"Mana makanan kami?!"
Dengan tergesa gesa, seorang wanita paruh baya dengan baju lusuhnya membawa sebuah panci berisi sayuran panas yang baru saja matang.
"Ini Amora, maaf tadi gas nya habis jadi paman mu harus beli di toko depan terlebih dahulu."
Amora tidak menjawab apapun, ia mengambil sayuran yang baru saja dibawa oleh Friska dan menyeruputnya.
Lalu kemudian ia menyemburkannya pada wajah Friska, wanita itu terkejut saat kuah panas itu mengenai wajahnya.
"Makanan apa ini, gak enak sama sekali!"sentak Amora seraya mengangkat tangannya hendak memukul Friska seperti biasa, namun sebuah tangan menghentikkan aksinya.
Gadis itu menoleh ke arah seseorang yang berani beraninya mencekal tangannya, dan saat ia menoleh sebuah siraman jus membasahi wajah dan badannya.
"Dimana letak sopan santun dari direktur yang memimpin perusahaan besar? Ini sangat memalukan, perbuatan anda seperti orang rendahan."
"Miss Odaviéla?"
Fayola hanya menatap datar ke arah Amora. "Kenapa anda terkejut dengan kedatangan saya? Atau anda tidak terima saat saya mengatakan anda rendahan? Minta maaf kepada pembantu anda."
Mendengar perintah Fayola, Amora langsung dengan tegas menolak. "Gak! Ini sudah jadi tugas dia, dan tidak sekali dua kali dia melakukan kesalahan. Dia pantas mendapatkannya! Lagipula siapa anda berani beraninya menyiram saya sepeti ini?!"bentak Amora dengan suara tinggi.
"Oh baiklah, kebetulan saya adalah calon investor saham perusahaan kalian, saya bisa membatalkannya jika anda tidak berkenan kebetulan dokumen yang ditawarkan oleh Mr. Artezi belum saya tanda tangani juga, baiklah miss Amora seperti keinginanmu. Saya izin pamit."
Artezi langsung menceka tangan Fayola. "Miss Oda, jangan dengarkan ucapan ngawurnya itu."Artezi memelototi Amora untuk tidak melawan. "Amora apa yang kamu lakukan?! Cepat minta maaf dan ganti baju mu!"
"Aku minta maaf."ucap Amora singkat kemudian pergi ke kamarnya dengan tergesa gesa sebelum badannya dihinggapi semut.
"Miss Oda silahkan duduk terlebih dahulu, saya akan mengambilkan berkas yang anda inginkan."
Sepergian Artezi, Fayola hanya bersitatap dengan Friska dibalik kacamata hitamnya.
"Terimakasih nona baik, apa nona sudah makan? Saya ambilkan sarapan ya?"tawar Friska sembari mengambilkan piring.
Hati Fayola teriris melihat kondisi mamanya, sejak kecil Friska selalu dibesarkan oleh harta, dan lihatlah kini bahkan tak ada waktu untuk membeli baju. Baju yang dikenakan adalah baju yang sudah lusuh, bahkan rambut yang biasanya terlihat sangat cantik dan terawat kini berminyak dan kusam.
"Silahkan nona."
Fayola mengangguk dan mulai menyendokkan sesendok sayur sop ke dalam mulutnya, ia menahan air matanya yang sudah meronta ronta jatuh. Akhirnya setelah lima tahun ia dapat kembali merasakan masakan mamanya.
Tak lama suara kaki terdengar melangkah terburu buru dari atas tangga. Kemudian muncul lah seorang yang tak kalah Fayola rindukan yaitu Pahlevi. Pria paruh baya itu tak kalah memprihatinkan, hanya memakai kaos putih yang tampak lusuh akibat terkena segala macam kotoran juga celana boxer berwarna hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Fiksi RemajaMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
