Mau berapa kali pun menyangkal, mau berapa kali pun memaksakan, jika hati sudah kena.
Penyakit.
Itu seharusnya di lepaskan bukan?
Drama | Angst | Romantic Comedy
[⚠️Not for Child cause a lot of harsh words and adult things!!]
[Started 1 June 2020]...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Waktu makan malam telah tiba, maka yang di lakukan Jennie adalah keluar dari kamar nya menuju dapur. Melihat-lihat beberapa bahan makanan yang tersedia, namun perut nya nyeri mendadak. Cacing-cacing di perut nya sudah meronta hampir setengah jam yang lalu, membuat ia lebih memilih memasak ramyunyang paling praktis untuk di buat.
Tak sampai 3 menit, ramyundengan kuah pedas yang sangat menggugah selera buatan nya sudah jadi. Kini ia membawa mangkok itu dan menduduki bokong nya di sofa yang sama dengan Taehyung yang telah menunggu nya.
"Ya, kau memasak ramyun?!." Pekik Taehyung. "Padahal aku sudah membeli bahan masakan sangat lengkap! Kenapa tidak masak saja sih?."
"Kau saja yang lakukan sana, aku lapar!." Keluh Jennie yang mulai menyantap ramyunnya.
Taehyung juga merasa lapar. Belum lagi melihat Jennie yang tampak sangat menikmati ramyunitu, membuat lelaki itu meneguk saliva nya kencang serta perut yang keroncongan. Ia juga ingin ramyunitu.
"Aku juga mau." Ucap Taehyung yang langsung menarik mangkok ramyunJennie.
Dan baru saja ingin menyicipi mie itu. Jennie merebut kembali mangkok nya. "Yak!! Kembalikan mie ku!!."
"Aku lapar!."
"Masak sendiri sana!."
"Punya mu ini untuk ku saja, kau masak saja lagi!."
"Tidak mau! Aku malas! Masak saja sendiri!."
"Ayolah berikan pada ku!."
Jennie sudah muak melihat wajah memelas Taehyung yang baginya seperti monyet itu. Langsung saja ia menendang kuat Taehyung, yang membuat lelaki itu tersungkur ke lantai.
"YA!!." Teriak Taehyung sembari mengelus bokong nya yang tadi menjadi sasaran wanita tak punya hati baginya itu. "Tenaga apa itu? Kau ini kuli bangunan huh? Dasar wanita gila!."
Jennie merotasikan bola matanya. Lebih memilih tak meladeni dan lanjut menyantap ramyunnya. "Sebentar lagi aku mau tidur! Cepat katakan masalah liburan itu!."
Taehyung pun berdeham pelan, sebelum duduk kembali di sebelah gadis itu. "Sebenarnya ayah ku dan daddy mu sudah memyiapkan liburan kita ke Swiss." Ungkap Taehyung. "Tapi karena aku takut kau tak suka, makanya aku menanya pendapat mu. Siapa tahu kau memiliki keinginan di kota lain?."
"Tidak usah sokpengertian! Kau saja pengangguran! Banyak gaya! Terima saja yang sudah di beri orang tua kita itu! Dasar." Jennie menatap nya jijik. "Tidak tahu diri."
"Y-ya siapa tahu kau ingin ke tempat lain?." Lirih Taehyung yang tak di pedulikan Jennie. "Ya!! Lagian kau beruntung memiliki suami pengertian seperti ku! Kau sama saja tak tahu diri nya!."
"Ya, jika aku tidak tahu diri. Aku tidak akan menolak pemberian orang tua ku yang jelas-jelas sudah sangat baik memberikan liburan ke negera orang! Dasar, mengaca sana!!."
Setelahnya yang Jennie lihat, lelaki itu tampak mendumel dengan wajah kesal menatap nya. Namun ia tak peduli, ia lebih melanjutkan acara makan nya yang sempat tertunda untuk meladeni monyet satu ini.
"Ngomong-ngomong." Itu Taehyung, berdeham pelan saat Jennie melirik nya. "Kenapa kencan kalian sebentar sekali? Kalian berkelahi?."
"Li! Kau kenapa?!." Panik Jennie begitumelihat Lisa yang tampakgelisah di matanya.
"A-anu. S-sepertinya." Iaberbicarasedikitterbata, dan menatap Jennie dengansenyumanmeyakinkan. "Aku melupakan makanan Leo! Astagasepertinya aku haruskembalikeapartemenku, Sorry Jane!."
Hah Jennie tetiba mengingat kejadian itu, sempat mengutuk salah satu kucing milik Lisa yang menjadi dalang batalnya acara kencan mereka. Pun lokasi apartemen Lisa dengan rumah nya sangat jauh, ia tak ingin merepotkan gadis itupun tentu saja tak menolak untuk di antarkan kembali pulang.
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah bertengkar dengan nya." Jawab Jennie. "Ah, kecuali saat aku menikah dengan mu." Lanjutnya yang membuat Taehyung mengangguk paham. "Kenapa bertanya? Kau juga berkelahi dengan kekasih mu?."
"Tidak ada, hanya bertanya saja. Ku pikir kalian berkelahi."
"Oh."
Setelahnya keduanya sama-sama diam. Lebih tepatnya Taehyung. Karena Jennie masih menikmati ramyun nya yang membuat lelaki di samping nya itu sedikit canggung melihat nya makan, entah kenapa. Namun tentu nya Jennie sadar akan hal itu, buktinya ia menoleh kearah lelaki itu dengan wajah tak suka.
"Kenapa lihat-lihat? Kau mau ini juga?." Taehyung mengangguk kencang. "Yasudah." Mendadak mata Taehyung membinar, merasa gadis itu akan memasakkan nya ramyun juga. "Masak sendiri sana." Ucap Jennie yang membuat senyum lelaki itu luntur.
"Dasar menyebalkan!." Kesal Taehyung yang langsung mencubit kedua pipi Jennie yang membuat gadis itu terkejut.
"Y-ya!! Sakit sialan!!." Umpat Jennie yang reflek menampar wajah mulus Taehyung.
Plak!!
"Awh!!." Aduh Taehyung, merasakan perih pada bibirnya yang masih berbekas luka. "Ahh sakit sekali." Lirih nya yang membuat mata Jennie sedikit memicing saat melihat sedikit cairan merah keluar di bibir Taehyung.
"Kau tidak membersihkan luka mu tadi?!." Tanya Jennie dengan nada tinggi, membuat lelaki malang itu sedikit takut dengan nya. "Aish si monyet satu ini!." Lantas gadis itu beranjak dari duduk nya, pergi entah kemana Taehyung pun tak tahu.
Tak sampai 5 menit, gadis itu datang dengan membawa kotak p3k yang membuat Taehyung mengernyit saat gadis itu menyuruhkan mendekat. Namun ia tetap mematuhi nya. Dengan wajah memerah tentu nya, karena ia sedikit melirik Jennie yang tampak teliti membersihkan luka di bibir nya.
Setelah memberikan plaster pada ujung bibir lelaki itu, Jennie pun tersenyum lega. "Nah sudah selesai! Sebagai permintaan maaf ku, aku akan membuatkan mu ramyun!."
"T-tidak usah!." Balas Taehyung. "A-aku sudah kenyang!."
"Hum?." Jennie menatap nya bingung. "Tadi kau bilang kau lap~."
"Sudah malam, cepat makan dan tidur setelah itu." Potong Taehyung yang langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kamar nya. Meninggalkan Jennie yang kebingungan dengan tingkah Taehyung dan jangan lupakan juga, ia melihat wajah lelaki itu memerah yang ia yakini. Lelaki itu sedang sakit. Hah...pasti sebentar lagi menyusahkan diri nya, pikirnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.