Fayola mengangkat tangannya izin ke kamar mandi karena sudah tidak tahan. Ia pergi sendirian karena Lita masih belum kembali ke kelas sejak tadi pagi, entahlah dia diberi hukuman apa oleh bu Ema.
Setelah menyelesaikan urusan perutnya, Fayola berniat langsung kembali ke kelas. Namun saat ia akan keluar, ia berpapasan dengan siswi yang akan masuk toilet, dan sialnya ketiga murid itu sudah menyunggingkan senyum iblisnya.
"Kebetulan banget nih."ucap salah satu gadis diantara mereka, Fayola melirik nametag tersebut. Tertera nana beserta kelas yang ia ketahui bernama Raya dari kelas yang sama dengan Devan.
Tanpa basa basi gadis yang bernama raya itu mendorong badan Fayola hingga punggungnya menyentuh dinding. Jelas Fayola tidak diam saja, gadis itu tidak selemah itu. Namun karena Raya memiliki badan yang sedikit berisi dan juga dibantu oleh kedua temannya, Fayola tidak bisa bergerak.
"Lo ada masalah apa sih sama gue?"
"Lo itu utas, tapi udah sok jagoan banget gue liat liat. Waktu itu melintir tangan adek gue, terus kemarin nampar si artis itu. Dasar kriminal!"
Tangan Fayola yang bebas itu langsung mendorong balik Raya."Lo yang kriminal, kita gak ada urusan tapi tiba tiba lo nyerang gue. Mana ramean lagi, dasar mental patungan."
"Keparat!"teriak Raya lalu dua teman Raya menjambak rambut Fayola sampai badannya mendongak ke atas.
Tangan Fayola ia gunakan untuk mencengkeram lengan Raya yang ada di depannya, semakin kuat tarikan di rambutnya maka Fayola semakin dalam menancapkan kuku nya di lengan Raya.
Pertengkaran itu tak bisa di elak, selama tiga menit masih terus berlangsung suara teriakan bersahutan dengan suara teriakan yang lain. Sampai pintu toilet terbuka dan menampilkan Devan yang datang bersama Clarisa.
"Lepas!"
Keempat gadis itu berhenti lalu menjauh satu sama lain. Clarisa langsung berlari menghampiri Fayola yang memegangi kepalanya.
"Kalin bertiga ke ruang BK sekarang!"
"Dia enggak? Dia juga nyerang gue ya Devan."
"Dia cuma melindungi diri, kalau lo gak nyerang dia gak bakal ngelawan lo Raya. Gue punya rekaman suaranya, kalau lo coba coba ngelak gue bisa jadi saksi."ucap Clarisa, tadi dirinya memang akan ke toilet dan saat mendengar adanya sebuah pertengkaran Clarisa dengan otak cerdasnya itu langsung mengeluarkan ponselnya untuk merekam bukti, disaat kondisi sudah mulai tidak kondusif ia berlari menghampiri Devan karena kalau dia masuk begitu saja dan membantu Fayola pasti dia akan dituduh terlibat.
Mau tak mau Raya dan kedua temannya berjalan ke ruang BK mengikuti Devan. Sedangkan Clarisa masih menemani Fayola di dalam, kepala gadis itu terasa sangat pusing akibat jambakan kedua teman Raya.
Tiba tiba Fayola pingsan, Clarisa kelabakan bukan main. Ia berteriak, menunggu pertolongan dari luar karena pahanya ia gunakan sebagai bantalan kepala Fayola.
Tak lama masuklah seorang siswa yang merupakan anggota OSIS juga, saat melintasi koridor ia mendengar suara teriakan perempuan yang dikenalnya.
Diruang BK, Lita yang sedang menjalankan hukuman menulis kalimat 'SAYA TIDAK AKAN MENGULANGI LAGI' sebanyak seribu baris itu langsung berbinar melihat Devan yang masuk ke ruang BK. Bahkan Lita masih sempat sempatnya menyapa Devan dengan senyum sumringahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Fiksi RemajaMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
