Jam menunjukkan pukul dua dini hari, seorang pria menyusup ke dalam rumah sakit dengan seragam perawat. Pria itu membawa suntikan yang berisi obat tidur yang disuntikkan pada Anto dan Pahlevi yang malam itu kebetulan berjaga di rumah sakit.
Setelah selesai memberikan suntikan tidur pria itu menelfon rekannya untuk menyeret badan Anto dan Pahlevi yang sudah berada di alam bawah sadar ke kamar mandi. Setelah membereskan kedua pria yang berjaga di depan ruang rawat Resya, dua penyusup itu mendorong brankar menuju mobil yang sudah disiapkan.
"Tunggu, kalian mau kemana?"tanya seorang satpam saat mereka mencapai pintu keluar.
"Pasien akan dipindahkan ke luar negeri ukarena alat disini belum cukup memadai, pihak keluarga sedang mengambil kendaraan."
"Oh ya? Kalau begitu saya akan tanyakan pada dokter, saya tidak mendapat----."
Tak butuh waktu lama satpam itu disuntik bius oleh rekan mereka yang lain dari belakang, sehingga satpam itu kehilangan kesadarannya.
Dengan cepat kedua penyusup itu memasukkan Resya ke dalam mobil yang sudah siap menjemput mereka. Dan mobil jeep berwarna hitam itu melaju meninggalkan rumah sakit menuju tempat yang sepi untuk meledakkan mobil dan menghilangkan nyawa Resya seperti yang sudah Artezi dan Amora rencanakan.
Keesokan paginya, Fayola dan Firga baru saja sampai di sekolah menggunakan mobil karena cuaca cukup mendung hari ini.
Setelah satu bulan bersekolah disini, tidak pernah sekalipun Fayola merasa kesal melihat Firga di sapa oleh para siswi yang memang sengaja stay di depan kelas sebelum bel masuk sekolah, tapi entah mengapa pagi ini cuaca dingin kota Bandung tidak bisa meredakan rasa panas dalam dirinya karena melihat hal itu.
Tanpa ia sadari, kakinya menghentak hentak kesal dan berjalan lebih cepat meninggalkan Firga di belakang yang kebingungan melihat punggung Fayola yang menjauh. Dengan berlari kecil pria itu akhirnya bisa menyusul langkah Fayola.
"Fe, kamu gak papa?"
"Gak, aku mau ke toilet udah kebelet, kakak duluan aja aku mau berak."jawab Fayola datar kemudian membelokkan diri ke kamar mandi terdekat.
Gadis itu berbohong, di dalam kamar mandi dia hanya diam duduk di atas closet seraya bersendekap dada. Ia bingung terhadap dirinya sendiri, kenapa ia merasa cemburu padahal biasanya dia hanya bersikap biasa saja.
Apa mungkin karena sekarang ia tahu bahwa rasa cintanya pada Firga tidak bertepuk sebelah tangan jadi ia merasa terganggu? Tapi dia sendiri saja masih bingung dengan perasaan yang ia miliki untuk Firga apakah benar rasa cinta atau mungkin rasa kagum semata. Fayola mengacak acak rambutnya memikirkan kerumitan perasaannya, ia keluar dari bilik kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel dan menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan dua orang gadis yang bisa Fayola duga adalah kakak kelas karena warna bed di lengan kanan seregam meraka, Dua gadis itu langsung menyapa Fayola dengan senyum manisnya.
"Hai Ola!"sapa salah satu diantara mereka, Fayola hanya membalasnya dengan senyuman karena ia merasa tidak mengenal kedua gadis itu.
"Eh, kamu tau abang kamu lagi ada deket sama cewek gak?"tanya gadis dengan nama Dhea, yang tadi nametag nya sempat terbaca sekilas oleh Fayola.
"Aku anak tunggal sih kebetulan, siapa ya yang kakak maksut?"tanya Fayola kebingungan.
Dua gadis itu terkejut. "Loh itu si Firga, bukannya dia abang kamu? Dia sendiri yang bilang kalau kamu adiknya."jawab teman dari Dhea yang bernama Agnes.
Jawaban tersebut membuat Fayola tersentak, mungkinkah dia salah menangkap maksut perkataan Madona. Firga menyayanginya sebagai seorang adik, bukan seorang yang ah sudahlah Fayola sudah kepalang malu dengan kepercayaan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
