38 - Happy Holiday

15 1 0
                                        

Setelah pertengkaran singkat pagi tadi, kini Fayola dan Fandy sudah bergabung dengan para teman temannya yang sudah siap untuk berangkat menjelajahi destinasi wisata di Jogja. 

 Mereka berangkat naik mobil milik keluarga Devan, bahkan Yohan dan Anindya juga ikut bergabung. Wisata yang akan mereka kunjungi pertama adalah candi Prambanan. Jarak tempuh dari rumah pakdhe Ario ke candi Prambanan memakan waktu kurang lebih tiga puluh menitan. Perjalanan tersebut mereka gunakan untuk karaoke bersama di mobil. Meskipun awalnya  terjadi keributan karena perbedaan genre lagu, Rian dan Fandy ingin lagu dangdut, Lita ingin mendengarkan lagu sedih, Fayola ingin mendengarkan lagu dengan vibes Butterfly era. Karena kesal akhirnya Anindya langsung memutar playlist dari musisi jawa untuk menemani perjalanan mereka pagi ini.

"Udah jangan berantem, aku udah pilihin lagu biar kalian ngerasain vibes nya di Jogja."

Akhirnya perdebatan itu berakhir, diam diam mereka menikmati lagunya. Bahkan Rian kini ikut menyanyi meskipun dengan membaca lirik dan nada yang sangat berantakan. Tapi pagi itu rasanya begitu menyenangkan dan meninggalkan momen yang memorable di hati mereka.

Langit cerah menyambut kedatangan mereka di tempat yang disebut candi hindu terbesar di Indonesia, angin berhembus pelan menambah kesan dramatis saat tujuh remaja kota itu sibuk mengagumi relief candi.

Rian berlari menyusuri lebih dalam bagian candi, lalu disusul oleh Anindya. Mereka baru tahu ternyata meskipun pakdhe Ario dan budhe Ayu terlihat sangat kalem, justru anaknya sangat aktif dan pecicilan.

"Anin hati hati ya, nanti jatuh."peringat Devan kepada sepupunya. Devan tahu betul, Anin itu anak yang ceroboh. Baru saja Devan memeringati, rupanya gadis itu sudah hampir terjatuh karena tali sepatunya lepas. 

"Itu suami lo gak papa sama cewek lain?"Tanya Yohan yang kini berjalan sejajar dengan Lita dengan tangan dibelakang tubuh. Dirinya sudah hafal gerak gerik seorang perempuan, karena pengalaman buaya nya itu dia bisa mengenali dan menghafal berbagai macam sifat perempuan. Berbeda dengan Rian yang terkesan kurang peka dan tidak pandai menyampaikan rasa sayangnya. 

"Belum nikah dan gue bodoamat"ucap Lita datar seraya memainkan ponselnya, lebih baik menggulir beranda sosial media daripada melihat tingkah Rian yang membuatnya geleng geleng kepala. Respon dari Lita mengundang tawa Yohan, lihatlah lucu sekali hubungan adik dan adik iparnya hm mungkin lebih tepatnya calon adik ipar.

"Terserah kalian deh, gue mau mepet si cantik dulu."

Yohan sengaja memperlambat jalannya, menunggu dua pasangan kekasih yang berjalan lambat seperti siput karena sibuk mengabadikan sekeliling mereka dengan kamera yang menggantung di leher Fandy. Disebelah Fandy ada Fayola yang sedang menggandeng tangan Fandy seraya membuat video cinematic dengan ponselnya.

Setelah selesai memotret beberapa objek pemandangan yang ada di sekitar candi, Fandy melepas perlahan gandengan Fayola. "Sayang, coba kamu jalan aku rekamin."Fandy mengambil tas kecil yang Fayola bawa serta kacamatanya lalu ia berikan pada Yohan secara tiba tiba. Fandy berpikir lebih baik Yohan membawakan barang barang mereka berdua daripada mericuh pada saat pengambilan video.

Setelah Fandy selesai mengatur kameranya, Fayola pun berjalan sesuai arahan Fandy. "Sekarang kamu jalan mundur sayang, ketawa, muter, balik jalan ke depan."Fandy tak henti hentinya tersenyum melihat Fayola yang berkali kali lipat cantik hari ini. Fayola menggunakan dress putih katun bordir yang tampak serasi dengan kulit putih bersihnya, gadis itu tampak berkilau terkena sinar matahari pagi. Fandy sampai tidak tahu bagaimana mengekspresikan kecantikan pacarnya itu, seribu pujian pun rasanya tak cukup menggambarkan betapa cantiknya Fayola. 

Setelah menyelesaikan videonya, Fandy menarik Fayola dan mencium pipi gadis itu. "Pacar aku cantik banget banget banget, ah kamu bikin aku pengen buru buru nikahin kamu."Fandy mencebikkan bibirnya.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang