21 - Sick Day

21 0 0
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul enam, namun Friska masih belum mendapati pergerakan dari kamar Fayola. Akhirnnya Friska yang sedang sibuk memasak itu naik ke kamar anak gadisnya.

"Anak ini gak konsisten ya, kemarin pagi pagi udah bangun sekarang bangun siang lagi."

Friska mengetuk pintu Fayola seperti biasanya, lalu Friska mencoba membuka pintu kamar Fayola yang ternyata tidak dikunci. Friska menertawakan dirinya sendiri kenapa ia bersusah payah teriak teriak sedangkan ia bisa membuka pintu tersebut. 

Saat kamar terbuka, Friska terkejut melihat keadaan anak gadisnya. Wanita paruh baya itu langsung berlari menghampiri Fayola yang menggigil. Friska kemudian meneriaki Pahlevi, dan tak lama bukan hanya Pahlevi namun Resya juga datang ke kamar Fayola.

"Fayola kenapa ma?"

"Aku gak tau pa, tadi mama masuk Fayola udah kaya gini. Apa karena kehujanan lusa?"

Resya menunduk merasa bersalah, akhirnya dirinya buka suara."Ma, pa maafin Resya karena gak bisa jagain Fayola. Fayola kemarin dibully di sekolah sama anak kelas dua belas."

"APA?!"

"Iya ma pa, rambutnya di jambak sampe kemarin dia pingsan. Resya gak berani cerita karena Fayola ngelarang."

Pahlevi mengelus pundak Resya agar gadis itu tidak semakin menyalahkan dirinya sendiri."Kita ke rumah sakit sekarang, sekalian nganter kamu ke sekolah."

Friska mengangguk setuju dengan suaminya. "Kamu ambil tas kamu ya resy, mama keluarin mobil biar papa gendong Fayola."

Sesampainya di sekolah, Resya turun setelah menyalami tangan kedua orang tua Fayola. Di gerbang ia bertemu dengan Devan yang sedang mengawasi para anggota OSIS yang memeriksa atribut.

"Lo sendirian aja res?"

"Iya kak, Fayola izin sakit tadi pagi badannya menggigil trus akhirnya dibawa ke rumah sakit sama papa mama."jelas Resya.

"Oh oke nanti pulang sekolah gue ke rumah ya."

"Iya kak, aku duluan."

Karena belum sarapan, akhirnya Resya menuju kantin. Sesampai kantin, Resya mendapati Lita yang sedang bermain ponsel di salah satu meja. Resya pun menghampiri Lita untuk mengizinkan Fayola ke guru. Sedangkan Devan membeli sarapan untuk dirinya sendiri.

"Lita, aku boleh minta tolong?"

Lita yang sedang fokus pada ponselnya itu langsung menoleh. "Eh kak Resya, duduk gih kak. Mau minta tolong apa?" 

"Izinin Fayola ke guru yang ngajar di kelas kalian ya, badan dia tadi menggigil dan demamnya tinggi banget. Sekarang lagi diantar sama papa mama ke rumah sakit, paling nanti agak siangan surat dokternya dikirim."

Lita sontak berdiri dan menggebrak meja kesal. "Ini pasti Fayola sakit gara gara cabe cabean kemarin, awas aja ya kalian."

Resya tertawa di tempatnya. "Kamu lucu deh kalau lagi marah marah, sedikit hiburan buat aku pagi ini. Kamu sama Fayola emang cocok, bahkan kalau kalian bilang kalau kalian saudara kembar aja aku percaya kok."

Lita kembali duduk, lalu melihat ketulusan Resya membuatnya sedikit bersalah. Bagaimana jika yang dikatakan Fayola benar? Kalau sebenarnya Resya tidak seburuk itu. 

"Eh lit aku jadi keinget sesuatu, aku ngintip dari jendela waktu kamu berantem sama Fandy. Kamu keren banget!"Resya menggenggam tangan Lita. "Terimakasih udah membela Fayola dengan tulus, sebagai anak yang diangkat sama keluarganya aku selalu berdoa Fayola, papa, mama dikelilingi sama orang orang baik dan kamu udah jadi salah satu orang baik itu. Aku sadar aku gak bakal seberani kamu buat jadi tameng yang bisa ngelindungin Fayola." 

"Ih kak Resya jangan bikin aku pagi pagi jadi mellow deh, maafin aku juga ya kalau aku suka sensi ke kak Resya."

"Gakpapa, aku tau niat kamu baik buat Fayola."

"Oke kak Resya, sekarang kita adalah tim buat ngejauhin si cowok brengsek itu dari Fayola."Lita mengulurkan tangannya ke arah Resya dengan wajah serius, lalu Resya membalas jabatan tangan tersebut dengan tertawa. 

