Malam itu terasa seperti sebuah mimpi buruk bagi Lita. Sekarang dihadapannya sudah ada Rian dengan senyuman manisnya yang entah mengapa sangat menyebalkan di mata Lita.
Papa Lita memberikan microphone itu pada Rian, lalu Rian mulai membuka suara. Keadaan kembali hening, bangku milik Fayola dan teman temannya yang tadinya kompak membuat kericuhan juga ikut terdiam, menunggu kalimat yang akan lolos dari bibir Rian. Karena setahu mereka Rian adalah sosok yang tengil dan humoris, pasti pria itu akan melakukan stand up comedy dadakan di depan.
"Lolita Agnez Frederick, gadis yang saya sukai sejak awal kami sekelas. Awalnya saya hanya merasa kagum dengan dia, tapi lama kelamaan melihat sisi kelembutan hatinya, saya menyadari kalau saya telah jatuh cinta dengan dia."
"Hari demi hari saya berusaha untuk menghilangkan perasaan saya yang terlalu lancang menyukai putri kesayangan dari bapak Alfares Frederick ini, namun kenyataannya saya sudah jatuh terlalu dalam."
"Sampai akhirnya saya bertemu dengan bu Angelica Frederick di ruang tamu rumah saya sore itu. Benar benar sebuah keajaiban ternyata bu Angel adalah sahabat dari mama saya tercinta. Waktu itu bu Angel bercanda dengan mama kalau akan menjodohkan kami berdua dan tentu saya bersorak kegirangan meskipun saya tahu itu hanya sebuah candaan, tapi saya melihat satu titik harapan disana."
"Lalu akhir akhir ini saya sering membantu mama dari memasak, berkebun, bahkan hal yang paling saya benci yaitu membersihkan kandang Boni si Kucing kesayangan mama, saya melakukan itu semua untuk mencuri sedikit demi sedikit informasi tentang Lita. Meskipun kebanyakan informasi yang saya dapat selalu berhasil melukai hati saya, karena Lita sudah punya laki laki yang biasa disebut HTS."
Lita yang tadinya mendengarkan ucapan Rian langsung menggeplak lengan Rian.
"Jangan diceritain detail detailnya juga!" bisik Lita.
"Lalu pada akhirnya di pertemuan saya yang kedua dengan bu Angel saya dengan lantang memberitahu kalau saya mencintai anaknya. Jelas disitu seperti dugaan saya, bu Angel dan juga mama terkejut. Disitu saya berfikir akankah harapan ini akan saya pendam karena tidak adanya restu dari orang tua kami, Lita yang terlihat sempurna bersanding dengan laki laki yang terlihat seperti mas mas benerin wifi ini."
Para tamu undangan tertawa, memang Rian ini tidak terlalu bakat untuk berbicara serius. Ya meskipun awalnya dia sudah berusaha keras namun akhirnya kalimat asbun dari mulutnya tetap akan keluar.
"Tapi tidak saya duga, bu Angel dan mama malah bersorak senang, bahkan saya diajak muter muter bertiga. Mereka bilang akhirnya mimpi mereka untuk besanan bisa terwujud. Akhirnya kami mengatur waktu untuk bertemu beserta pak Dion dan juga papa saya. Saya kira malam itu Lita akan membersamai kami, tapi ternyata tidak. Bu Angel dan pak Dion bilang akan menjadikan ini sebagai surprise dan seratus persen yakin Lita akan menyetujui hal ini."
"Dan hari ini tiba, jujur sejak datang disini saya tidak bisa mendeskripsikan lagi apa yang saya rasakan. Sekarang dada saya sudah seperti petasan yang terus terusan meledak, kaki saya rasanya kaya jelly yang belum nge set sempurna, goyang goyang gitu."
"Jadi, Lolita Agnez Frederick will you wanna be my fiancee?"
Rian berlutut dan membuka kotak cincin yang baru saja ia keluarkan dari kantong kemeja nya. Lita terkejut bahkan kata kata makian yang tadi siap ia luncurkan lenyap begitu saja, tiba tiba pundaknya ditepuk mamanya.
"Sayang, ingat janji kamu malam itu."
Pikiran Lita terlempar pada beberapa minggu yang lalu, saat itu Lita sudah siap dengan dressnya. Dirinya akan pergi kencan dengan William, laki laki yang satu bulanan ini dekat dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Teen FictionMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
