Part 29 - 1
Dominic tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Setelah beberapa hari ini melewatkan sarapan dan makan siang bersama Isabella, malam ini ia justru mengajak gadis itu makan malam di luar.
Mengajak bukanlah pilihan kata yang tepat, karena Isabella sendiri sebenarnya tidak mau pergi. Dominic memaksa.
Dalam perjalanan saat pulang kerja tadi sore, Dominic terbayang wajah Isabella, dan seketika keinginan bertemu gadis itu begitu kuat memenuhi dirinya. Akhirnya tanpa berpikir panjang, Dominic pun mengikuti keinginan itu.
Awalnya Dominic hanya ingin makan malam di rumah bersama Isabella. Namun saat melihat gadis itu yang bersimbah keringat, Dominic tidak tega menyuruhnya memasak. Hari ini Isabella tidak memasak makan malam untuk keluarga Dominic, karena kedua orangtua dan adiknya akan ke rumah kakeknya dan makan malam di sana. Harusnya Dominic juga bersama mereka, tapi beberapa tahun terakhir ini hubungannya dengan sang kakek merenggang. Jadi, Dominic sebisa mungkin menghindar bertemu kakeknya.
Sebenarnya Dominic bisa saja memesan makanan untuk mereka, tapi ia tak mau memperlihatkan keinginannya makan malam bersama gadis itu atau membuat Isabella bertanya-tanya mengapa ia melakukan itu.
Jadilah Dominic mengajaknya makan malam di luar. Terkesan kejam karena Isabella menolak dan ia tetap memaksa, tapi itu jauh lebih baik daripada menyuruh gadis itu memasak untuknya, bukan?
Usai makan, Dominic dan Isabella meninggalkan restoran. Saat tiba di mobil, Dominic membukakan pintu untuk Isabella. Sebenarnya ia tak berniat melakukan itu, hanya spontan.
"Kau tak perlu memperlakukanku semanis ini, aku bisa membuka pintu sendiri," kata Isabella.
Dominic hanya menyeringai samar. Ya, tentu saja ia tak seharusnya bersikap manis, toh, Isabella tawanannya, bukan kekasih. Dominic mengingatkan diri untuk tidak melakukannya lagi lain kali.
Isabella masuk ke dalam mobil. Dominic menutup pintu, lalu mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi.
Dominic menyalakan mesin. Mobil pun bergerak meninggalkan restoran. Perjalanan dilalui dalam keheningan. Dominic fokus memperhatikan jalan raya, sesekali ia melirik Isabella yang tampak memandang ke luar jendela.
Saat melihat gedung sebuah supermarket, Dominic pun memelankan mobil, lalu berbelok. Mobil terparkir di area parkir sebuah supermarket.
Isabella menoleh, menatap Dominic dengan heran. "Kenapa kita ke sini?"
"Aku pikir mungkin ada yang ingin kau beli."
Mata Isabella seketika berbinar. "Ah, kau memang benar-benar baik hari ini."
"Aku memang baik."
Isabella mencibir. "Tidak baik memuji diri sendiri."
Dominic menyeringai samar. Entah mengapa, bersama Isabella, ia yang biasanya kaku dan datar, lebih mudah menyeringai, lebih mudah tersenyum dan tergelak.
Keduanya keluar dari mobil nyaris serentak. Isabella berjalan lebih dulu memasuki supermarket, diikuti oleh Dominic. Lalu gadis itu meraih keranjang belanja. Dominic dengan singgap mengambil alih keranjang tersebut.
"Biar aku saja yang dorong keranjang ini. Silakan belanja," kata Dominic.
"Kau serius?"
Dominic mengangkat alis. "Apa aku terlihat bercanda?"
Isabella menatap Dominic sejenak, lalu tersenyum. Senyum tulus Isabella yang pertama untuk Dominic, dan ia merekam itu dengan baik dalam ingatannya.
"Kau benar-benar manis hari ini, Dominic." Setelah mengatakan itu, Isabella pun mulai berjalan menuju rak-rak yang memajangkan barang-barang.
