PART 35-2

865 68 0
                                        

Part 35-2

Saat keduanya selesai makan, Dominic mengambil air putih hangat untuk Isabella.

"Terima kasih, Dominic." Untuk kesekian kalinya, Isabella terharu. Mungkin sakit telah membuat perasannya menjadi sangat lemah.

Lalu Dominic meraih mangkuk bekas bubur Isabella.

"Apa yang kau lakukan?" Isabella menahan mangkuk tersebut.

"Aku akan mencucinya."

"Tidak. Jangan. Aku yang akan mencucinya."

Isabella bangkit dan mendorong mundur kursinya, tapi Dominic menahan gerakan itu, dan menekan pelan bahunya, memaksanya kembali duduk.

"Dominic, aku tak mungkin membiarkanmu mencuci piring," kata Isabella.

"Kenapa tidak?"

"Kau bos besar."

Dominic menyeringai. Tanpa mengacuhkan Isabella, pria itu membawa dua mangkuk ke bak cuci piring.

"Nanti bajumu basah!"

Namun Dominic tak memedulikan itu. Pria itu melepas jasnya dan menyampirkan ke sandaran kursi, lalu menggulung ujung lengan kemejanya ke siku.

Isabella pun akhirnya membiarkan pria itu mencuci piring. Diam-diam ia memperhatikannya dengan haru. Dominic bersikap begitu manis.

Tanpa sadar Isabella menyentuh dadanya. Ia mulai khawatir akan jatuh cinta pada pria itu.

Beberapa menit kemudian Dominic selesai mencuci piring dan kembali ke meja makan.

Isabella yang sedang meneguk air putih hangat, memandang pria itu. "Terima kasih, Dominic."

Dominic mengangguk. "Aku rasa kau harus minum obat lagi."

"Ya," Isabella mengangguk. "omong-omong, Dominic, saat di rumah sakit kemarin, aku bertanya pada dokter, apakah benturan di kepala yang mengakibatkan gegar otak akan membuat orang tersebut amnesia."

"Ya, aku ingat kau bertanya demikian saat dokter memeriksamu sebelum kita meninggalkan rumah sakit. Kenapa?"

Isabella memutar-mutar gelas air putihnya yang bersisa separuh, setengah ragu memulai percakapan karena topik yang akan ia bahas akan membuat mereka berdebat, dan suasana damai yang tercipta akan rusak. Namun ia tak bisa menahan diri untuk membahasnya. "Beberapa bulan lalu aku mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor, kepalaku terbentur yang mengakibatkan gegar otak."

Dominic menatap Isabella dengan cemas. "Apa kepalamu sekarang masih sakit?"

Isabella menggeleng. "Tidak lagi. Aku sudah sembuh sepenuhnya."

"Syukurlah," desah Dominic lega.

"Tadinya aku berpikir kecelakaan itu membuatku amnesia sehingga aku lupa tentangmu dan berlian itu. Tapi dokter mengatakan, gegar otak yang disebabkan benturan yang tidak terlalu kuat, tak mungkin membuatku amnesia. Kalau pun amnesia, hanya sekitar dua puluh empat jam saja. "

Wajah Dominic seketika berubah muram. Isabella bertanya-tanya mengapa pria itu bereaksi seperti itu? Biasanya bila menyangkut soal berliannya, Dominic berubah menjadi sangat tegas. Tak terbantahkan.

"Jadi, Dominic, bisa dipastikan bukan aku yang mencuri berlianmu. Kita benar-benar tak saling kenal sebelumnya. Mungkin ada orang yang mirip denganku."

Lagi-lagi Dominic hanya diam.

"Kau harus menyelidikinya. Aku mohon. Aku benar-benar bukan pencuri berlianmu, Dominic."

Dominic menghela napas berat. "Baiklah. Aku akan menyelidikinya."

Isabella menatap Dominic dengan sorot tajam, tak percaya pria itu tak mendebatnya dan menurut begitu saja. Apa karena ia sedang dalam masa pemulihan? Atau pria itu hanya mengatakan apa yang ingin ia dengar dan sebenarnya tak akan menyelidik ulang sama sekali? Isabella ingin mengatakan isi pikirannya, tapi kemudian menahan diri, berharap Dominic tidak membual semata.

"Terima kasih, Dominic. Aku harap kau segera mendapat jawabannya. Aku tak sabar kembali ke rumahku."

***

Dan aku harap waktu berhenti agar aku tak perlu melepaskanmu, batin Dominic. Ia memandang Isabella yang duduk di hadapannya. Reaksi gadis itu yang terlihat sangat bahagia akan segera bebas, anehnya membuat Dominic sakit. Ia ingin Isabella merasakan seperti yang ia rasa, yakni tidak ingin berpisah.

"Aku akan kembali ke kantor," kata Dominic sembari berdiri.

"Baiklah. Terima kasih untuk makan siangnya, Dominic. Hati-hati di jalan."

Dominic tak merespons lagi. Ia mengambil jasnya yang tadi disampir di sandaran kursi, kemudian berlalu dengan perasaan gundah.

***



bersambung ...

Guys, VERSI TAMAT cerita ini sudah tersedia dalam bentuk PDF, yang mau order silakan WA aku di 08125517788.

Anyway, jangan lupa vote dan komennya, ya.

Jangan lupa juga follow akun IG dan tiktok aku: evathink

Buat yang ingin koleksi karya aku yang lainnya (TAMAT), bisa purchase di:

>> Google play buku

>> Karya karsa

Atau versi PDF, bisa beli di aku, WA 08125517788

Makasih, teman2 atas dukungannya.

NOTE: CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT!

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang