62 - Its Your Day

19 0 0
                                        

Pagi ini terasa lebih cerah dari biasanya, Fayola bangun dari tidur nyenyaknya. Sudah lama ia tidak terbangun dengan perasaan bahagia tanpa dibebani rasa cemas.

Ia meregangkan badannya, kemudian membuka gorden membiarkan panas matahari pagi menghangatkan isi kamar.

Fayola melamun seraya bersandar di jendela, tanpa sadar bibirnya menerbitkan sebuah senyuman. Kini ia bebas dari tuduhan, dan yang tak kalah membuatnya berbunga bunga adalah statusnya sebagai pacar Firga.

"Pacar aku udah di bawah belum ya."gumam Fayola, biasanya di hari weekend seperti ini pria itu sudah duduk di meja makan berbincang dengan Madona atau memberi makan kucing di halaman belakang rumah.

Akhirnya gadis itu memilih untuk mencuci mukanya terlebih dahulu, dan setelah itu tanpa mengganti piyama tidurnya ia turun kebawah.

Suara sandal teplek miliknya mengisi keheningan rumah Madona pagi ini, gadis itu terheran heran melihat rumah yang sangat sepi.

Tidak ada Firga yang duduk di meja makan maupun di ruang tengah. Madona juga sama, wanita tua itu tidak terlihat dimana pun.

Fayola memilih mencari di halaman belakang rumah sampai ke taman depan namun nihil tidak ada siapapun.

Tiba tiba pundaknya di tepuk dari belakang, Fayola yang kaget itu langsung refleks terlonjak. Ternyata satpam rumah Madona.

"Aih pak Erwin bikin saya kaget aja."

Satpam rumah itu sedikit menunduk seraya tertawa kecil. "Maaf non, sepertinya nona membutuhkan sesuatu, ada yang bisa saya bantu?"

"Enggak kok pak, mau tanya aja neda sama bibi, kok rumah sepi sih pak."

"Nyonya sama bibi lagi ada acara pagi tadi berangkat, katanya sih mau arisan ya di luar kota."jawab pak Erwin.

Fayola membulatkan mulutnya. "Oh pantes, trus kak Firga ada kesini gak ya pak?"

"Belum sih non, dari tadi saya jaga di depan gak ada yang datang."

Gadis itu menghembuskan nafasnya, mungkin Firga bangun kesiangan hari ini. "Yaudah deh pak, aku mau keluar aja cari sarapan. Bibi gak ninggalin makanan apapun. Pak Erwin mau nitip?"

"Tidak usah non terimakasih, tadi udah beli di warung depan sarapan sekalian sama kopi."

"Oke deh pak, aku beli sarapan dulu ya."pamit Fayola.

"Hati hati non."

Setelah punggung Fayola hilang di belokan pagar, pak Erwin mengeluarkan ponsel menelfon majikannya.

"Non Ola keluar cari makan bu, tenang saja percayakan non Ola pada saya. Nyonya sama den Firga fokus saja menyiapkan kejutan untuk acara nanti malam."

Setelah telfon ditutup pak Erwin tertawa cekikikan, ini semu adalah ide Madona yang ingin memberikan kejutan untuk ulang tahun Fayola.

Fayola sendiri berjalan menyusuri jalan perumahan, rencananya ia akan membeli bubur di depan gang. Ia mengangkat tangannya dan menghirup udara, ia sangat suka dengan suasana pagi.

Tiba tiba ia mendengar suara tangisan, ternyta suara itu berasal dari seorang anak laki laki yang sedang menangis dengan pakaian lusuhnya sedang berjongkok di tengah jalan lima ratus meter di depannya.

Dengan cepat gadis itu menghampiri anak laki laki itu untuk menanyakan keadaannya.

"Adik kenapa nangis disini?"

Anak kecil itu tidak menjawab dan malah mengencangkan tangisannya. Fayola semakin bingung jadi ia berjongkok dan mengelus pundak anak kecil itu sembari terus bertanya ada apa sebenarnya.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang