halo teman2,
maaf baru sempat update, karena aku sangat sibuk. btw, cerita ini sudah tersedia versi PDF ya, order di WA aku 08125517788
cerita ini tetap akan dilanjutkan di wattpad sampai tamat yah.
Part 27
Sulur-sulur matahari pagi masuk ke ruang khusus olahraga di rumah Jovano. Dominic yang sedang mengangkat sepasang dumbbell, menghentikan aktivitasnya itu dan melirik jam dinding.
Pukul 06.52 WIB.
Dominic meletakkan dumbbell-nya ke tempat semula, kemudian melakukan beberapa gerakan pendinginan untuk menyelesaikan olahraganya. Setelah selesai, ia meraih handuk kecil yang terdapat di gantungan khusus tak jauh dari sana, lalu berjalan menuju jendela yang terbuka sembari mengelap keringat di wajah dan leher.
Sudah empat puluh menit Dominic berolahraga. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Setiap pagi Dominic memang rutin berolahraga, selain untuk mempertahankan bentuk tubuh, juga karena alasan kesehatan.
Dominic memandang ke halaman rumah. Tampak taman bunga yang terawat rapi. Angin segar bertiup sepoi-sepoi. Dominic menghirup udara dalam-dalam sambil memejam. Bayangan Isabella muncul di benaknya. Ia segera membuka mata dengan terkejut.
Apa yang terjadi padanya? Mengapa Isabella terus memenuhi benaknya? Bahkan tadi malam, meski tubuhnya lelah, ia baru terlelap menjelang pukul dua belas malam. Padahal ia sudah mencoba tidur sedari pulang dari minum-minum dengan Xavier pada pukul sebelas.
Dominic mengembus napas kasar melalui mulut, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruang olahraga.
Dominic masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia pun menikmati air pancuran yang hangat. Berusaha menyingkirkan Isabella dari benaknya.
Tiga puluh menit kemudian, Dominic sudah rapi dalam setelan celana kain jahitan khusus dan kemeja putih berlengan panjang pas badan. Dasi berwarna biru gelap terikat rapi di leher. Arloji Richard Mille melingkar elegan di pergelangan kirinya.
Dominic memakai jas berwarna biru gelap. Lalu setelah melihat penampilannya yang rapi, ia pun meninggalkan kamar.
Dominic menuruni anak tangga menuju lantai bawah dengan perasaan penuh semangat. Ia akan menemui Isabella. Tanpa sadar senyum samar melengkung di sudut bibirnya. Entah mengapa Dominic sangat bersemangat bertemu gadis itu lagi.
Di pertengahan anak tangga, ia bersisian dengan Naura. Adik semata wayang Dominic yang masih duduk di bangku SMA itu menatap sang kakak dengan heran.
Dominic mengabaikan tatapan heran sang adik dan terus melanjutkan langkah.
Tiba di lantai bawah, Dominic mengambil tas kerjanya dari ruang kerja, lalu ke ruang makan.
Kedua orangtuanya tampak sedang sarapan bersama.
"Pagi, Ma, Pa," sapa Dominic.
"Pagi," balas kedua orangtua Dominic nyaris serentak.
Dominic menuang segelas air putih hangat, lalu duduk di salah satu kursi.
Alis Kirana berkerut. "Tidak minum kopi?"
Dominic menggeleng. "Aku akan sarapan bersama Isabella."
"Ahh...." Kirana tersenyum. "Kapan kau akan mengajaknya kemari lagi?"
Dominic meneguk air putih, lalu mengangkat wajah, menatap sang ibu dan memasang wajah sedatar mungkin, berusaha tidak meringis. Terakhir kali mengajak Isabella bertemu kedua orangtuanya, berakhir dengan menyebalkan. Gadis itu melarikan diri setelah membodohinya. Isabella mungkin saja melakukannya lagi apabila ada kesempatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
