Saat ini kelas Fayola sedang melaksanakan pelajaran olahraga, karena guru mereka sedang ada keperluan jadi tidak hadir untuk mengajar. Para anak kelasnya ada yang bermain basket, ada yang bermain sepak bola, kasti, voli, ada yang hanya duduk dan bergosip ria dibawah pohon, ada yang memilih tidur di kelas, ada juga yang makan di kantin.
Fayola memilih untuk bermain basket dengan beberapa anak kelasnya. Saat ia sibuk mendribble bola tiba tiba ada sepatu yang berdiri di depannya.
"Hai teman, pinter juga lo main basketnya."
Fayola menghentikan kegiatannya lalu meletakkan bola di pinggangnya."Lo ngapain berdiri di tengah tengah lapangan ha?"
"Kelas gue jamkos jadi tadi gue duduk disana liat lo main basket makannya gue samperin. Mau gue ajak tanding, berani gak lo?"Fandy menantang Fayola seraya melonggarkan dasi nya benar benar dengan wajah yang sangat menyebalkan di mata Fayola.
Fayola yang kesal mendekatkan wajahnya kearah wajah tengil Fandy. Ia menyibak lengan bajunya ."Heh, siapa takut. AYO!"
Tim di bagi menjadi dua yaitu tim Fandy dan juga tim Fayola. Permainan berjalan dengan sangat sengit, Fayola akui Fandy sangat hebat bermain basket. Ya wajar saja, Fandy adalah kapten basket di SMA mereka.
"Yaampun itu ingus lo keluar, jijik banget."
Fandy meraba hidungnya, kelengahan itu di manfaatkan Fayola untuk menguasai bola yang tadi di dribble oleh Fandy. Fandy yang sadar di bodohi oleh Fayola pun marah marah di tengah lapangan.
"Woi, curang lo."
Fayola yang mendengar teriakan Fandy tertawa sembari terus menggiring bola. Kurang satu loncatan untuk memasukkan bola ke dalam ring, namun tiba tiba sebuah bola melambung tinggi menghantam keras kepala Fayola sampai gadis itu pusing dan berangsur angsur pandangannya gelap.
Semua anak kelasnya dan juga Fandy menghampiri Fayola yang tengah tak sadarkan diri di bawah ring basket. Fandy terlihat begitu khawatir, dengan sigap ia membawa Fayola ke UKS.
Fandy mondar mandir di depan UKS saat petugas memeriksa Fayola, Lalu saat petugas keluar ia langsung menghujani petugas itu dengan berbagai pertanyaan, namun petugas UKS bilang tidak apa apa. Fayola hanya pingsan, dan sebentar lagi mungkin akan sadar.
Perlahan Fayola membuka matanya, dan aroma obat obatan menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Fayola menatap sekelilingnya dengan mata sayu, banyak pertanyaan yang melayang layang di benaknya.
"Fe, lo udah sadar?"Fandy berlari kecil ke arah Fayola lalu memeluknya. Fayola menegang di tempatnya, pelukan Fandy terasa sedikit nyaman?
Fandy melepas pelukan itu lalu menangkup pipi Fayola."Gimana? Ada yang lo rasain gak, pusing atau lebam gitu?"Fandy seraya mengecek per inci wajah Fayola.
"Aduh mata adek ternodai, harusnya adek gak nyamperin mama papa yang lagi berduaan."celetuk Lita yang baru saja masuk ke dalam UKS.
Kedatangan Lita membuat Fayola maupun Fandy langsung salah tingkah, kemudian Lita mendekat ke kasur Fayola dan menanyakan keadannya.
"Gue beliin lo makan dulu di kantin ya, lo belum sarapan kan tadi. Kak jagain temen gue bentar ya, gue gak lama."ucap Lita.
"Fayola juga temen gue kali, udah sana gue titip beliin siomay deh. Nih duitnya, sama beliin punya Fayola, lo kalo mau beli pake duit sendiri aja."Fandy menyodorkan selembar uang seratus ribuan yang diterima Lita dengan mulut yang tak berhenti mendumel.
"Gue gak papa kak, serius. Lo kalau mau balik ke kelas balik aja gak papa."
"Stop panggil gue kak, karena gue bukan kakak lo."Bukannya pergi, Fandy malah naik ke kasur UKS dan duduk di samping kaki Fayola.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
