Musim pembelajaraan semester baru telah dimulai, namun gadis yang telah menghilang sejak tiga bulan yang lalu belum juga kembali, ia menghilang tanpa jejak meninggalkan banyak pertanyaan di benak orang orang yang masih menunggunya.
Orang yang paling terpukul atas hilangnya Fayola adalah Lita, gadis itu kini menjadi pendiam. Bahkan kini ia sudah tidak pernah memarahi Rian, jika pria itu melakukan hal yang menyebalkan Lita memilih untuk pergi daripada bereaksi. Kehilangan teman sedekat nadinya membuat gadis itu kehilangan arah, bahkan Lita tak repot repot mencari teman baru. Kini hanya ada Rian yang menemaninya entah di sekolah maupun di rumah.
Tak hanya Lita, tapi Devan yang terlihat biasa saja juga tak kalah terpukul. Pria itu kini terlihat lebih kurus dengan kantung mata yang semakin hari semakin menghitam. Setelah menamatkan sekolah menengah atasnya dengan predikat murid terbaik seangkatan, kini Devan sibuk memimpin anak perusahaan milik papanya. Tidak hanya mengurus perusahaan, tapi pria itu harus bolak balik rumah sakit mengecek kondisi kekasihnya dan masih terus mencari Fayola yang masih belum diketahui kebedarannya.
Sedangkan gadis yang mereka cari selama tiga bulan itu hanya berdiam diri di rumah Madona untuk homeschooling dan pergi ke psikolog untuk mengobati traumanya. Beberapa kali Firga juga mengajaknya keluar mengelilingi Bandung, pria itu sangat membantu Fayola beberapa bulan ini. Menemaninya ke psikolog, mengenalkan banyak hal hal baru, menjadi teman berbincang, mengusap air matanya ketika ia merindukan keluarga dan teman temannya, menyediakan pundak serta memberinya wejangan jika tiba tiba teringat momen bersama mantan kekasih.
Dengan ditemani Madona, Fayola sekarang berada di ruang kepala sekolah untuk dijelaskan aturan sekolah dan juga kelas yang akan ia tempati. Tak butuh waktu lama, setelah berbincang bincang kurang lebih lima belas menit Fayola diantarkan oleh seorang guru menuju kelasnya yang ternyata ada di lantai dua.
Sekolah yang dicarikan Madona untuk Fayola tidak berbeda jauh dari Luminari Cita, bedanya di sekolahnya sekarang lebih private siswa per angkatannya terbatas hanya 150 anak, dan per kelas hanya berisi dua puluh anak. Madona benar benar ingin menjaga Fayola agar identitas gadis itu tidak tersebar luas, meskipun wanita tua itu telah mengganti identitas Fayola tapi rasa was wasnya masih ada.
Dengan tangan yang bertautan satu sama lain, Fayola berjalan masuk ke dalam kelas. Rasanya aneh setelah beberapa bulan ini dirinya tidak berinteraksi dengan orang sebanyak ini, dan masih ada sedikit ketakutan mengingat kejadian terakhirnya di sekolah. Fayola menarik nafasnya sebelum akhirnya tersenyum dan menyapa teman barunya.
"Halo semuanya perkenalkan nama saya Ola Kaely Edlyn, kalian bisa panggil saya Ola. Senang bertemu dengan kalian semua."Fayola mengangkat tangan kanannya seraya tersenyum kikuk.
Namun respon yang diberikan oleh teman teman sekelasnya membuat rasa takut Fayola hilang, ia disambut dengan hangat. Bahkan kini mereka sudah mengerubungi bangkunya dan mengajak Fayola berkenalan dengan berjabat tangan.
"Hai neng, kenalin nama aku Andrew Bintang Fahreyza, kamu bisa panggil aku sayang."ucap seorang laki laki dengan dasi yang terikat di kepalanya. Fayola tersenyum kemudian menjabat tangan pria yang menjadi teman sebangkunya itu.
"Heh bintang kecil, kamu gak usah genit ke anak orang ya!"ucap seorang gadis dari bangku samping di belakang Bintang, yang Fayola ingat namanya Lily.
Bintang membalikkan badan kemudian menatap Lily dengan sinis. "Diem kamu lintah darat, kamu cemburu ya aku godain Ola? Eh aku kasih tau ya, kamu teh bukan tipe aku."ucap Bintang yang membuat Lily bergidik geli.
Melihat interaksi Bintang dan Lily membuat sudut bibir Fayola naik ke atas, ia jadi teringat dengan dua orang yang tak pernah absen bertengkar di setiap harinya, Lita dan Rian. Tiba tiba rasa sesak menyusup kembali ke dalam hatinya, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha agar air matanya tidak terjun bebas sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
