Matahari bersinar terang di Jogja pagi ini, Fayola sudah siap dengan celana legging dan jaket. Ia berniat untuk lari pagi, karena suasana jalan di sekitar rumah pakdhe Ario tampak menggiurkan dengan hawa sejuk dan juga pemandangan sawah yang membuat tenang. Fayola sudah mengajak teman temannya namun mereka lebih memilih tidur di hari libur mereka sebelum mereka nanti akan menghabiskan waktu seharian keliling Jogja.
Setelah berpamitan pada pakdhe Ario dan budhe Ayu yang sedang menikmati kopi dan teh mereka di teras rumah, Fayola memulai kegiatan lari paginya. Di sepanjang perjalanan Fayola berlari seraya menyapa penduduk yang sedang berkegiatan di sawah. Ketika mulai merasa lelah karena sudah lama tidak berolahraga Fayola memilih untuk duduk di pos ronda. Gadis itu meluruskan kakinya sembari mengatur pernafasan, hawa sejuk dari angin sawah menerpa wajah cantiknya.
"Jadi pengen tinggal disini."
Fayola yang sedang menyeka keringatnya itu sontak menoleh ketika mendapati mobil yang tiba tiba mengklakson berkali kali. "Kenapa dah tu mobil, orang gue udah di pinggir jalan."
Tak kunjung berhenti, Fayola yang kesal pun mengetuk kaca mobil fortuner warna hitam itu. Perlahan kaca mobil itu terbuka, menampilkan sosok wajah tengil yang Fayola kenali.
"Hai cantik."sapa pengemudi itu dengan senyum manisnya seraya melambaikan tangan ke arah Fayola yang terkejut akan kedatangan pria tersebut.
"Lo ngapain kesini kak Yohan?"
"Alasan ke mama sih mau nyusul Rian sama calon adik ipar, tapi tujuan sebenarnya mau nyamperin kamu sih jujur."Yohan mengerlingkan matanya, Fayola di tempatnya merinding kegelian. Kemudian gadis itu meninggalkan Yohan melanjutkan lari nya.
Entah bagaimana cara laki laki itu memarkirkan mobilnya, tapi sekarang Yohan sudah ikut berlari disamping Fayola dengan celana pendek dan hoddie.
"Lo ngapain sih gue tanya?"
"Ngapain lagi? Kan lagi lari sama lo."
"Hus hus jauh jauh dari gue."usir Fayola, akhirnya Yohan menurut untuk menjaga jarak dengan Fayola. Pria itu memelankan langkahnya hingga berjarak sekitar lima puluh meter di belakang Fayola. Diam diam pria itu mengeluarkan ponsel dan memotret Fayola dari belakang.
Setelah cukup lama berlari, Fayola pun memutuskan untuk pulang ke rumah pakdhe Ario dengan masih diikuti oleh Yohan. Saat sampai rumah Fayola terkejut melihat mobil Yohan yang sudah terparkir di halaman rumah pakdhe Ario.
"Lo sulap apa gimana?"
"Tadi gue bayar warlok yang kebetulan lewat buat anter kesini, gue kemarin dikirim sharelock an tempat kalian sama mama."jelas Yohan, Fayola tak peduli yang dilakukan pria itu, gadis itu memilih untuk melengos masuk.
Di depan teras vila, Fayola disambut oleh Fandy yang sedang berdiri dengan tatapan datarnya. Meskipun bingung kenapa pacarnya sudah badmood di pagi hari, Fayola tetap tersenyum manis menyapa Fandy.
"Hai sob!"sapa Yohan dari belakang badan Fayola. Fayola lupa bahwa masih ada Yohan yang mengikutinya , mungkin itu penyebab kenapa Fandy sudah siap mengeluarkan tanduknya.
"Rian, ada abang lo nih."teriak Fayola, setidaknya dengan adanya Rian bisa membantu menghilangkan rasa akward ini.
Tak lama Rian datang dengan muka bantalnya, ia berlari tergesa gesa bahkan pria itu masih terbelit selimut tebal. "Lah Yohan lo ngapain disini?"
"Nyamperin cewek gue lah."ucap Yohan seraya melirik ke arah Fayola. Melihat hal itu Fandy langsung menarik Fayola menuju bangku kayu yang ada di halaman belakang rumah pakdhe Ario.
Ketika mereka sudah hanya berdua, Fandy mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sesuatu pada Fayola."Kamu selingkuh."
Fayola merebut ponsel Fandy dan memperhatikan lebih jelas foto yang ditunjukkan oleh Fandy. Disana terpampang sebuah story instagram milik Yohan yang memasang foto Fayola dari belakang saat berlari tadi dengan sebuah caption "my girl" dan juga sebuah emoticon hati berwarna merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
