22 - Possessive

3.5K 144 0
                                        

Fayola menghela nafas lega, akhirnya jam istirahat berbunyi. Itu artinya dirinya bisa keluar dari ruangan yang super menegangkan ini. Fayola baru saja rapat dengan anggota OSIS besetra beberapa guru masalah pertandingan basket antar sekolah yang akan diadakan di sekolahnya.

Fayola menuju kantin bersama Devan karena perut keduanya sudah meronta ronta minta diisi makanan. Di koridor mereka berdua mendengar teriakan dari belakang, mereka pun berhenti dan serentak menoleh.

"Kalian mau ke kantin kan? Aku mau bareng sekalian."

Fayola mengangguk angguk, sedangkan Devan masih dengan keterkejutannya.

"Resya, it's you?"tanya Devan, karena gadis di depannya ini tidak seperti biasanya. Rambut yang biasanya terkuncir kuda kini tergerai indah bergelombang, kaos kaki yang biasanya hampir menyentuh lutut itu sudah berganti dengan kaos kaki normal yang tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek, dan yang paling membuatnya asing adalah kacamata yang biasanya melingkar di mata gadis itu digantikan dengan sepasang soflents mata minus yang terlihat sangat cocok dengan mata Resya.

"Iya kak, aku Resya. Aneh ya?"

Devan menggelengkan kepalanya. "Enggak, keliatan beda aja. Gak kaya biasanya. Biasanya udah cantik, tapi ini lebih perfect."

Resya menunduk seraya tersenyum seperti salah tingkah, sedangkan Devan sendiri tiba tiba mengusap tengkuknya. Fayola yang melihat mereka berdua, menautkan alisnya sembari menatap Resya dan Devan bergantian.

"Wait wait wait, adakah sesuatu yang saya lewatkan disini pemirsa? Kalian ada hubungan apa?!"tanya Fayola dengan heboh, bahkan dia sudah mendramatisir keadaan dengan mengangkat kedua tangannya menutupi mulut.

Devan memutar bola matanya malas."Gak ada hubungan apa apa, emang salah gue bilang kalau Resya cantik?"

"Oh no, ternyata kakak gue selama ini punya secret admirer. Oh my god! kasih gue nafas buatan plis."Fayola makin menambah bumbu dramanya, bahkan kini dia menaruh satu tangannya di tembok dan yang satu lagi memegangi kepalanya.

"Fayola plis gak usah too much."ucap Devan kemudian menarik tangan Resya tanpa Fayola sadar.

"Kalian tega banget sama gue, kalian gak ngasih tau gue sejak awal, sejak kapan hah?!"saat Fayola membuka mata dan menatap sekelilingnya ia tersenyum kikuk.

Tidak ada Devan, tidak ada Resya, hanya dirinya seorang yang ditonton oleh beberapa murid. Kemudian Fayola berlari dengan wajah yang ia tutupi karena malu.

"Kurang ajar emang mereka, sekarang mereka kemana hah?!"

Fayola berlari menuju kantin menyusul dua sejoli kurang ajar yang telah meninggalkan dirinya sendirian di koridor seperti orang gila. Saat sampai di pintu kantin dirinya melongo melihat keberadaan seseorang yang rupanya kini menjadi perhatian seisi kantin.

"Mama! Ngapain mama disini?"

"Gabut banget di rumah jadi mama nyusul kesini eh kebetulan ketemu sama Maura, sekalian mama ngecek keadaan kamu."

Fayola mengabsen satu persatu para manusia yang menempati meja yang ditempati oleh mamanya. Ada Maura, Resya, Devan, Lita, dan satu lagi Rian.

"Halo anak cantik, gimana kabar kamu?"Maura menarik Fayola ke dalam pelukannya, dan dibalas oleh Fayola.

"Hai tante, kabar tante baik?"

"Sangat baik, apalagi sekarang bisa ketemu lagi sama menantu cantik."ucap Maura seraya menangkup pipi Fayola. Fayola tersenyum miris dalam hatinya, mengingat hubungannya dengan Fandy yang tidak tau akan dibawa kemana.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang