32 - Disparity

3K 121 0
                                        

Seorang gadis dengan kacamata hitamnya sedang menyeruput Milkshake Strawberry seraya mengawasi seorang gadis dan pria yang ada di sebrang dari balik kacamata hitam miliknya. Tak hanya mata, namun telinga yang tersumpal earphone tanpa musik itu juga sedang mempertajam pendengarannya mendengarkan obrolan mereka.

Melihat sang laki laki mulai emosi dan memukul meja, gadis itu berdiri membereskan semua barangnya kemudian menghampiri meja dua remaja yang sedari tadi ia awasi. Dengan cepat Gadis itu menampar pipi sang pria sehingga seluruh perhatian tertuju pada mereka bertiga.

"Lo gak pantes buat marah marah ke temen gue. Gue tau, lo emosi karena dia gak bisa lo porotin lagi kan sekarang? Dasar cowok mokondo."Setelah mengatakan kalimat itu, gadis itu menarik tangan temannya keluar dari cafe.

Fayola menghentikkan langkahnya saat menoleh ke arah Lita yang masih setia melihat ke belakang."Kenapa masih liat liat cowok gak modal itu? Lo gak rela putus sama dia?"

"Fe, gue-"

"Halah gak usah ngeles, kalau dari awal lo masih mau pertahanin hubungan lo sama cowok kardus itu, ya gak usah lah lo ajak ajak gue segala. Lo inget kan kenapa gue ada disini sama lo sekarang?"

Pagi tadi Lita bercerita kalau ia disuruh papanya untuk memutuskan hubungan dengan William, meskipun belum bisa disebut pacar karena selama ini hubungannya dan William masih abu abu.  Akhirnya mau tak mau Lita bercerita pada Fayola siapa William dan juga perintah papanya, Lita sendiri tak yakin akan memutuskan hubungan dengan William jadilah dia mengajak Fayola agar gadis itu bisa meyakinkan keputusannya untuk memutuskan William, apalagi dengan mulut pedas Fayola yang tak pernah gagal membuat Lita merasa di roasting.

"Tapi dia kasihan fe, dia gak bisa hidup tanpa gue."

"Najis banget, gue tegesin ya dia bukan gak bisa hidup tanpa lo, tapi dia gak bisa hidup tanpa duit lo."

Fayola memegang pundak Lita."Lo itu cantik, kaya, otak juga gak oon oon banget. Lo bisa dapet yang lebih dari cowok modal janji doang, apalagi sekarang lo udah ada Rian."

Lita memutar bola matanya malas, kenapa Fayola harus menyinggung Rian lagi. Entah mengapa kini Lita semakin kesal melihat wajah Rian, bahkan tadi pagi tanpa alasan Lita memasang wajah jijiknya ketika melihat Rian yang sedang duduk mengerjakan pr di bangkunya.

Suara klakson mobil mengagetkan mereka berdua yang kebetulan memang sedang di pinggir jalan, tak lama keluarlah seorang laki laki yang sukses membuat Lita naik darah.

"Lo ngapain disini monyet?"

"Mau jemput kalian dong."

"Lo kok bisa tau kita disini, bahkan kita aja belum sharelock ke sopir Lita."gantian Fayola yang bertanya.

"Tadi gue ditelfon om Ares tanya kalian lagi dimana, karena gue gak tau gue telfon lah pacar lo dan kata kak Fandy kalian lagi disini. Sekarang gue anter kalian pulang, tadi kak Fandy nitip pesen kalau gue suruh nganter lo ke rumah kak Fandy, dia udah izin nyokap bokap lo. Hp lo mati kan?"

Fayola mengangguk, dirinya lupa membawa charger dan tidak memungkinkan kalau dia meminjam pada Lita yang tadi sedang berbincang bincang.

"Yaudah tunggu apalagi? Ayo."

Fayola berlari memasuki kursi belakang lalu menguncinya dari dalam agar Lita tidak bisa masuk. Gadis itu menjulurkan lidahnya menggoda Lita, ia melakukan itu agar sahabatnya itu mau duduk di depan, kasian kalau mereka duduk di belakang Rian akan seperti sopir pribadi mereka.

Dengan wajah tak bersahabat, Lita akhirnya duduk di samping kursi kemudi. Ia bersendekap dada di bangku, Lalu tiba tiba Rian mendekat ke arahnya dan memasangkan sealt belt untuk Lita. Fayola di belakang tersenyum gemas, bahkan ia mengigit jarinya.

Dear, FayolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang