56 - Miss You

3.9K 165 8
                                        

Disebuah hamparan taman hijau yang dipenuhi dengan rumput dan pemandangan yang indah berdiri seorang gadis dengan dress putihnya. Dandanan anggunnya sore itu terasa sia sia karena acara surprise yang harusnya ia berikan pada kekasihnya tergantikan dengan rasa kecewa yang mendalam. Bukannya memberi kejutan, dia malah mendapat kejutan dari kekasihnya yang sedang berselingkuh di depan matanya.

Kue yang sedari tadi ia pegang terjatuh begitu saja beserta kado yang ia bawa, suara barang terjatuh mengalihkan perhatian seorang laki laki yang sedang membaringkan tubuh dengan nyaman di paha seorang wanita yang beberapa bulan ini bisa dibilang selingkuhannya. 

Melihat keberadaan kekasihnya, pria itu langsung terbangun dan berlari menghampiri kekasihnya yang kini berlari meninggalkan taman. Setelah berlarian cukup jauh, akhirnya ia bisa mencekal tangan gadisnya. 

"Lepasin tangan gue!"teriak wanita itu dengan air mata yang sudah mengalir di wajah cantiknya. "Gue gak nyangka lo bisa sejahat ini sama gue, lo nyelingkuhin gue! Parahnya sama orang yang gue benci!"ucap wanita itu seraya menunjuk penuh emosi ke arah wanita lain yang bersembunyi di belakang badan pria itu.

"Gak gitu Fayola, dengerin aku dulu."Fandy meraih tangan Fayola untuk digenggam, namun gadis itu menghempaskan tangan pria yang dulu ia sayangi dan mulai detik ini menjadi pria yang sangat ia benci.

"Kita putus! Pacaran aja sama dia anjing!"

Fayola berlari menyebrang jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri yang menyebabkan badannya terpental akibat tertabrak truck yang kebetulan melintas. Fandy di tempatnya membeku, kemudian dengan lemas menghampiri badan Fayola yang sudah terkulai lemas di tengah jalanan dengan bersimbah darah sampai dress putihnya berubah menjadi warna merah.

 Fandy terduduk lemas kemudian mengangkat perlahan kepala Fayola ke atas pahanya. Ia menggelengkan kepalanya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, semuanya berlalu dengan begitu cepat tanpa bisa ia hindari. 

Dengan tubuh yang remuk Fayola memaksakan senyum manis terakhir kalinya untuk pria yang pernah mengisi hari harinya. "Akk-ku sayy--yang kk-amu."setelahnya gadis itu tak sadarkan diri. 

"FAYOLAAAAA!"

Fandy langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas tak beraturan, mimpinya barusan terasa sangat nyata. Pria itu meraih segelas air putih di nakas kemudian meminumnya dengan menyenderkan badannya ke sandaran tempat tidur di belakangnya.

Bunyi ponsel di nakas yang bergetar mengalihkan perhatiannya, ada telfon masuk dari Amora. Fandy berdehem terlebih dahulu sebelum akhirnya menyapa kekasihnya yang ada di sebrang sana. 

"Kenapa?"

"Kamu ke rumah sakit sekarang, aku takut."jawab Amora dengan suara yang terdengar bergetar menahan tangisan. 

Tanpa repot repot menanyakan keadaan gadis itu, Fandy hanya menjawab dengan singkat tanpa nada khawatir sama sekali. "Oke."

Pria itu bergegas mengambil hoddie nya yang tersampir di lemari dan menuju rumah sakit, namun sebelum itu ia menyempatkan untuk berpamitan pada mamanya yang masih saja bersikap dingin terhadapnya sejak beberapa bulan terakhir. 

Sesampainya di rumahsakit, ia mengenyitkan dahinya ketika melihat Elara yang merupakan ibu dari Friska atau biasa dipanggil oma oleh Fayola, sedang berdebat dengan pakde dari Resya. Selain itu yang membuatnya semakin bertanya tanya adalah ketika ia melihat Friska, Pahlevi, dan Amora yang hanya diam di tengah tengah perdebatan itu tanpa membela pihak manapun.

Dengan wajah datarnya Fandy menghampiri Amora, melihat kedatangan pacarnya Amora langsung menggandeng lengan Fandy dengan gemetaran. Alih alih menanyakan keadaan Amora ataupun mendengarkan ocehan gadis itu, pria itu malah menyimak perdebatan antara pakde dari Resya dan juga oma.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang