"Hari ini bu Wulan jamkos, tapi ada tugas ngerangkum halaman tujuh sampai sepuluh. Dikumpulin besok ya."
Suara sorakan langsung terdengar setelah sang ketua kelas menyampaikan kabar yang sangat diidam idamkan oleh para murid. Para lelaki langsung berkumpul di bangku belakang untuk bermain game online, sedangkan anak perempuan berpencar dengan geng mereka masing masing.
"Lo mau kemana fe?"tanya Lita yang mendapati Fayola berdiri dari bangkunya.
"Mau ke perpus aja deh tidur kayanya, lo mau ikut?"tawar Fayola, yang dijawab gelengan oleh Lita. Fayola sudah menduganya, Lita tak akan mau untuk diajak bolos keluar kelas meskipun jamkos. Gadis itu akan lebih memilih duduk diam di kelas sembari menggulir halaman sosial medianya atau mungkin melihat lihat barang barang lucu yang berakhir ia beli.
"Lo hati hati ya."ucap Lita memperingatkan karena kaki Fayola masih terbalut perban akibat jatuh kemarin lusa. Fayola mengerti kekhawatiran Lita, jadi ia mengangkat jempolnya seraya berjalan keluar kelas.
Fayola berjalan ke perpustakaan seraya bersenandung, saat melewati belokan koridor dia terkejut ketika mendapati pria yang sengaja ia hindari dua hari ini. Mereka berdua saling diam beradu pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya Fayola yang memutuskannya terlebih dahulu kemudian berbalik arah.
Fandy tidak diam saja, ia mengejar Fayola. Tak perlu tenaga lebih untuk mencekal tangan Fayola karena keadaan kaki gadis itu yang tengah terluka. Tanpa aba aba, Fandy mengangkat tubuh Fayola denganbride style menuju taman belakang sekolah, dia tidak cukup gila untuk mengobrol di koridor yang pastinya akan mengundang banyak perhatian murid.
Sesampainya di taman belakang sekolah, Fandy mendudukkan Fayola di kursi lalu ia duudk disampingnya. "Sampai kapan mau menghindar?"tanyanya tanpa melihat ke Fayola, begitupun gadis itu. Mereka berdua sama sama memandang lurus ke depan.
"Sampai hati aku sembuh karena kekecewaan kamu yang gak masuk akal."
Mendengar jawaban Fayola jelas Fandy langsung bereaksi. "Wajar aku kecewa karena aku berasa gak dianggep sama kamu."ucap Fandy dengan nada yang naik satu oktaf.
Fayola menoleh ke arah Fandy yang terlihat emosi, melihat sorot mata lelah milik Fayola membuat Fandy merasa sedikit bersalah. "Gak usah ngajak aku ketemu kalau kamu cuma mau debat lagi sama aku, karena aku gak bakal dengerin kamu. I'm so sick of it."Fayola bangkit dari duduknya berniat untuk meninggalkan Fandy karena percuma pertemuan mereka hanya akan menimbulkan pertengkaran yang lebih besar.
Namun Fandy tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja, Fandy menarik pundak Fayola dan menghela nafasnya. "Aku minta maaf kalau aku kelepasan, aku emosi ketika liat kamu deket deket sama Miko."ucap Fandy mengutarakan perasaan janggalnya beberapa hari ini.
"Gak usah bawa bawa orang lain yang berakhir merembet kemana mana."
"Aku capek fe, aku udah biarin kamu dua hari ini tapi sekarang aku rasa aku udah gak punya kesabaran lebih besar lagi, aku disini masih pacar kamu kalau kamu lupa."ucap Fandy seraya menunjuk dirinya sendiri. "Gak seharusnya kamu deket deket sama Miko, apalagi dengan nyeritain pertengkaran kita waktu di rooftop ke dia."
Fayola bersendekap dada, rupanya Fandy ingin mengungkit ungkit kedekatannya dengan Miko. "Oh ya? Kalau aku masih pacar kamu gak seharusnya juga dong kamu nganter cewek lain yang jelas jelas aku benci tanpa seizin aku dan ngebiarin aku yang katanya pacar kamu ini buat pulang sendiri."Fayola menghela nafasnya."Dan asal kamu tau, aku gak nyeritain ke masalah kita ke siapapun tapi Miko denger pertengkaran kita, karena waktu itu dia ada disana."
Fandy terkejut sekaligus lega karena hubungan Fayola dan Miko tidak sejauh itu, kemudian Fandy meraih tangan Fayola. "Maafin aku karena suka menyimpulkan asumsiku sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
