11 - Secret

4.1K 182 0
                                        

Minggu pagi yang sangat cerah, cocok untuk berolahraga. Pagi ini Fayola sedang memutari kompleks perumahan bersama keponakannya yang kemarin malam datang ke rumahnya, namun keponakannya naik sepeda sedangkan Fayola memilih untuk jogging.

"Cha, kak fe capek. Kita istirahat di taman yuk?"ajak Fayola, gadis itu sudah lelah karena sudah jogging dari dua jam yang lalu. Kebetulan mereka dekat dari taman jadi sekalian saja ia beristirahat disana.

Fayola memilih satu bangku dibawah pohon, ia mencopot headset yang sedari tadi menempel di telinganya. Fayola menepuk jidatnya, lupa membawa botol minum dan sekarang ia kehausan.

"Ocha, kak fe mau beli minum dulu ya."

"Oke, kak boleh nggak kalau Ocha tunggu nya sambil main ayunan disana?"

Fayola mengangguk.
"Boleh, tapi serius main ayunan disana ya. Nanti biar kak fe gak bingung nyariin kamu."

Ocha mengangkat tangannya hormat kepada Fayola."Aye aye captain, jangan lupa beliin permen susu buat aku ya."

Fayola pun menuju warung yang ada di sebrang taman untuk membeli air minum untuknya dan juga permen susu dan juga beberapa snack untuk Ocha.

Setelah selesai, Fayola kembali ke bangkunya tadi. Namun yang menjadi kekhawatirannya adalah, Ocha sedang bersama seorang laki laki yang berlutut didepannya. Fayola tak dapat melihat wajah pria itu karena ia memakai tudung jaket. Fayola lantas berlari menghampiri Ocha, siapa tau Ocha akan diculik oleh laki laki misterius itu.

"Jauh jauh dari adik gue penculik!"Fayola mendorong badan laki laki dengan jaket hitam itu, lalu memeluk Ocha yang sedang menangis.

"Gue bukan penculik."

Suara itu tidak asing bagi Fayola,  gadis itu menoleh ke pria tadi yang ternyata benar adalah orang dikenalnya.

"Kak Devan?"

"Kak fe kenal sama kak Devan? Tadi aku lari karena gak hati hati aku jatuh, terus aku ditolongin sama kak Devan."

Ocha menjelaskan kepada Fayola dengan suara sesenggukan sebelum Fayola menuduh Devan lebih parah.

"Tapi Ocha gak papa kan sekarang? Mana yang sakit sini biar kak fe tiup biar sembuh."

Gadis kecil itu menggeleng seraya mengusap air matanya."Aku cuma kaget aja tadi, tenang kak fe aku gak ada yang luka sama sekali kok. Sekarang Ocha mau main ayunan disana dulu, dada."Gadis kecil itu langsung pergi meninggalkan Fayola dan Devan yang diselimuti kecanggungan.

Sepergian Ocha Fayola berdeham pelan karena menyadari bahwa dirinya telah berburuk sangka pada Devan.

"Ehm, maaf kak gue udah nuduh lo yang enggak enggak. Dan juga makasih karena udah nolongin Ocha tadi."

Devan mengangguk, lalu tanpa permisi pria itu duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Fayola, tanpa menoleh ia menyuruh gadis itu untuk duduk.

"Duduk gih."

Fayola mengernyitkan dahinya, pertemuannya dengan Devan selalu dipenuhi dengan pertengkaran, amarah, dan kekesalan. Tapi sekarang, laki laki itu malah menyuruhnya untuk duduk berdua dengannya, aneh bukan?

"Gue capek berantem terus sama lo, baikan aja yuk?"tanpa diduga Devan mengulurkan tangannya ke depan Fayola. Rasa curiga langsung menghampirinya, tidak ada angin tidak ada hujan kenapa laki laki itu mendadak mengajaknya berbaikan.

"Lo gak kesambet setan pohon di belakang kita kan kak?"

Pertanyaan konyol itu membuat tawa Devan meledak, sampai Fayola mengira kalau kakak kelasnya itu memang benar benar kerasukan arwah penunggu pohon di belakangnya.

Dear, FayolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang