"Papa! Kok ditabrak sih mobil aku."
"Makanya jangan cupu."
Suasana di ruang tengah keluarga Pahlevi sore ini terdengar heboh. Karena Pahlevi dan juga anak gadisnya sedang bermain Playstation. Mereka berdua bertanding dengan duduk di karpet bulu, sembari bertanding Fayola juga disuapi buah oleh mama nya yang berada di atas sofa menonton pertandingan suami dan anaknya. Terkadang Friska juga menjadi penengah jikalau mereka berdua sudah mulai bertengkar.
"Kakak kamu kemana? Tumben dia gak turun."
"Bingung milih baju kali, tadi kata kak Devan mereka mau jalan nanti malem."ucap Fayola tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Karena jika dirinya lengah sedikit saja sudah dipastikan dia akan game over.
"Devan si ketua OSIS kamu itu?"
"Iya, tadi pagi dia minta restu ke fe mau nembak kak Resya katanya."Fayola tertawa kecil. Sedangkan respon mama dan papanya sudsh tentu sama sepertinya tadi di rooftop. Tapi sepertinya dirinya harus berterimakasih, Pahlevi yang terkejut sontak melepas stik ps nya dan Fayola bisa menang dari papanya.
"Yes! Fayola menang papa."Fayola berdiri lalu berputar putar. Pahlevi yang sadar langsung membanting stik ps nya ke karpet.
"Kamu curang."
"Loh kok curang sih, kan aku cuma ngasih tau. Kenapa coba papa harus ngelepas stik ps, keliatan banget gak multitasking."Fayola menjulurkan lidahnya.
"Kualat ya kamu sama papa kaya gitu, ayo kita main lagi secara fair gak ada curang curang. Cepetan sini balik!"
Akhirnya Fayola duduk kembali di tempat duduknya tadi, mereka akan memulai game kembali. Namun sebelum itu, samar samar suara teriakan salam dari luar membuat Fayola dan papanya kompak terdiam. Fayola dan kedua orang tuanya diam sejenak, memastikan apakah suara itu benar adanya atau hanya halusinasi mereka.
"Dor, Ocha datang!"
Kemunculan seorang anak kecil dengan rambut kuncir dua dan poni yang menutupi dahinya, beserta tas pinknya muncul layaknya jumpsquare di film horor. Bahkan lebih horor bagi Fayola dan Pahlevi, karena...
"Om lepi, kak fe, ayo kita liat upin ipin!"Ocha berlari dan melompat ke pangkuan Pahlevi.
"TIDAKKK!!!"Pahlevi dan Fayola kompak berteriak, Sedangkan Ocha dan Friska menutup telinga mereka. Friska sontak melempar bantal sofa ke arah bapak dan anak itu, karena berhasil membuatnya jantungan.
"Ma, pa, Resya keluar dulu ya. Mau nganter kak Devan ke Gramedia."
Mereka semua menoleh ke arah tangga, dimana Resya sudah siap dengan dress soft blue selutut dan bando putih yang melengkapi outiftnya sore ini. Sederhana, namun terlihat manis seperti Cinderella.
"Devan nya mana?"
"Resya kasian sama Devan kalau bolak balik, jadi Resya minta ketemu disana. Resya mau naik bis kesana nya."jelas Resya, lalu ia menyalami tangan Friska dan Pahlevi. Diam diam Fayola tersenyum, cara Devan sangat klise, eh tapi dirinya juga kemarin di tembak Fandy dengan cara yang sama. Berarti? Ya fix Devan meniru konsep dari Fandy.
"Oke deh sayang, jangan pulang malem malem ya. Kalian hati hati."
Sepergian Resya, Friska ganti bertanya pada anak gadisnya satu lagi."Kamu gak keluar sekalian sama pacarmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
