61 - Absolved

7K 191 0
                                        

Ruang persidangan semakin memanas. Dua kuasa hukum berdiri berhadapan, saling melontarkan kalimat pembelaan yang saling bertentangan. Suara mereka saling menekan, disusul sanggahan tajam yang tak memberi celah untuk bernapas.

Fayola tidak hadir atas perintah Madona dan kondisi mentalnya yang masih belum siap bertemu dengan orang orang yang telah menyakiti hatinya. Ia diwakilkan sepenuhnya oleh kuasa hukumnya, yang duduk tegak dengan tumpukan berkas di meja, serta tim penyidik independen yang sesekali bertukar pandang sebelum mencatat sesuatu dengan cepat.

Di bangku pengunjung Elara menatap lurus ke depan dengan tatapan datar, jemarinya saling bertaut di pangkuan. Di sebelahnya, Lita berkali-kali menarik napas dalam, seolah berusaha menahan tangisan dan juga kecemasan yang melanda. Rian disampingnya mengelus kedua tangan calon istirnya itu berusaha menenangkan. Miko menyandarkan punggung ke kursi, tatapannya tajam dan tak pernah lepas dari meja hakim. Dan yang terakhir ada Bu Ema menunduk, bibirnya bergerak pelan seperti melafalkan doa yang tak ingin ia ucapkan keras-keras.

Di sisi lain ruang sidang, terdapat Anto yang duduk dengan bahu kaku, kedua tangannya mengepal di atas lutut. Pahlevi hanya terdiam dengan tangannya yang tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya, sedangkan Friska berusaha menahan tangisannya. Wanita paruh baya itu takut jika Fayola memang pihak yang bersalah, namun rasa takut jika Fayola ternyata tidak bersalah lebih besar. Pasti putri semata wayangnya itu akan kecewa besar karena ia berdiri di pihak yang bersebrangan.

Lalu disebelahnya ada Artezi yang seolah berbicara dengan Amora lewat ekor matanya. Dan di paling ujung ada Fandy yang duduk diam menatap ke depan, kehadirannya hanya ingin memvalidasi bahwa tidak sepantasnya dia merindukan penjahat seperti Fayola.

"Yang Mulia, perlu kami sampaikan bahwa Saudari Fayola memiliki riwayat trauma berat terhadap hal hal yang berbau dengan darah, trauma ini sudah ada jauh sebelum peristiwa ini terjadi."

"Trauma ini menyebabkan respons fisik yang jelas dan konsisten seperti pusing, mual, gemetar, setiap kali ia melihat atau bersentuhan dengan darah. Dengan kondisi tersebut, sangat tidak masuk akal apabila Saudari Fayola digambarkan mampu melakukan penyerangan jarak dekat yang melibatkan peristiwa berdarah. apalagi tanpa menunjukkan tanda-tanda reaksi fisik atau psikologis setelah kejadian."

Nada suaranya mengeras sedikit, bukan marah, tapi menekan.

Trauma tersebut bukan hal baru, dan selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Saudari Fayola. Apa yang dituduhkan sangat bertentangan dengan kondisi psikologis yang harusnya cenderung menghindari, bukan menghadapi situasi berdarah."

Ruang sidang hening sesaat. Kuasa hukum dari Fayola menutup mapnya perlahan. "Keberadaan Saudari Fayola di lokasi kejadian adalah reaksi panik untuk menolong, bukan tindakan agresif. Ia tidak melawan, tidak menyerang, dan tidak memiliki kapasitas psikologis untuk melakukan kekerasan seperti yang dituduhkan."

Kuasa hukum dari Resya lalu membantah pembelaan.

"Izin menyanggah yang mulia, kami tidak meragukan adanya trauma yang diderita oleh saudari Fayola, namun kondisi gangguan mental tidak bisa dijadikan alasan untuk menghindari tindak kriminal.

Ia melangkah setengah langkah ke depan, menatap majelis hakim."Dalam kondisi darurat, adrenalin dapat memicu respons yang tidak sesuai dengan pola perilaku normal seseorang. Banyak literatur psikologi forensik menunjukkan bahwa individu dengan fobia atau trauma tertentu tetap dapat melakukan tindakan agresif ketika berada dalam tekanan emosional yang tinggi."

"Selain itu, Yang Mulia, tidak terdapat bukti medis yang menunjukkan bahwa Saudari Fayola mengalami reaksi trauma akut di lokasi kejadian. Tidak ada catatan pingsan, tidak ada laporan muntah, dan tidak ada saksi yang melihat respons fisik sebagaimana digambarkan pihak lawan."

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang