih jalan keluar buat gue dulu."
Devan geram sendiri."Gue gak tau Fandy, gue gak pernah pacaran, gue gak pernah ngerayain apa tadi one week anniversary? Setau gue kan perayaan itu pas satu tahun ya, ini kenapa baru seminggu lo udah heboh kaya gini sih."
"Ya karena Fayola itu spesial, gue sayang banget sama dia. Huhu gimana ini gue udah kangen aja sama dia sekarang, oh pac---"
Tak mau lebih lama mendengar ucapan Fandy yang menjijikkan, Devan memutus sepihak panggilan itu kemudian mematikan ponselnya agar Fandy tidak dapat menganggu nya. Devan menyeruput kopi americanonya kemudian memilih untuk membaca buku komik yang sengaja ia bawa didalam tasnya.
"Hai kak Devan kita ketemu lagi."sapa seseorang dengan senyuman merekah serta tangan yang melambai.
Devan lagi lagi memijat kepalanya, baru saja dia menyingkirkan satu orang yang menganggu ketenangan pagi nya, dan sekarang datang lagi satu orang. Namun tak urung Devan mempersilahkan Lita untuk duduk.
"Kebetulan banget ya kak kita ketemu disini, aku baru aja lari di taman kota, kalau kakak darimana?"tanya Lita.
Devan menutup komiknya lalu meletakkannya diatas meja, kemudian pria itu duduk menyenderkan punggungnya ke kursi seraya bersendekap dada.
"Sebenernya tujuan lo apa? Gue gak yakin kalau ini sebuah kebetulan, masa kebetulan setiap hari."
Lita tersenyum kikuk rupanya dirinya terciduk kalau dia diam diam menguntit Devan kemanapun pria itu pergi. "Aku suka aja ngobrol sama kakak, dari awal aku ngeliat kakak aku jatuh suka pada pandangan pertama dan aku nobatin kak Devan sebagai Boy Crush aku karena pengetahuan kakak, cara kakak ngomong, sifat kakak, pokoknya yang ada di diri kakak aku suka."
"Thank you gue anggep itu pujian, tapi gue harap lo gak berharap apa apa dari gue, karena bukan lo aja tapi gue juga punya Girl Crush."
Diluar dugaan Devan, ia kira Lita akan sedih mendengar ucapannya tapi rupanya dugaannya salah besar, gadis itu malah berbinar binar.
"Oh ya? Ih lucu banget pasti cantik, lucu, dan berwawasan luas. Tenang kak, aku akan dukung kakak seratus persen. Nanti aku akan jadi Shipper kalian garis keras, kalau kakak butuh tips and trick buat gombalin atau modus ke Girl Crush kakak, kakak bilang aja ke aku nanti aku pasti bantu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
