Sebelum lanjut membaca, tarik napas panjang dulu, ya. Duduk yang nyaman, dan luangkan waktu sejenak—karena bab kali ini akan jauh lebih panjang dari bab-bab sebelumnya.
And Let's...
GO!
Sepulang sekolah, kami benar-benar mampir ke warung kopi langganan, sesuai janji yang kuucapkan tadi pagi. Tempat yang sama seperti biasanya—langit sore yang perlahan berubah keemasan, sepedaku terparkir malas di aspal depan, dan aroma kopi yang seolah sudah menunggu kedatangan kami sejak lama.
Uniknya, kami tidak memesan kopi sama sekali, melainkan roti bakar dan es susu cokelat, sembari duduk santai di kursi cozy yang khas coffee shop. Ya, meski warung ini langgananku, aku tak pernah sekali pun memesan kopi. Aku lebih menyukai roti bakarnya, dan tentu saja, minuman non-kopi.
"Cadby." Alex mulai bicara sambil mengaduk-aduk es susu cokelat pesanannya.
Aku menoleh. Raut wajahnya masih sama seperti tadi pagi—tidak seceria biasanya.
"Ada banyak hal di sana." Belum sempat aku bertanya, Alex sudah lebih dulu angkat bicara, seakan tahu persis apa yang ingin kutanyakan.
Dan entah sejak kapan, Alex mulai menceritakan detail kejadian yang ia dan Ella alami di ruangan misterius kemarin itu. Cara ia bercerita begitu hidup, sampai-sampai rasanya aku ikut berada di sana bersama mereka.
~
Hari itu, Alex dan Ella berhasil membuka pintu ruangan bertuliskan P.C.S—pintu besar dari baja, berwarna silver mengkilat, yang hanya bisa terbuka secara otomatis melalui pengenalan wajah.
Meski begitu, mereka tetap berhasil masuk berkat alat canggih buatan Alex.
Di luar dugaan, ruangan di baliknya ternyata kecil—hanya sekotak ruang sempit, namun penuh sesak oleh komputer-komputer tabung tua yang masih lengkap dengan keyboard, mouse, bahkan unit PC-nya. Di atas setiap meja, tergeletak tumpukan berkas dokumen. Dindingnya tidak dicat, hanya bata yang dilapisi semen kasar, tak jauh berbeda dengan tampilan luar ruangan itu. Lantainya berkeramik ukuran 30×30 sentimeter, dan sebagian besar sudah retak dan rusak.
"Sia-sia kita ke sini, El." keluh Alex.
"Nggak mungkin, Lex." Ella menggeleng tegas, kakinya terus melangkah masuk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau ini cuma ruangan biasa, nggak mungkin dikasih pintu baja dan dikunci seketat itu." tegasnya. Ia berjalan mendekati meja, mengambil berkas-berkas di atasnya, menyibak halaman demi halaman satu per satu. "Coba kita lihat isi berkas-berkas ini."
Alex mendekat, memperhatikan setiap halaman yang dibuka Ella.
"Setiap berkas ini mengarah ke satu tujuan yang sama." Ella berhenti menyibak halaman, membiarkan berkas-berkas itu tetap terbuka di atas meja.
Banyak potongan koran, artikel, dan tulisan lain yang semuanya menyebut satu nama yang sama.
"Liliana Bii." ucap mereka nyaris bersamaan. Keduanya saling bertatapan.
Alex mengerutkan dahi, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain—ke deretan komputer tua di sudut ruangan.
"Kukira ini cuma ruang komputer lama." gumamnya. "Apa komputer-komputer ini masih bisa nyala?" Ia mendekati salah satu unit terdekat, mencoba menyalakannya.
"Melihat berkas-berkas yang sudah usang begini, kecil kemungkinan komputer-komputer itu masih hidup." sahut Ella tanpa mengalihkan fokus dari berkas di tangannya. "Tapi aku yakin kamu pasti bisa menyalakan salah satu dari monitor-monitor itu. Kamu kan manusia canggih, Lex. Hehe." godanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
