The LXXIII : Panggung yang Diwariskan

16 2 0
                                        


GO!

Beberapa hari yang lalu.

Mobil Alphard hitam melaju tenang di jalan tol menuju pusat kota. Kaca jendela digelapkan penuh, meredam suara klakson dan deru kendaraan lain di luar sana. Di dalamnya, aku sedang melepas dasi sekolah, satu per satu kancing kemeja kubuka, lalu kuganti dengan kemeja putih baru yang sudah disiapkan sopir pribadiku di gantungan belakang jok.

Seragam Libii Academy kulipat rapi, kutaruh di kursi sebelah. Jas hitam menyusul, kupasang di atas kemeja baru. Dasi hitam polos kukencangkan di depan cermin kecil yang terpasang di balik sun visor.

Umurku belum genap lima belas tahun. Tapi tinggi badanku tidak pernah mengizinkan siapa pun menganggapku remaja biasa.

Erlando duduk di kursi seberang, sudah lebih dulu berganti pakaian—meski jelas masih canggung memakainya, kerah kemejanya sedikit miring.

"Pouch-nya, Jo." Ia menyodorkan sebuah dompet tangan hitam berbahan kulit, cukup besar untuk menampung buku putih legendarisku dan satu botol ramuan golden yang masih berpendar pelan di dalamnya.

Aku menerimanya, menyelipkannya di bawah lengan.

Mobil berhenti di depan lobi hotel bintang lima. Aku turun lebih dulu, langkahku mantap dan tegas. Aura dingin selalu jadi bayangan yang mengikuti setiap gerakanku, entah aku memintanya atau tidak.

Erlando berjalan di belakangku, menenteng tablet.

"Yayasan ada di kamar paling atas, Jo," katanya sambil menekan tombol lift.

"Udah tau," jawabku singkat.

Glek. Erlando menelan ludah, sadar informasinya barusan sia-sia.

Pintu lift terbuka—khusus tamu VIP, tiga sisi dindingnya cermin, memantulkan diriku berkali-kali seolah ingin memastikan aku benar-benar seorang diri di sana.

"Gue denger-denger hotel ini punya keluarga Shisy. Bestie-nya Lily," kata Erlando, mencoba mencairkan suasana.

"Emang nyatanya begitu," jawabku datar, tanpa menoleh.

"Omong-omong, perlu apa lagi kita sama beliau?"

Aku diam sebentar. Tanganku merapatkan pouch di bawah lenganku.

"Sekolah kita lagi jadi ancaman media. Juga aparat kepolisian." Aku menatap pintu lift, ke bayangan diriku yang buram karena pantulan logam. "Kalau kita telat lapor ke Yayasan, sekolah bisa dihentikan paksa. Dan ayahku bisa masuk penjara."

Erlando tertawa kecil. Refleks, bukan sengaja.

Aku menoleh. Tatapanku cukup untuk membuatnya langsung menunduk.

"Nggak—nggak bermaksud," katanya cepat. "Ayah lo kan bukan Yayasan. Buat apa lo takut sejauh itu."

"Kita semua masuk lima besar penyumbang terbesar sekolah," ucapku pelan, nyaris tanpa nada. "Beberapa dari kita dapat fasilitas lebih karena itu. Ayahku urutan kedua, setelah keluarga Ken. Ketiga, Lily—anak kelas tujuh. Keempat, Jefry. Dan terakhir, Ella."

Erlando terdiam.

"Kalau sekolah runtuh, bukan cuma reputasi sekolah yang ikut runtuh. Nama keluarga kita juga." Aku menegakkan badan, mataku kembali ke pintu lift yang mengilap. "Orangtua kita bisa saja berkilah—bilang mereka cuma menyumbang, tidak tahu-menahu soal sistem kelas reguler. Tapi—"

"Tapi apa?"

"Sayangnya sekolah kita punya terlalu banyak bukti. Terlalu banyak tanda tangan, dokumentasi resmi bersama Yayasan. Mustahil semuanya bisa dihapus dalam semalam."

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang