Seperti biasa saat bel pulang sekolah berbunyi Fandy menjemput Fayola di depan kelasnya untuk pulang bersama. Karena kelas Fayola memang sedang jamkos pada pelajaran terakhir jadi Fayola sudah stay di depan kelasnya bersama Lita.
"Hai sayang, ayo kita pulang."
"Loh kak Resya kok kesini juga, mau ikutan nebeng sama Fandy ya?"ucap Lita ketika melihat keberadaan Resya di belakang Fandy.
"Aku gak tau harus pulang naik apa, makanya aku ikut Fandy nyamperin Fayola."Resya menunduk takut ketika Lita menatapnya dengan sinis dan penuh selidik.
Fayola diam diam menyenggol lengan Lita, sangat pelan."Nanti kakak pulang sama pak Amin ya, aku udah telfon pak Amin, paling habis ini sampai. Aku mau keluar dulu sama Fandy. Maaf gak bisa barengin kakak soalnya Fandy bawa motor."
"Oh oke, nanti aku bilangin mama. Kalau gitu aku tunggu pak Amin di halte aja ya, kalian hati hati."Resya melambaikan tangannya kepada Fayola, Fandy, dan Lita sebelum akhirnya melangkah menuju halte depan sekolah.
Setelah Resya menjauh dari pandangan mereka Lita berdiri dengan wajah garang di depan Fandy."Kalau bisa tiap hari bawa motor aja fan, gak usah sok ganteng sok jadi pahlawan dengan bawa mobil. Ngerti?"
Fandy bingung, namun tak ayal dirinya hanya mengangguk angguk. Rupanya lebih baik seperti itu daripada dirinya harus terkena amukan dari Lita. Kejadian terakhir di kantin sudah membuatnya kapok dan berjanji tidak akan mencari masalah dengan teman pacarnya itu.
"Lita, itu cuma pikiran buruk lo doang kak Resya gak mungkin punya niat sejahat itu."ucap Fayola coba memberitahu sekali lagi teman sebangkunya itu agak tidak terlalu overthingking macam macam.
"Fe gue lagi gak mood buat bahas ini lagi ya, gue udah habis energi. Toh ini tuh sebuah langkah awal peribahasa sedia payung sebelum hujan. Udah ah gue mau balik, kalian juga sana balik."Lita pun langsung berlari karena melihat siluet seseorang, ia akan menjalankan sebuah misi.
Tujuan Fandy dan Fayola setelah pulang sekolah adalah ke mall untuk membeli dress dan kemeja yang akan mereka gunakan nanti untuk ke pesta ulang tahun saudara Fandy. Sejujurnya Fayola juga masih belum tau apakah saudara Fandy ini laki laki atau perempuan, usia berapa, untuk acara apa, sebab Fandy hanya menyampaikan kalau minta ditemani ke mall membeli hadiah untuk saudaranya pulang sekolah itupun lewat chat sewaktu jam pelajaran terakhir tadi.
"Sayang, bisa kasih aku detail acara yang mau kita datengin? Biar kita gak muter muter doang karena kamu bingung mau kemana."
Fandy menepuk jidatnya lalu tertawa, iya juga kenapa ia seperti orang bodoh tidak memberitahu Fayola. Pasti gadisnya itu punya banyak referensi, kan memang itu tujuannya mengajak Fayola dan lagipula Fandy selalu suka dengan selera Fayola.
"Oke sayang jadi kita mau pergi ke ulangtahun saudara aku yang paling nyebelin sejagat raya, namanya Arthur dia anak tunggal dari om aku tepatnya adiknya mama. Jadi Arthur itu anak yang pendiem, cool kalau kata keluarga besar kalau menurutku sih kaya wibu ya, terus dia tingginya se aku tapi tinggi aku dikit terus Arthur itu suka hm suka apa ya dia. Masalahnya aku gak tau dia suka apa."
"PS 5? Menurut kamu dia bakal suka gak?"
"NAH! Kok aku gak kepikiran ya, dia jago banget main PS dulu. Oke meluncur sayang."
Tanpa berlama lama mereka menuju store yang menjual playstation, lagi lagi Fandy menyerahkan pemilihan warna ke Fayola. Tugasnya nanti hanya membayar dan mentraktir Fayola sebagai imbalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