Dominic mengikuti di belakangnya.
Isabella mengambil beberapa camilan dan memasukkan ke keranjang, lalu biskuit. Gadis itu juga mengambil mie instan, kaldu ayam dan jamur.
Kemudian Isabella mengambil beberapa bungkus bakso dan tahu ikan. Isabella juga mengambil mantou beku, dan siomay.
Tanpa sadar Dominic tersenyum tipis melihat semangat berbelanja Isabella. Seandainya saja tidak ada kejadian pencurian berlian tersebut, pikir Dominic muram.
Saat itulah Isabella berbalik. Mata keduanya bertemu.
Isabella tersenyum. "Dominic, dari tadi kau hanya diam. Kau ingin apa?"
Dominic menggeleng. "Tidak ada. Silakan pilih apa yang kau inginkan."
"Hmm ..., baiklah." Isabella berbalik dan berjalan menuju rak-rak tempat buah-buahan. Gadis itu mengambil apel, pear dan pepaya. "Kau suka makan buah apa, Dominic?"
"Anggur."
"Oh, oke." Isabella pun mengambil anggur.
Dominic mengerut kening melihat itu. Isabella bersikap begitu manis. Apa dia merencanakan sesuatu lagi? Melarikan diri sekali lagi?
Isabella berjalan menuju rak yang memajangkan sayur. Dominic masih bergeming.
"Bella?"
Dominic melihat Isabella menoleh ke sumber suara. Ia pun melakukan hal yang sama. Tampak seorang pria seumuran Isabella berdiri tak jauh dari gadis itu. Pria itu bertubuh tinggi dan gagah. Dan dengan menyebalkan harus Dominic akui, pria itu tampan.
"Arvin?" Mata Isabella seketika membesar.
Pria yang Isabella sebut Arvin itu, seketika tersenyum lebar, lesung pipinya seketika muncul di bagian kanan pipi.
Entah mengapa, ada perasaan tak nyaman menjalar ke dada Dominic. Dengan cepat ia mendorong keranjang belanja dan mendekati Isabella.
"Aku dari tadi memperhatikanmu, sedikit ragu apakah itu benar dirimu. Kau makin cantik, Bella."
Napas Dominic sedikit memburu. Aneh, ia merasa ingin melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Membuat wajah tampan itu babak belur sepertinya menyenangkan.
Isabella tersenyum lebar. Sangat lebar. Dominic belum pernah melihat gadis itu tersenyum demikian. Mata Isabella berbinar-binar, tampak begitu indah. Sayangnya itu disebabkan dan ditujukan pada orang lain. Dominic benar-benar marah.
"Bella." Ini kali pertama Dominic memanggil Isabella dengan nama panggilan gadis itu, ia tidak tahu mengapa melakukan itu. Ada dorongan aneh agar si pria yang bernama Arvin, melihat kehadirannya sebagai orang yang sangat dekat dengan Isabella.
Isabella dan Arvin menoleh ke Dominic, nyaris bersamaan. Kening Isabella tampak berkerut, tapi Dominic mengabaikannya.
"Apa sudah selesai berbelanja? Aku baru ingat ada janji dengan teman," kata Dominic.
Isabella memandang ke arah rak sayur, jelas ada yang ingin dibeli, tapi gadis itu berkata, "Ah, ya, sudah selesai."
Dominic senang Isabella bersikap manis.
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu, Bella? Kau mengganti nomor ponselmu dan tidak memberitahuku," kata Arvin.
"Maaf, Bung, Bella tidak punya waktu berkomunikasi dengan pria lain." Setelah mengatakan itu, Dominic meraih tangan Isabella dan mengajaknya pergi sembari mendorong keranjang belanja.
***
bersambung ...
hmmm .... dominic cemburu? wkwk
anyway guys, cerita ini sudah tersedia versi PDF, yang mau silkan WA aku yah, 08125517788
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomansaCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
