Dua minggu berlalu dengan begitu cepat, liburan akhir semester telah terlewati dengan begitu cepat. Pagi ini Fayola sudah harus siap kembali ke sekolah dan berkutat kembali dengan banyaknya mata pelajaran. Gadis itu baru saja selesai bersiap siap, kini ia sedang berjalan menuruni tangga menuju meja makan.
Jika biasanya suara Fayola akan mendominasi ke seluruh ruangan rumah, maka kali ini hanya ada Fayola yang dingin. Tak ada sapaan, tak ada senyuman, tak ada keceriaan, hanya ada wajah datar dan aura permusuhan. Sepuluh hari berlalu, namun tidak ada kalimat permintaan maaf dari mulut kedua orang tuanya atau setidaknya sebuah pertanyaan mengapa Fayola bisa bersikap demikian di meja makan malam itu.
Setelah pertengkaran itu pagi pagi Fayola langsung terbang ke rumah neneknya yang ada di Surabaya seorang diri tanpa berpamitan pada orang di rumah, lalu selang satu hari Resya menyusul. Bahkan dia pergi dari rumah, kedua orang tuanya sama sekali tidak khawatir mencarinya, menurut penjelasan yang Fayola dengan Resya tidak ada raut khwatir karena Friska menelpon nenek mereka, mengingat kebiasaan Fayola sejak kecil yang akan pergi ke rumah neneknya saat merajuk. Mereka baru sampai di Jakarta kemarin malam, mau tidak mau karena ia harus bersekolah.
"Pagi sayang, nyenyak tidurnya?"tanya Pahlevi memulai obrolan pada putri semata wayangnya ketika gadis itu baru mendudukkan diri di kursinya. Fayola hanya berdehem untuk merespon ucapan papanya, kemudian mengambil nasi dan lauknya sendiri tanpa bantuan dari Friska.
Friska yang baru saja datang dari dapur terkejut melihat Fayola sudah sibuk dengan makanannya. "Eh tumben, mama baru aja mau ambilin. Mama buat susu buat Amora dulu tadi, mama kira kamu masih lama siap siapnya maaf ya."
"Aku udah gede."jawab Fayola dingin, kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya.
"Sudah sudah, ayo kita makan dengan tenang tanpa bersuara."ucap Pahlevi menengahi, pria yang berstatus sebagai kepala keluarga itu tidak mau mengulangi kesalahan yang sama hingga menyebabkan putrinya pergi dari rumah.
Setelah selesai sarapan, Fayola berangkat bersama Resya dan Amora yang diantarkan oleh Pahlevi karena Fandy berangkat sedikit terlambat karena baru saja landing dari pesawat pagi ini. Jika Fayola menghabiskan liburannya di Surabaya, Fandy memilih menyusul Devan agar dia tidak kesepian di Jakarta.
Seperti dugaan Fayola, pasti kedatangan mobil papanya yang terlihat mencolok itu akan mengundang banyak perhatian. Fayola membuka pintu dan keluar dengan tergesa gesa, ia berlari kecil menjauhi mobil berwarna hitam metalic itu mencari seseorang yang sangat ia rindukan.
"FAYOLA!"
Fayola yang sedang berjalan santai di koridor menoleh ke sumber suara, gadis itu tertawa bahkan tanpa perlu bersusah payah seseorang yang ia cari sudah memanggil namanya dengan suara menggelegar.
Lita menabrak tubuh Fayola dan memeluknya erat. "Fe, akhirnya gue bisa meluk lo secara nyata, gak lewat layar ponsel lagi."Lita menggoyangkan badan mereka ke kanan dan ke kiri, sampai ditegur oleh siswa yang kebetulan lewat karena mereka berpelukan di tengah koridor.
Tak lama Resya datang dengan nafas yang tak beraturan karena lelah lari larian mengejar langkah Fayola."Fe, kakak capek banget ngejar kamu."
Fayola melepaskan pelukannya dari Lita. "Aku kira kakak bakal ikut papa sama si Maleficent."ucap Fayola seraya memutar bola matanya kesal. Resya tertawa terbahak bahak mendengar julukan Fayola untuk Amora, ternyata perasaan kesal itu masih ada sampai sekarang.
"si Maleficent siapa?"tanya Lita, sampai sekarang Fayola belum memberitahu siapapun soal Amora dan juga memperingatkan Resya untuk melakukan hal yang sama.
"Orang gak penting."Fayola kemudian merangkul Lita menuju kelasnya, tanpa memperdulikan Lita yang masih terus bertanya tanya tentang sosok Maleficent yang dimaksut Fayola. Sedangkan Resya di belakangnya hanya menggelengkan kepalanya dan menuju kelasnya yang berlawanan arah dengan kelas dua gadis tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
