Keesokan harinya, Fayola berdiam diri di dalam kamar tamu milik Devan. Kemarin malam laki laki itu membawanya ke rumahnya karena khawatir dengan Fayola terlebih setelah percekcokannya dengan kedua orang tua gadis tersebut. Kini Fayola duduk di jendela pembatas kamar dan balkon, ia menyenderkan badannya seraya menggigiti kukunya.
Pintu kamar diketuk, lalu tak lama masuklah mama Devan yang membawakan segelas susu untuk Fayola. Setelah meletakkan gelas susu di nakas, mama Devan menghampiri Fayola seraya mengelus rambut gadis itu.
"It's okey fe, semuanya pasti baik baik saja."
"Kenapa kalian percaya kalau bukan aku yang nusuk kak Resya? Kenapa orang tua aku malah gak percaya sama aku?"tanya Fayola dengan tatapan kosongnya.
Mama Devan memeluk Fayola dari samping. "Kepercayaan orang lain itu di luar kendali kamu fe, tapi kamu punya kontrol atas kelapangan hati untuk menerima semua itu."
"Sekarang kamu bersih bersih, Devan mau ngeliat kondisi Resya ke rumahsakit katanya mumpung orang tua kamu gak ada, kamu pasti juga pengen tau kan gimana kondisi Resya sekarang?"tanya Mama Devan yang dibalas anggukan oleh Fayola.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Devan dan Fayola hanya mendapati Amora yang sedang duduk sendirian memainkan ponsel di depan ruang ICU. Merasakan kehadiran seseorang, Amora mendongak memastikan siapa yang datang. Gadis itu terkejut saat mendapati Fayola sedang berdiri dengan wajah kacaunya.
"Lo ngapain kesini pembunuh?!"tanya Amora dengan nada tinggi, gadis itu hendak menyerang Fayola sebelum akhirnya Devan memasang badan menghalangi serangan Amora.
"Dia bukan pembunuh, memang seharusnya dia disini karena Resya adalah kakaknya. Jaga sikap lo anak angkat."ucap Devan datar seraya menghunus mata gadis di depannya dengan tatapan tajam.
Meskipun belum mengenal secara resmi, mendengar cerita gadis itu dari Fayola cukup membuatnya kesal, terlebih kekasihnya ikut terhasut akibat ucapan Amora yang penuh racun. Yang lebih mengecewakan, Resya tidak menceritakan apapun padanya dan asal ikut berpihak pada gadis ular itu.
Amora tidak terima dengan ucapan Devan. "Lo seharusnya gak bela dia kak, dia udah nusuk pacar lo sampai kak Resya kritis di dalam."
Devan yang kesal akhirnya menggenggam tangan Amora erat lalu menoleh ke belakang tepatnya ke Fayola yang tengah mencengkeram bajunya dengan kuat. "Fe, gue urus ini bocah rese' dulu, lo kalau mau liat Resya liat aja, kalau mau masuk bilang aja ke suster ya."Devan menyempatkan mengelus rambut Fayola sebelum akhirnya menarik Amora entah kemana.
Fayola perlahan berjalan mendekati jendela lingkaran kecil untuk melihat kondisi Resya di dalam, gadis itu menutup mulutnya tak bisa membendung air matanya lagi. Hatinya terpukul melihat Resya yang tak sadarkan diri di dalam sana, melihat wajah damai Resya membuat hatinya teriris.
Seharusnya ia tak lari sebagai pengecut, seharusnya dia tidak menyerah begitu cepat ketika Resya memilih tidak mempercayainya, seharusnya ia lebih menjaga Resya, pasti semua ini tidak akan terjadi. Resya itu gadis polos yang tidak mempunyai naluri atau firasat terhadap orang yang berniat jahat padanya, pikirannya terlalu naif untuk kehidupan yang kejam ini.
Saat Fayola sedang sibuk memandangi wajah dai kakaknya, tiba tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Meskipun orang itu memunggunginya, Fayola jelas tahu siapa dia. Bahkan Fayola juga sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, karena laki laki itu menariknya ke taman rumah sakit yang tidak begitu ramai karena tempatnya di belakang gedung.
Setelah sampai disana, Fandy langsung menghempaskan tangan Fayola dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Hening beberapa saat hanya ada adu pandang yang sama sama menyiratkan kekecewaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
टीन फिक्शनMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
