Hari ini cukup melelahkan untuk Fayola, karena ada ulangan harian dua matkul dan juga kuis dadakan, belum lagi ia harus mengikuti rapat OSIS yang sudah menjadi rutinitasnya di hari rabu. Sekarang jam menunjukkan pukul lima sore, Fayola baru saja menyelesaikan rapatnya.
"Ayo."ajak Devan yang baru saja mengembalikkan kunci ke ruang guru, mereka pulang bersama lagi seperti biasanya.
Parkiran sudah terlihat di depan mata, namun Fayola tiba tiba teringat sesuatu. "Astaga kak, bentar bentar. Baju olahraga gue ketinggalan di loker!"Fayola berlari menuju kelasnya tanpa menunggu jawaban Devan.
Hari ini materi olahraganya adalah Lari, dan pasti bajunya itu sangat bau. Kalau tidak dibawa pulang sekarang, sudah dipastikan besok ruang kelasnya akan mendapat pengharum ruangan busuk yang berasal dari loker Fayola.
Saat ia mengambil bajunya dari loker, terdapat sesuatu yang terjatuh. Fayola pun mengambilnya dengan tatapan curiga, ia merasa tidak pernah menaruh sebuah amplop di dalam loker. Dengan cepat Fayola membuka isi amplop tersebut dan membaca isi surat yang ada di dalam amplop.
Dear, Fayola.
Di jalan yang berjalin langkah sibuk, ada sebuah irama yang tak terlihat. Bayang-bayang kegiatan menari di dinding, tapi di sana ada sebuah titik yang berdenyut.
Kata-kata seperti ombak yang datang dan pergi, membawa sesuatu yang tak terkatakan. Di balik lelah yang membungkus hari, ada sebuah benih yang menunggu tumbuh.
Di antara ritme yang cepat dan langkah yang lelah, ada sebuah keheningan yang membawa kekuatan. Ikuti jejak yang tak kasat mata,dan temukan napas di balik kesibukan.
Seseorang yang mengenali jejak langkahmu.
Fayola hanya bisa menganga, ia bingung sendiri di tempatnya. Ia berfikir kalau surat ini salah alamat namun nama yang tertulis di atas surat itu jelas namanya, dan tidak ada nama Fayola selain dirinya di sekolah ini. Seketika kepalanya penuh dengan pertanyaan siapa yang mengiriminya surat dan untuk apa?
Getaran ponsel di sakunya membuatnya tersadar, masuklah telfon dari Resya yang menanyakan keberadaannya. Fayola dengan cepat memasukkan seragam dan surat yang tidak diketahui pengirimnya kedalam tas lalu keluar kelas menuju parkiran untuk segera pulang karena hari sudah mulai gelap.
Sesampainya di kamar, ia membuka kembali surat yang ia temukan tadi. Fayola mencoba menyelami makna dari kata kata di surat itu, karena bahasa yang digunakan oleh sang penulis cukup membingungkan. Namun jujur saja Fayola takjub dengan pemilihan kata didalam surat ini, sangat menggambarkan anak sastra.
"Gue kasih tau Fandy gak ya? Nanti kalau gue kasih tau dia malah Overthinking, kalau gak dikasih tau nanti kesannya kaya gak jujur sama dia."
Akhirnya Fayola memilih untuk menelfon Fandy, tak butuh waktu lama panggilan video itu terangkat. Wajah Fandy yang segar sehabis mandi langsung muncul di layar, pria itu sedang tidur dengan posisi tengkurap di kasur.
"Halo sayang, kamu kangen aku ya?"
Fandy membuka obrolan itu dengan pertanyaan percaya dirinya, namun tak urung Fayola mengangguk pelan.
"Kamu habis mandi?"
"Iya nih, soalnya tadi pulang sekolah aku disuruh mama bantu beresin kebun belakang, jadi baru bisa mandi. Kamu belum mandi ya?"
"Iya nih masih nunggu keringat aku kering."
"Alasan kamu mah, bilang aja males. Nanti ujung ujungnya gak mandi lagi kayak biasanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Fiksi RemajaMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
