"Pagi ma."sapa seorang laki laki yang sudah siap dengan seragam basket miliknya. Tak lupa ia juga mencium pipi mamanya.
"Pagi juga sayang, sini duduk. Kamu mau sarapan apa hari ini?"
"Mau capjay sama udang goreng dong ma."
"Oke sayang, nasi nya mama banyakin ya biar nanti kapten basket ini makin kuat tandingnya."ucap mama lelaki tersebut sembari mengambilkan nasi untuk putra semata wayangnya itu.
Fandy mengecup pipi mamanya.
"Mama adalah mama terbaik diseluruh dunia."
Fandy menoleh ke kursi yang biasanya ditempati oleh papanya itu masih kosong. "Tumben papa belum turun?"
"Papa keluar kota tadi pagi, mau bangunin kamu gak tega. Jadi papa cuma titip pesen ke mama, nanti kamu telfon aja."ucap Maura seraya menyerahkan piring makan ke Fandy.
Fandy ber oh ria sembari menerima piring dari Maura dan mulai memakan sarapan paginya. "Masakan mama gak pernah gagal, selalu enak!"
Maura tersenyum menatap anak semata wayangnya yang lahap memakan sarapan buatannya. Lalu ia teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Fandy.
"Oh ya sayang, mama mau tanya sesuatu boleh'?"
"Apa itu ma?"
"Kamu akhir akhir ini kayanya jarang sama Fayola ya, kalian gak lagi marahan?"tanya Maura memulai pembicaraan.
Kunyahan Fandy perlahan berhenti, lalu ia menampilkan senyum palsunya pada Maura.
"Enggak kok ma, kita baik baik aja. Cuma ya kita jarang ketemu gak seintens biasanya, kita sama sama lagi sibuk."
"Syukurlah, emang Fayola gak cemburu kamu sama Yura terus?"
Fandy terkekeh kecil. "Harusnya enggak ya ma, lagian aku sama Yura kan cuma temen doang."
Maura menatap Fandy dengan intens, sampai Fandy bergerak gelisah tak nyaman "Kamu yakin perasaan kamu ke Yura udah bener bener selesai?"
Fandy diam saja di tempatnya mendengar pertanyaan Maura.
Melihat keterdiaman Fandy, Maura menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya. "Kalau kamu masih bimbang sama perasaan kamu sendiri, harusnya kamu gak menyeret orang lain dalam kebimbangan itu sayang."
"Fandy gak ngerti ma, Fandy ada di tengah tengah sesuatu yang rumit."ucap Fandy dengan suara lirih. Bahu pria itu meluruh. "Fandy ngerasa gagal jadi pacar yang baik buat Fayola, tapi Fandy juga punya tanggungjawab atas Yura."
"Tanggung jawab apa? Kamu cuma sebatas teman masa kecil Yura fan, siapa yang bilang Yura jadi tanggungjawab kamu?"
Fandy meletakkan sendok dan garpunya, ia rasa sebelum semuanya semakin runyam ia akan bercerita pada Maura."Malem itu tepat pas acara ulang tahun Arthur, Om Andra nelfon Fandy ya sekedar basa basi dan tanya tanya keadaan kita disini lalu Om Andra tiba tiba minta ketemu. Hari itu satu hari sebelum Yura pindah sekolah, aku ketemuan sama Om Andra. Disana Om Andra cerita kalau Yura kena gangguan jiwa makanya dia dipulangkan ke Indonesia."
"Dokter menganalisis dia kena Borderline Personality Disorder (BPD), dan Om Andra minta tolong ke Fandy meluangkan waktu untuk jaga Yura, sekaligus ngebujuk Yura biar dia mau ke psikolog ma."
"Yang selama ini Fandy lakuin itu juga bukan sepenuhnya mau Fandy ma, Fandy juga mau punya kebebasan untuk ketemu dan ngeluangin waktu buat pacar Fandy. Tapi Fandy gak bisa."jelas Fandy
Maura mengelus pundak Fandy, dia tak tau bahwa anaknya menyembunyikan hal yang cukup serus. Sepertinya ia harus menemui Andra.
"Mama tanya perasaan ya? Hati aku masih penuh sama Fayola ma. Bahkan setelah kedatangan Yura aku cuma ngerasa seneng karena ketemu lagi sama temen lama aku, dan aku baru sadar kalau ternyata cinta monyet yang dulu aku rasain itu cuma sekedar kagum sama pencapaian Yura. Disaat anak seumuran kita cuma sekolah dan main, tapi dia beda. Kepintarannya dan semua pencapaiannya itu selalu bikin aku amaze dan bangga kenal dia. Tapi itu juga gak bisa dikatakan sebagai rasa cinta kan ma?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
