42 - Nightmare

2.6K 111 0
                                        

Suara teriakan menggema di salah satu ruangan sebuah gedung yang jauh dari kota, terdapat dua gadis di dalam ruangan itu dengan dua kondisi yang berbeda. Salah satu gadis disana berteriak kencang ketika gadis lainnya menginjak telapak tangannya sampai rasanya jari jari tangannya akan lepas.

"Fayola Fayola, ini gak seberapa dengan yang udah lo lakuin ke gue selama ini."

"LO UDAH GILA AMORA!"maki Fayola dengan menatap penuh kebencian ke arah gadis yang sedang menginjak telapak tangannya.

Melihat kondisi mengenaskan Fayola, Amora semakin tertawa puas. Melihat kehancuran gadis itu adalah kebahagiaan bagi Amora."Hahaha sekarang gue udah menguasai semuanya, orang tua lo, kakak lo, dan juga Fandy, pacar lo."

Fayola menggeleng sembari menangis."Jangan ambil Fandy juga."Fayola memeluk kaki Amora dengan erat, memohon pada gadis itu.

Amora sedikit menunduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Fayola"Kenapa? Kan gue cinta sama Fandy, dan Fandy juga cinta sama gue."ucap Amora sembari mencengkram dagu Fayola erat."Jadi biarin kita bahagia ya."

Fayola menggertakan giginya, kemudian berteriak hingga suaranya menggema di dalam gedung terbengkalai tersebut. "Fandy cuma cinta sama gue dan gak bakal ninggalin gue. Fandy gak cinta sama lo setan!"teriak Fayola.

Amora memasang wajah pura pura terkejut, "Oh ya? sayang sini."panggil Amora pada seseorang, lalu tak lama Fandy datang dengan tatapan datarnya.

"Baby, kamu denger apa kata dia? Dia bilang kamu gak cinta aku dan cuma cinta mati sama dia, itu bener?"tanya Amora sembari mengelus lengan Fandy.

"Mimpi."ucap Fandy singkat sembari mendorong kening Fayola sampai gadis itu termundur.

Fayola menggeleng seakan tak percaya dengan ucapan kekasihnya."FAN KAMU BOHONG, KAMU CINTA SAMA AKU FAN! FAN BILANG KE DIA KALAU KAMU CUMA CINTA SAMA AKU FAN."

Tanpa sepatah kata pun Fandy pergi meninggalkan Fayola bersama gadis iblis yang sangat dibencinya sejak dia menginjakkan kaki di rumahnya. Fayola yang melihat kepergian mereka pun hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

Mimpi buruk tersebut membuat Fayola terbangun dari kasurnya. Fayola perlahan membuka matanya, mengatur nafasnya yang ngos ngosan. Padahal AC di kamarnya menyala, namun keringat membasahi kening gadis itu. Fayola merasa kalau mimpinya barusan terlalu nyata, bahkan dirinya benar benar mengeluarkan air mata dan terisak. Akhirnya Fayola memilih untuk menghampiri Resya.

Saat ia baru saja membuka pintu kamar untuk kelur, ia malah berpapasan dengan gadis yang berperan sebagai iblis jahat di mimpinya, gadis itu terlihat melemparkan senyuman untuk Fayola, namun gadis itu hanya acuh tanpa merespon dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Resya.

Fayola tau ini bukan kesalahan Amora karena mimpi hanyalah bunga tidur. Akan tetapi tetap saja Fayola kesal, apalagi teringat saat Amora kemarin meneriaki nya saat ia sedang berteriak kesenangan. Fayola awalnya tak mau menuduh Amora sembarangan, tapi siapa lagi kemarin yang sedang serumah dengannya selain Amora.

Tanpa mengetok pintu, Fayola langsung masuk ke dalam kamar Resya. Dengan wajah cemberut ia menuju kasur Resya dan bermain ponsel karena dia tidak menemukan keberadaan kakaknya itu. Resya yang baru keluar dari kamar mandi terkejut akan kedatangan Fayola yang sudah bermain ponsel sembari tiduran di kasurnya.

"Astaga! Kamu tiba tiba banget disini, kakak jadi kaget."ucap Resya sembari mengelus dadanya.

Fayola mengangkat kedua jari nya. "Maaf kak, aku habis mimpi buruk jadi aku takut."jelas Fayola sembari menarik selimut menutupi tubuhnya menyisakan wajahnya saja.

Resya mendekat lalu duduk di tepi kasur sebelah Fayola, gadis yang bernotabe sebagai kakak Fayola itu mengelus rambut adiknya dengan lembut dan telaten. "Yaudah kamu tidur lagi ya."

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang