60 - Revealed

5K 149 5
                                        

Sore itu, langit menggantung rendah di atas pemakaman. Awan kelabu berarak pelan, seolah enggan benar-benar pergi. Angin sore membawa bau tanah basah dan bunga kamboja yang gugur. Daunnya berserakan, sebagian menempel di batu nisan, sebagian lagi terinjak oleh langkah orang-orang yang tadi siang datang melayat. Kini, pemakaman mulai sepi. Hanya terdengar suara jangkrik yang perlahan mengambil alih kesunyian.

Fayola menunduk, meletakkan bunga itu di atas tanah, tepat di samping gundukan yang masih tampak baru. Tanahnya belum padat, warnanya lebih gelap dari sekitarnya. 

Air matanya jatuh perlahan seiringan dengan badannya yang ambruk memeluk nisan milik gadis yang menjadi kakak angkatnya hampir satu tahun, tak peduli baju miliknya kotor terkena tanah ia menangisi kepergian Resya, menangisi nasibnya kedepan, menangisi takdirnya.

"Kak, kenapa tega banget ninggalin aku secepat ini."gumam Fayola di sela sela tangisannya, Firga yang datang bersamanya mengelus pundak gadis itu berusaha menyalurkan kekuatan.

Miko yang memang menemani mereka berdua hanya bisa terdiam di tempatnya, bahkan untuk sekedar menyuruh Fayola sabar rasanya tak pantas. 

Cukup lama mereka bertiga di makam itu tanpa obrolan apapun hanya terdengar suara tangisan milik Fayola, sampai pada akhirnya tangisan itu hilang berganti suara pekikan dari Miko yang terkejut saat Fayola tiba tiba pingsan.

Akhirnya Firga dan Miko membawa Fayola pergi dari pemakaman tersebut menuju rumah Miko untuk memeriksa keadaan gadis itu.

Tanpa mereka sadari, terdapat seseorang yang sedang mengawasi keberadaan mereka dari dalam mobil hitam. Dan orang itu kini mengeluarkan ponsel untuk memberi informasi pada atasan dan juga rekan rekannya.

"Target pingsan dan dibawa pergi oleh dua pria yang datang bersamanya, mereka ke arah timur."

"Terus awasi dia, saya tidak mau kehilangan jejak perempuan sialan itu lagi."

"Baik tuan."

Mobil hitam itu bergegas pergi untuk mengikuti mobil milik Firga yang sedang ia pantau dari ponsel karena ia sudah memasangkan sebuah chip kecil berupa sebuah alat pelacak di ban mobil milik Firga.

Mobil hitam itu bergegas pergi untuk mengikuti arahan gmaps yang sedang ia pantau dari ponsel setelah tadi memasangkan sebuah chip kecil berupa sebuah alat pelacak di ban mobil milik Firga.

Fayola masih pingsan saat tiba di rumah Miko, Firga menggendongnya masuk ke dalam rumah sementara Miko membukakan pintu.

Dokter keluarga Miko langsung memeriksa kondisi Fayola yang lemah, setelah memberikan vitamin dokter tersebut berpamitan untuk pergi.

Tak butuh waktu lama Fayola sudah bangun, dan Firga dengan sigap membantunya bangun dan mengambilkan air minum. Setelah itu memberikan suplemen vitamin yang diberikan oleh dokter tadi.

"Aku udah gak papa kak, ayo kita pulang. Pasti neda khawatir kita belum pulang."ucap Fayola dengan tatapan memohon, sedangkan Firga hanya mengangguk. Pria itu tau kekhawatiran Fayola bukan hanya soal Madona, tapi rumah Miko yang tak sepenuhnya aman untuk mereka bersembunyi.

Di sepanjang perjalanan pulang, mobil milik Firga hanya diisi oleh keheningan. Fayola sibuk menatap arah luar jendela, dan Firga yang terlihat tidak tenang di bangku sopirnya. Perlahan tangan kirinya yang menganggur ia gunakan untuk meraih tangan Fayola.

"Everything will be fine, i'll stay in your side."ucap Firga dengan lirih, namun karena suasana sangat hening Fayola tetap bisa mendengarnya. Meskipun begitu gadis itu sama sekali tidak menoleh, hatinya masih sedikit sakit mengingat hubungan mereka berdua.

Dear, FayolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang