Pagi pagi sekali Fayola sudah siap dengan seragamnya. Hari ini dia berniat berangkat lebih pagi dari biasanya untuk menghindari Fandy. Aksi ngambeknya ini akan terus berlangsung sampai laki laki itu menyadari kesalahannya.
"Maaf ya sayang kamu cuma sarapan roti, kamu sih gak bilang kalau mau berangkat pagi jadi nasinya belum matang."Friska tadi terkejut saat baru saja turun ke dapur, ia sudah mendapati Fayola yang duduk di kursi makan seraya mengoles roti dengan selai kacang.
"Gak papa ma, nanti aku beli nasi di kantin aja waktu istirahat."
"Nih mama bawain sandwich jaga jaga kamu laper lagi sebelum istirahat."Friska memasukkan kotak bekal warna abu abu ke dalam tas Fayola yang tergeletak di meja makan.
"Beneran ya nanti kamu harus kirim pap ke mama pas kamu lagi makan ya."
Fayola mengangguk angguk saja, tidak mau berdebat dengan mamanya. Kalau masalah posesif mamanya itu juara, daripada mendebat sesuatu yang sudah dipastikan dirinya akan kalah lebih baik ia mengiyakan.
"Kamu mau mama anter atau naik ojek? Mama pesenin kalau kamu mau naik ojek."
"Aku pengen coba naik bis aja, sekalian jalan jalan ke depan halte. Boleh ya?"
Setelah beberapa saat menimang Friska pun mengangguk."Ya deh boleh lagian ini masih pagi banget kamu gak akan telat. Tapi dijaga ya barangnya dan hati hati pas naik atau turun."ucap Friska menasehati.
Setelah Fayola selesai sarapan, ia berpamitan menyalami tangan Friska kemudian ia berjalan keluar rumah. Saat membuka gerbang ia terkejut melihat Devan sudah nangkring di depan rumahnya dengan motor vespa hitamnya.
"Lo ngapain pagi pagi kesini kak?"
"Jemput lo lah, gue gak budek waktu lo kemarin bilang mau berangkat pagi pagi buat ngehindarin Fandy."
Fayola mengernyit, kapan dia bilang seperti itu? "Lo gak cocok buat bohong kak, orang gue baru kepikiran tadi pagi. Lo baca pikiran gue ya?"
"Hahahaha enggak lah, gue bukan dukun. Gue dikasih tau Resya tadi, lo bilang ke dia kan?"
Fayola membulatkan mulutnya, memang semalam Resya tidur di kamar Fayola dan tadi Resya bangun saat Fayola sedang mengambil tasnya. Lalu Resya bertanya pada Fayola kenapa sudah siap di pagi buta, bahkan matahari belum muncul dan Fayola menjawab apa adanya.
"Naik gih, kebetulan hari ini si Kibo gak masuk, lo gantiin dia buat razia kendaraan sama atribut di gerbang sekolah."
Fayola memberenggut, padahal niatnya tadi kalau masih pagi ia akan pergi ke perpustakaan untuk tidur. Tapi apalah daya, dia malah disuruh bertugas OSIS oleh Devan. Meski begitu, Fayola menuruti permintaan ketua OSIS tersebut dan mereka menuju ke sekolah.
Setelah memarkirkan motor, mereka berdua langsung menuju ruang OSIS untuk mengambil rompi dan meletakkan tas mereka. Tak lama datanglah dua anak OSIS yang juga bertugas hari ini, mereka berempat pun beriringan menuju gerbang untuk melaksanakan tugas mereka.
Hari semakin siang dan para murid yang datang juga semakin ramai. Fayola yang memang mendapat bagian mengecek atribut sudah mulai kewalahan, bahkan dia beberapa kali kecolongan siswa yang menerobos masuk tanpa di cek.
"Hai fe."
"Hai kak Firga, permisi ya gue mau cek lo dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
