Matahari telah menunjukkan sinarnya. Meski sudah memancar terik, nyatanya masih tidak mampu mengusik kenyamanan tidur seorang gadis dengan nama Fayola. Ketika wajahnya mulai merasakan kehangatan, bukannya bangun gadis itu malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Suara ketukan pintu dari luar pun terdengar, diiringi dengan teriak teriakan dari Friska karena Fayola mengunci pintunya. Gadis itu benar benar tak membiarkan siapapun mengganggu tidurnya di senin pagi yang sangat cerah ini. Di bawah alam setengah sadarnya ia berfikiran untuk membolos sekolah saja, ia ingin menghabiskan waktu untuk bermalas malasan di kamar.
"FAYOLA, KAMU PILIH BANGUN ATAU MAMA POTONG UANG JAJAN KAMU."
Mendengar siluet suara tersebut, mata Fayola langsung melek. Rasa kantuk dan malasnya tiba tiba lenyap entah kemana. Segera ia bergegas ke arah pintu dan membukakan pintu untuk mamanya.
"Apasih mama, gak ada hubungan orang tidur sama potong uang jajan ya. Aku udah bangun."
Fayola pun mulai menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Fayola turun ke meja makan dengan ogah ogahan, dipundaknya tersampir almameter sekolahnya karena hari ini upacara. Sesampai meja makanpun kepalanya ia sandarkan ke meja, dan dirinya disuapi oleh Resya.
"Kamu habis ngapain sih kok kayanya capek banget?"tanya Pahlevi yang baru saja turun dengan setelan kantornya.
"Harusnya yang capek itu aku pa, bukan Fayola. Dia kemarin ngide bikin kue tapi bantet semua. Mana dapur gak diberesin lagi, wadah wadah gak dicuci."protes Friska, awalnya ia senang Fayola mau belajar membuat kue setelah belajar bersama Maura tapi setelah mencoba tiga kali gagal dan membuat dapurnya berantakan jelas Friska mengamuk.
Pahlevi tertawa kemudian mengelus kepala anak gadisnya."Udah gakpapa namanya juga belajar, yang penting Fayola udah mencoba dan jangan kapok ya."
Tak lama terdengar suara seorang laki laki yang memenuhi ruangan rumah Pahlevi."Pagi semuanya, calon mantu kesayangan om dan tante datang menjemput tuan putri."
"Pagi fan, sini gabung sarapan. Liat tuh pacar kamu lagi lemes karena seharian bikin kue bantet hahaha."
"Papa ih."
Fandy tertawa kecil kemudian mengelus rambut Fayola."Pantesan chat aku gak dibales, ternyata lagi sibuk jadi baker."
"Fan kamu bawa mobil? Aku mau sekalian bareng kalian boleh?"tanya Resya
"Gue kebetulan bawa motor hari ini soalnya kalau hari senin suka macet dan ada upacara jadi takut telat. Sorry gak bisa nebengin lo."jawab Fandy sedikit tidak enak menolak permintaan Resya di depan Pahlevi dan Friska.
"Gapapa res kamu nanti biar dianter pak amin naik motor juga ya biar gak telat, papa bawa mobil sendiri gapapa."ucap Pahlevi menengahi.
"Yaudah ayo berangkat sayang."
Fandy menarik tangan Fayola pelan, kemudian menyalami tangan Friska dan Pahlevi. Kemudian mereka berdua menuju sekolah dengan Fayola yang bersandar di pundak Fandy.
"Pagi Couple goals."sapa Lita yang kebetulan bertemu dengan Fayola dan Fandy di parkiran. Lita celingak celinguk ke sekeliling kemudian bernafas lega. "Nah gini kan enak gak ada virus yang ngintilin kalian."
"Heh gak boleh gitu Lita."
"Biarin, ayo ke kelas gue belum ngerjain pr matematika."
Lita pun menarik tangan Fayola ke kelas dengan berlari karena waktu mereka sangat singkat sebelum upacara, diikuti Fandy di belakang mereka yang ikut ikutan berlari seraya menenteng tas Fayola.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
