Part 36
Dua hari kemudian, saat Dominic tiba di kantor usai makan siang bersama Isabella, tampak Xavier menunggu di ruangannya. Pria seusianya itu sedang duduk santai di sofa.
"Aku baru saja akan menghubungimu," kata Dominic sembari berjalan menuju sofa.
Xavier menyeringai samar. "Aku sudah menyelidiki ulang. Aku minta maaf atas ketoledoranku, Dom."
Mendengar itu, Dominic menyeringai masam. Meski Xavier belum mengatakan hasil penyelidikan ulangnya, ia sudah tahu jawabannya. "Jadi mereka kembar?"
"Ya. Kembar identik."
"Terpisah sejak bayi?"
Xavier mengangkat bahu. "Aku tidak tahu tentang itu, tidak ada jejak apa pun, mungkin itulah sebabnya aku salah mengindentifikasi. Bahkan untuk memastikan ini, aku harus menemukan Katerine lebih dulu, barulah melakukan tes DNA keduanya."
Dominic mengangguk-angguk dan tak bertanya lebih lanjut lagi. Ia juga tak ingin bertanya tentang Katerine, karena saudari kembar Isabella itu tidak penting baginya. Yang terpenting sekarang adalah Isabella. Dominic harus melepaskannya karena memang bukan gadis itu pencuri berliannya. Namun setiap kali memikirkan itu, Dominic merasa tak rela. Entah sejak kapan, timbul rasa ingin memiliki Isabella. Mungkinkah sejak ciuman pertama mereka, tepatnya ketika ia memaksa mencium gadis itu?
Aneh tapi nyata. Katerine dan Isabella adalah saudari kembar, dari segi wajah dan bentuk tubuh keduanya nyaris seratus persen identik. Namun bersama Katerine, Dominic tidak mampu merasakan getar seperti yang ia rasakan saat bersama Isabella. Tak ada rasa ingin memiliki Katerine seperti yang ia rasakan terhadap Isabella.
Dominic menghela napas berat, dan itu menarik perhatian Xavier. "Kenapa kau terlihat frustrasi? Bukankah kau sudah mendapatkan kembali berlianmu? Tidak penting mereka kembar atau orang yang sama, bukan?"
Dominic menatap sahabatnya dengan tajam. "Kau salah mengindentifikasi orang, yang artinya aku salah menawan dan menyiksa!" kata Dominic kesal.
"Ah, itu. Aku minta maaf karena salah. Tidak biasanya aku begitu. Tapi itu bukan masalah besar, bukan? Lepaskan gadis yang kau tawan itu tanpa banyak bicara. Semua selesai. Aku yakin dia juga tak akan mempermasalahkan apa-apa lagi. Jika perlu aku yang akan mewantinya untuk tutup mulut."
"Bukan itu masalahnya!"
"Masalahnya kau jatuh cinta pada tawananmu itu?" Xavier terkekeh. "Sepertinya sebentar ĺagi Buggati-mu menjadi milikku."
Dominic terdiam. Kata-kata Xavier kali ini menusuknya dengan telak. Bukan tentang mobil klasik yang menjadi taruhan, tetapi kemungkinan bahwa ia telah jatuh cinta pada Isabella.
Saat Xavier mengatakan itu sebelumnya, Dominic sangat yakin ia tidak jatuh cinta pada Isabella. Namun sekarang ..., rasa ingin memiliki gadis itu yang begitu kuat membuat Dominic mulai bertanya-tanya, mungkinkah entah bagaimana ia telah jatuh cinta pada Isabella?
Dominic ingat bagaimana takutnya ia kehilangan Isabella saat gadis itu tak sadarkan diri karena alergi. Bagaimana selama dua hari ia nyaris tidak meninggalkan Isabella.
Melihat keterdiaman Dominic, Xavier tergelak. "Kau harus bersiap menyerahkan Buggati itu padaku, kawan."
***
Di saat yang sama, Isabella baru saja selesai minum obat dan kini berbaring di ranjang sembari memeluk boneka kerropi pemberian Dominic.
Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Dominic di ruang makan dua hari lalu. Isabella berharap Dominic benar-benar akan melakukan yang dikatakannya. Isabella tak sabar kembali ke rumahnya dan beraktivitas seperti dulu lagi. Semakin cepat berpisah dengan Dominic, semakin baik. Isabella benar-benar takut jatuh cinta pada pria itu. Ia dan Dominic tak akan bersama, dunia mereka berbeda. Pengalaman pahit di masa lalu mengajarkan itu kepada Isabella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