"Fayola dimana? Gue udah cari dia dimana mana tapi gak ada."

Lita hanya menoleh malas ke arah Fandy yang baru saja dengan nafas terengah engah. "Mau apa lo nyari temen gue? Mau ngejual muka belas kasihan lo itu biar Fayola maafin lo?"

"Lo gak ada hak buat nanya apa urusan gue."

"Yaudah lo cari aja sendiri sana, gak usah tanya gue. Lo juga gak ada hak buat nanya ke gue!"

...

"Fayola!"

Fayola yang sedang menonton film di televisi sembari berbaring di ruang tengah langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata teman temannya yang datang untuk menjenguknya.

Lita duduk di sofa sebelah Fayola kemudian memeluk Fayola dari samping sembari menangis. "Fe, hidup gue tadi sepi banget tau gak ada lo, bayangin gue cuma diem aja di bangku gak ada temen ngobrol. Lo udah baikan kan?"Fayola tertawa kecil, mana bisa ia percaya dengan bualan yang diucapkan Lita.

"Gimana keadaan lo?"tanya Devan seraya mengelus puncak rambut Fayola.

"Gue gak papa kok kata dokter gue cuma demam biasa, bisa rawat jalan makannya tadi siang gue langsung dibolehin pulang. Kalau besok gue udah membaik gue udah bisa masuk sekolah kok."

"Syukurlah, besok gue bisa powerfull lagi setelah hari ini jadi anak pendiem."ucap Lita.

"Boong fe, dia tadi kelas gak diem aja. Dia daritadi gangguin anak anak di kelas, gue salah satu korban keisengan dia tadi."ucap seseorang yang tadi datang bersama Lita, Fayola menoleh ke suara tak asing itu. Kemudian Fayola mengernyit heran.

"Ngapain lo disini?"

Laki laki itu memegang dadanya mendramatisir keadaan. "Fe lo lupa sama gue? Gue calon pacar lo kalau Fandy terus terusan nyakitin lo."

Lita langsung melempar bantal sofa ke arah laki laki itu. "Gak usah buat masalah ya lo Rian, tadi gue ajak dia karena kak Devan sama kak Resya, dan kebetulan dia lewat yaudah gue ajak dia sekalian. Kalau nunggu sopir pasti kelamaan."

Keempat remaja itu pun berbincang bincang sembari bercanda, kemudian bermain Play Station karena diajak oleh Pahlevi saat pria itu pulang kerja. 

Setelah dua jam menghabiskan waktu di rumah Fayola, Devan dan Rian berpamitan untuk pulang, sedangkan Lita masih betah tinggal disana. Bahkan sekarang gadis itu sudah berganti menggunakan baju santai milik Fayola dan sedang tiduran di sofa seraya scroll sosial media.

"Lita kamu mau mandi nggak?"tanya Resya yang datang dengan membawa setoples camilan dan ikut bergabung di sofa setelah tadi ia membersihkan diri dan mandi.

"Enggak ah, aku biasa mandi nya kalau mau tidur."

Fayola mengernyit aneh, kenapa dia baru sadar sekarang. Tidak biasanya Lita berbicara dengan nada biasa ke Resya, setiap mengobrol dengan Resya pasti gadis itu akan menaikkan nada bicaranya.

"Apa apaan sama sikap lo ke kak Resya, gak biasanya. Apa nih yang gue lewatin?"

"Gue udah minta maaf kok ke kak Resya atas sikap gue, gue sekarang sadar kalau kak Resya gak seburuk itu, dia bener bener tulus baik. Bahkan sekarang gue sama kak Resya satu tim."

"Tim apa tuh?"

"Tim buat ngejauhin cowok brengsek itu dari lo.". Ingin sekali Lita mengatakan hal itu namun ia rasa tidak mungkin. Jadi Lita memilih jawaban yang aman.

"Tim orang yang sayang sama lo lah.". Lita pun berhambur memeluk Fayola lagi, lalu disusul oleh Resya. 

"Eh btw, gue kepikiran sesuatu deh fe. Ngeliat sesuatu di feeds intagram tadi, gue jadi pengen main salon salonan deh. Harusnya sih lo yang jadi kelinci percobaan gue, tapi karena lo lagi sakit gak jadi. Kalau gue tumbalin kak Resya, lo aman gak?"

Fayola mengangguk antusias menyetujui seratus persen usulan Lita. Sedangkan Resya yang perasaannya mulai tak enak pun berusaha kabur namun dua gadis itu sudah menarik tangannya untuk dibawa ke kamar Fayola.

"Mama, papa, tolong!"

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang