"Oke Fayola, kita analisa dulu kerjaan lo di hari ketiga saat jadi babu gue. Hari ini lo cukup buat kesalahan ya."
"Kesalahan pertama lo beliin gue mi ayam tapi pake saos."
"Kedua lo tadi ngomong nge gas ke gue."
"Ketiga lo juga buat sepatu gue basah."
"Keempat lo utang sama gue karena kecerobohan lo ya."
"Oke sekarang gue mau pulang dan lo gak boleh pulang sebelum gue bener bener menghilang ya."
Fayola mengelus dadanya, seolah memberikan semangat untuk dirinya sendiri. "Astaghfirullah, ni orang makin hari akhlak minusnya makin nambah."
Jadi setiap pulang sekolah Fandy meminta Fayola untuk bertemu di bawah pohon besar yang ada di samping parkiran untuk mengevaluasi pekerjaan Fayola.
Kesalahan kecil yang Fayola buat selalu di besar besarkan ole Fandy, kemarin Fayola di evaluasi karena memesankan es teh tapi es batu nya cuma ada dua sedangkan Fandy meminta es batunya harus lima. Tidak hanya itu Fayola juga disuruh membelikan donat yang mesesnya berjumlah ganjil.
Dan hari ini Fandy menyuruh Fayola membeli mi ayam, waktu mi ayamnya datang Fayola kena semprot lagi karena Fandy hanya bisa memakan mi ayam dengan kecap dan juga tiga sendok sambal.
Lalu masalah sepatu basah, tadi sewaktu istirahat Fayola meminta izin ke Fandy untuk mencuci tangan di wastafel depan kelasnya karena habis praktek salah satu mapel, lalu cipratan air Fayola terkena sepatu milik Fandy hanya sedikit, catat hanya sedikit hanya sekecil biji ketumbar.
"Ribet banget tau gak sih, kalo lo kaya gini mana ada juga cewek yang mau sama lo."
Mendengar ucapan meremehkan dari Fayola, Fandy tak terima.
"Ada lah, lo aja yang gak tau. Semua cewek di sekolah ini antri antri buat jadi cewek gue, tapi sayang gue gak selera sama mereka semua karena terlalu gampang di dapetin."
Sebelum menuju parkiran, pria itu menyempatkan mengelus elus rambut Fayola namun sedetik kemudian menjitaknya.
"Jangan lupa besok dipersiapkan fisik dan mentalnya ya, jadi babu seorang Fandy harus sigap kapanpun dan dimanapun."
Setelah mobil Fandy keluar dari gerbang, Fayola menuju halte terdekat untuk menunggu bis nya datang.
Tak butuh waktu lama akhirnya bis yang ditunggu tunggu datang juga, untung sore itu kondisi tidak terlalu ramai jadi gadis itu masih bisa duduk di kursi.
Suasana bis sore hari selalu sukses menenangkan, menikmati angin sore yang masuk dari jendela membuat mood nya yang seharian ini sedikit berantakan akibat Fandy dan juga tugas MOS nya, menjadi jauh lebih baik.
Saat Fayola membuka pintu rumahnya, bau masakan langsung menyeruak ke dalam indra penciumannya. Ia menuju ke dapur menghampiri mamanya yang sedang berkutat dengan layar handphone juga alat masaknya.
"Hai ma, mama masak apa sih? Baunya kecium sampai luar."tanya Fayola seraya mengendus ke masakan mamanya.
"Mama masak kari ayam nih. Eits tapi gak boleh pegang, kamu ganti baju sama cuci tangan dulu kalo mau makan."peringat sang mama.
"Gak ah nanti aja, fe belom laper kok ma. Udah kenyang tadi sebelum pulang beli siomay"
"Yaudah terserah kamu, oh ya gimana sekolah kamu, lancar kan?"tanya sang mama.
Fayola mendudukkan diri ke kursi makan, ia melonggarkan dasi dan menyenderkan tubuhnya.
"Alhamdulillah ma, akhirnya MOS nya udah berakhir. Jadi besok tinggal pemilihan kelas deh."jawab Fayola.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
