44 - Altercation

2.4K 115 1
                                        

"Gue minta maaf fe."ucap Lita saat mereka sudah duduk di salah satu kursi kantin, dua gadis itu kini menghabiskan waktu mereka di kantin karena kelas jamkos. "Kayanya gue udah mulai ngerti kenapa lo kesel sama dia. Gue ngeliat sendiri lo cuma narik tangan pelan, tapi kenapa dia sampai jatuh gitu? Kelihatan banget cewek menye menye."

Fayola memegang tangan Lita, ia juga merasa bersalah karena tiba tiba melampiaskan amarahnya ke Lita."Sorry lit, gue kebawa emosi juga tadi. Harusnya gue cerita dulu biar lo tau gimana posisi gue."kemudian Fayola menceritakan kejadian awal pertemuannya dengan Amora, kejadian di mimpinya, dan juga alasan dia menghabiskan seluruh waktu liburannya di Surabaya.

Lita menggebrak meja kantin dengan emosi yang berapi api. "ANJIR! Kalau lo cerita dari awal udah gue jambak muka nenek sihir itu waktu dia masuk kelas."Fayola tersenyum licik, ia tau sumbu emosi Lita itu lebih pendek darinya.

"Aku cariin juga ternyata ada disini."ucap Fandy yang tiba tiba datang dan mengambil duduk di sebelah Fayola. "Aku kangen banget sama kamu, mau peluk."

"Gak usah aneh aneh ini itu lingkungan sekolah, jangan mentang mentang sekolah punya keluarga lo."protes Lita yang merasa geli mendengar suara manja milik Fandy.

"Fandy bukan?"suara seseorang membuat ketiga orang yang ada di meja itu menoleh kompak, mata dua gadis itu menajam sedangkan Fandy tersenyum melihat satu gadis yang tak asing di matanya.

Fandy mengangguk, ia masih ingat gadis ini."Iya Amora, gue baru tahu kalau lo anak Luminari Cita juga."

Ketika Amora hendak menjawab, Jihan yang merupakan salah satu teman sekelas Fayola itu menyela. "Jangan bilang lo juga gak tau kak kalau Amora ini saudaranya cewek lo?"ucapan Jihan memancing berbagai reaksi orang yang ada di meja tersebut. Fandy menaikkan alisnya kemudian menoleh ke arah Fayola yang hanya diam dengan wajah datarnya.

Amora menyikut Jihan lalu berbisik pada teman barunya itu. "Jihan kamu gak boleh bilang siapa siapa, nanti Fayola marah."meskipun berbisik, suara Amora itu masih bisa didengar oleh Fandy, Lita, dan Fayola. "Kami pergi dulu ya."pamit Amora seraya menarik tangan Jihan.

"Kita perlu bicara."Fandy berdiri dari duduknya dan menarik tangan Fayola entah kemana, yang pasti mereka berdua meninggalkan Lita yang sedang marah marah karena ditinggalkan begitu saja.

Fandy memilih rooftop untuk membicarakan hal yang cukup serius dengan Fayola. "Menurut kamu, aku ini masih penting gak sih fe?"tanya Fandy dengan menatap lurus mata Fayola yang berdiri di depannya. "Selalu kaya gini, ini udah kedua kalinya aku tau dari mulut orang lain. Waktu itu Resya, sekarang Amora, kenapa kamu gak pernah cerita ke aku. Kenapa setelah ketahuan kamu baru ngasih tau aku?"

"Karena dia gak penting, dia cuma cewek yang numpang di rumah karena amnesia. Setelah dia ingat siapa dirinya, dia bakal pergi. Tapi sialnya sampai sekarang dia gak ingat ingat. Jadi buat apa aku nyeritain ke kamu orang yang bahkan gak aku anggap kehadirannya?"Fayola maju selangkah untuk memangkas jarak. Fandy bisa merasakan tatapan tajam Fayola yang mengintimidasinya. "Kamu gak ngaca? Surprisingly kamu kenal juga sama dia. Tapi, apa kamu cerita ke aku?"

"Malam itu aku sempat nolongin Amora waktu dia kecopetan."jawab Fandy.

Fayola menyunggingkan senyuman sinisnya."Oh ya , sebatas nolongin? Tapi kamu kenal sama dia. Bahkan kalian terlihat seperti udah sangat akrab."

"Dia mau balas budi ke aku, jadi aku di traktir makan sama dia  dan kita ngobrol banyak disana."tatapan Fandy yang tadinya lembut berubah menjadi tajam. "Termasuk ngomongin saudara tirinya yang kejam ke dia, dan aku gak nyangka orang yang aku maki maki malam itu ternyata orang yang sangat aku kenal, yaitu kamu. Aku kecewa sama kamu."setelah mengatakan itu Fandy pergi begitu saja.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang