PART 2-2
"Isabella Gracelina. Dua puluh dua tahun. Belum kawin," Dominic membaca keterangan pada kartu identitas milik si gadis pencuri berlian.
Seusai bertemu Katerine tadi dan gadis itu malah berpura-pura hilang ingatan, Dominic mengajak Xavier minum-minum. Tadi sore pria itu menghubunginya, mengatakan sudah menemukan Isabella dan menyuruh kedua orang kepercayaannya membawa gadis itu ke tempat yang Dominic tentukan.
Sejujurnya satu bulan mengenal Katerine, Dominic tidak tahu apa-apa tentang gadis itu, kecuali katanya dia hobi memotret dan ingin menjadi photografer—yang kini diragukan kebenarannya. Dominic terlalu sibuk dengan begitu banyak pekerjaan sampai-sampai tidak punya waktu untuk menggali lebih jauh detail hidup sang kekasih.
Sekarang, setelah Katerine membawa kabur berlian seharga setengah triliun miliknya, mau tak mau Dominic terpaksa meluangkan waktu mengetahui lebih banyak tentang gadis itu.
Awalnya saat tahu Katerine menghilang dengan membawa serta berliannya, Dominic langsung menghubungi Xavier.
Butuh tiga bulan untuk mereka menemukan gadis sialan itu, dan rupanya namanya bukan Katerine, tapi Isabella.
Ah ..., Isabella ....
Gadis itu tadi tidak berbohong. Apakah ketakutan membuatnya lupa mengarang nama samaran sehingga menyebut nama aslinya? Karena jelas-jelas sebulan bersama Dominic, gadis itu memakai nama samaran.
"Selain ini, apa lagi informasi yang kau dapatkan, Xavier?" Dominic menatap Xavier. Pria berusia awal tiga puluh dengan tubuh kekar yang tingginya sekitar 180 senti itu sudah lama menjadi sahabat sekaligus kepala keamanannya. Dia satu-satunya orang yang tak memiliki hubungan darah tapi bisa dipercaya.
Dominic sangat berhati-hati selama ini. Ia tidak pernah menaruh kepercayaan pada siapa pun, kecuali keluarganya, tentu saja. Persaingan dunia bisnis begitu kejam. Tak ada teman, apalagi sahabat. Siapapun bisa saling menikam.
Lihatlah, sekali saja Dominic tergelincir, memberikan kepercayaannya kepada Katerine, ah ralat, Isabella, gadis itu langsung mengkhianatinya, membawa kabur berliannya.
Yang membuat Dominic sangat marah bukan hanya kepercayaannya yang dihancurkan, tapi juga gagalnya ia memberi hadiah tersebut kepada sang ibu.
Malam itu di restoran, Dominic berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meminta maaf dan berdusta bahwa hadiah untuk sang ibu ketinggalan di rumah. Seperti biasa, sang ibu yang lembut dan penuh kasih sayang sangat memakluminya. Mereka pun makan malam dengan ceria. Hanya Dominic yang tahu, kalau dadanya penuh amarah. Ia sangat ingin segera menemukan Katerine ..., Isabella, secepatnya, dan mendapatkan kembali berlian langkanya itu.
Soal wanita Dominic memang tidak berpengalaman sama sekali. Ia hanya pernah menjalin hubungan satu kali, itu pun sudah sangat lama.
"Dia yatim piatu. Ayahnya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dan ibunya meninggal dua tahun yang lalu. Ia anak tunggal. Hidup sendirian di rumah kecilnya itu." jelas Xavier yang sedang duduk santai di sofa berhadapan dengan Dominic. Saat ini keduanya sedang berada di ruang VIP di salah satu bar elite milik Xavier.
Dominic mengangguk-angguk. "Apa pekerjaannya?"
"Aku melihat seluruh rumahnya dipenuhi novel-novel. Setelah aku selidiki, dia memiliki toko buku online."
Lagi, Dominic mengangguk-angguk. Ia menatap foto pada kartu identitas di tangannya. Bahkan di pas foto saja Isabella tampak sangat cantik. Sayang, gadis itu licik. Penuh kepalsuan, dan ..., sangat bodoh. Seandainya dia tak berulah, mungkin saja Dominic menikahinya dan hidupnya akan bergelimang harta. Apalah artinya uang 550 miliyar dibandingkan seluruh kekayaan Dominic yang bisa dia nikmati dengan menjadi istrinya?
"Terima kasih atas bantuanmu, Xav," kata dominic.
Xavier hanya menyeringai.
***
Bersambung ....
please support vote dan komen, teman2, makasih.
follow instagram/tiktok: evathink
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
