Setelah menghadapi kedua lelaki gila tadi, Fayola memutuskan mencari Lita, Resya, dan Devan. Namun saat di koridor tangannya ditarik oleh seseorang kedalam salah satu ruang kelas.
Lalu ruang kelas itu dikunci, Fayola menoleh ke belakang kelas dimana ada seorang gadis yang sedang duduk seraya memainkan kukunya. Melihat wajah tidak berdosa gadis itu membuat Fayola menggertakan giginya.
"Apa maksut lo narik gue kesini Yura?!"teriak Fayola.
"Santai dong, gak usah heboh gitu."
"Karena lo gila!"
Yura beranjak dari duduknya menghampiri Fayola dengan langkah cepat. Lalu saat mereka sudah berhadapan, Yura mencengkram dagu Fayola. Fayola memberontak karena kedua tangannya di cekal oleh anak buah Yura.
"Biar gue tunjukkin apa arti dari gila itu."ucap Yura menggertak, tangan Yura di dagu Fayola kian mengerat.
"Lepasin gue sialan!"
"Gak akan Fayola, lo udah ngusik ketenangan gue!"Yura berteriak tepat di depan wajah Fayola, sedangkan Fayola ditempatnya tak bereaksi apa apa dia masih memandang Yura dengan tatapan marahnya.
"Lo rebut Fandy dari gue! Fandy itu milik gue, dunia gue. Kenapa lo jahat banget sama gue?! Kalau aja lo gak kegatelan, sekarang Fandy masih milik gue. Harusnya lo gak usah hadir di hidup Fandy, harusnya gue yang sekarang jadi cewenya bukan lo!"Yura berteriak kesetanan sampai air matanya keluar, lalu tanpa aba aba ia mencekik leher Fayola sampai Fayola terdorong ke belakang dan punggungnya menyentuh papan tulis.
"Lo gila Yura! Lepasin tangan lo!"teriak Fayola seraya berusaha melepaskan tangan Yura yang sangat kuat mencengkram lehernya.
"Gue gila karena lo udah ngerebut apa yang udah jadi milik gue bitch!"
"Kalau lo pergi, gue bisa dapetin apa yang seharusnya udah jadi milik gue!"
"Gue gak peduli lo akan mati disini, papi gue akan membersihkan nama gue seperti biasanya, dan gue gak akan dapat hukuman. Tapi lihat keadaan lo yang menyedihkan? Lo akan mati di tangan gue Fayola hahahaha."
Yura terus berbicara sedangkan Fayola berusaha untuk terus bernafas meskipun udara di sekitarnya sudah mulai menipis. Akhirnya terpikirkan sebuah ide, Fayola menendang perut Yura hingga membuat gadis itu terlempar dan cengkramannya terlepas.
"Yura!"
Suara teriakan dari pintu membuat mereka semua menoleh, lalu masuklah Fandy dan membantu Yura berdiri.
"Terimakasih tuhan."ucap Fayola lirih seraya mengelus lehernya, lalu ia berjalan tertatih keluar.
Setelah punggung Fayola tak terlihat, Fandy mengetikkan sesuatu untuk Devan. Lalu Fandy menatap marah ke arah Yura dan dua temannya.
"Kalian apain Fayola?"
"Fan, dia yang nendang aku. Kenapa kamu malah nuduh kita?"
"Lo apain Fayola, Yura?!"
Yura terlonjak mendengar teriakan Fandy.
"Kenapa kamu gak percaya sih sama aku, aku gak ngapa ngapain dia."
"Gak ada asap kalau gak ada api, Fayola gak akan mulai kalau kalian gak ngapa ngapain dia!"
"Kalian berdua bisa tolong keluar? Gue mau ngobrol berdua sama Yura."ucap Fandy seraya menatap kedua teman sekelasnya.
Sepergian dua teman sekelasnya itu Fandy menatap ke arah Yura dengan tatapan marah. "Gue capek yur sama lo, gue gak bisa bohong gue gak nyaman ada di posisi ini. Gue masih pacarnya Fayola, tapi gue ngerasa gak becus buat dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
