PART 39-B

628 61 0
                                        

cerita ini akan dilanjutkan di wattpad sampai tamat, jadi stay tune ya.

tapi, bila ada yang mau koleksi PDF-nya, versi sudah tamat, bisa WA aku di +628125517788

39-B

Dominic berdiri di depan jendela di kamar Isabella sembari menatap kegelapan malam. Ia puas semuanya berjalan lancar. Malam ini Isabella terlihat mulai percaya pada semua perkataannya.

Terdengar suara pintu dibuka. Dominic menoleh, melihat Isabella keluar dari kamar mandi.

Isabella berjalan ke arah Dominic dengan sedikit gelisah.

Dominic mengawasi gadis itu dengan alis terangkat. "Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Dominic khawatir. Meski kondisi Isabella kini jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan bisa dibilang gadis itu sudah pulih sepenuhnya, tapi ekspresi Isabella saat ini membuatnya cemas.

"Hmm ..., aku haid," kata Isabella ragu.

"Oh ...." Dominic ingat kejadian Isabella kabur setelah membohonginya tentang hal tersebut. Dari ekspresi Isabella yang tampak tak nyaman saat ini, sepertinya gadis itu pun teringat hal yang sama.

"Bisakah kau mengantarku ke minimarket untuk membeli pembalut?"

"Apa kau ingin kabur lagi?" Mata Dominic menyipit curiga.

Isabella dengan cepat menggeleng. "Tidak! Aku benar haid. Seharusnya jadwal haidku beberapa hari yang lalu, mungkin karena sakit, jadi sedikit telat."

"Baiklah."

"Kau akan mengantarku?"

"Tidak."

"Tapi ...."

"Ada pembalut di mobilku."

Sekarang mata Isabella-lah yang menyipit curiga dan itu membuat Dominic ingin tergelak. Entah mengapa ia senang. Reaksi Isabella saat ini seperti wanita yang sedang curiga pada kekasihnya.

Gadis itu mungkin bukan Katerine, dan mereka belum memiliki hubungan istimewa yang sebenarnya selain rekayasa Dominic semata, tapi entah sadar atau tidak, sepertinya Isabella menyukainya, pikir Dominic.

"Itu bukan pembalut wanita lain. Aku tak berkencan dengan wanita mana pun, hanya dirimu. Pembalut itu aku beli saat kau melarikan diri, ingat?"

Rona merah menjalar di pipi Isabella dan itu membuat Dominic ingin menciumnya. Gadis itu terlihat sangat cantik saat malu-malu seperti itu.

"Sebentar," kata Dominic. Ia pun meninggalkan Isabella, membuka pintu kamar dan menyuruh Randy mengambil pembalut di kabin belakang mobilnya. Setelah itu ia kembali pada Isabella. Gadis itu hanya duduk diam di kursi dekat meja rias, tampak sedang berpikir keras.

Tak lama kemudian Randy kembali. Dominic menyerahkan satu kantongan besar pada Isabella. Saat melihat isinya, mata gadis itu melebar. Namun itu hanya sebentar, karena tak lama kemudian, mata indah itu berkedip-kedip saat memegang botol minumam kesehatan untuk haid.

"Kau membeli ini meski berpikir aku mengkhianati kepercayaanmu?" tanya Isabella dengan suara parau.

Dominic dapat melihat mata Isabella berkaca-kaca. "Ya," jawab Dominic singkat.

Setetas air mata Isabella bergulir di pipi mulusnya. Gadis itu menatap Dominic dengan haru. "Terima kasih, Dominic."

Dominic mengangguk pelan. Kini ia bingung apa yang harus dilakukan? Apakah ia harus bergerak memeluk Isabella? Sepertinya memang itu yang harus dilakukan. Jadi Dominic melangkah maju dan memeluk Isabella.

Isabella pun menangis pelan dalam pelukannya. "Jadilah kekasihku, Isabella," bisik Dominic di telinga gadis itu.

***

"Jadilah kekasihku, Isabella."

Isabella tak mengerti mengapa Dominic mengatakan itu. Bahkan berjam-jam telah berlalu, ia masih tak mampu memaknai kata-kata pria itu. Jika ia benar amnesia, benar Katerine—meski sampai saat ini Isabella tak memgerti mengapa ia memakai nama palsu—bukankah ia memang kekasih pria itu? Mengapa Dominic memintanya lagi? Apakah itu hanya sebuah pernyataan basa-basi bahwa kini mereka resmi memulai dari awal sebagai kekasih?

Yah, sepertinya karena itu, pikir Isabella akhirnya.

Isabella yang sedang berbaring di ranjang, tersenyum saat teringat bagaimana ia terharu sampai menangis saat mendapati minumam kesehatan untuk haid yang Dominic beli, bahkan ketika pria itu curiga ia mencuri berliannya. Dominic pasti sangat mencintainya. Isabella pikir mulai sekarang ia harus memercayai semua yang Dominic katakan, karena terbukti pria itu sangat peduli padanya.

Isabella memejam. Untuk kali pertama sejak menjadi tawanan Dominic, ia merasa lega dan damai.

***


bersambung ...

mohon dukungannya berupa vote dan komen yang teman2. makasih.


Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang