PART 30-1

2.4K 108 8
                                        

VERSI LENGKAP OVER POSSESSIVE SUDAH TERSEDIA DI KARYA KARSA.

yang minat versi PDF silakan order di WA aku yah, 08125517788

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

yang minat versi PDF silakan order di WA aku yah, 08125517788

cerita dilanjutkan di wattpad sampai tamat! stay tune

Part 30-1

Langit senja begitu indah. Semburat jingganya memukau. Sang matahari perlahan-lahan masuk ke peraduan. Di sebuah kafe luar ruangan, dua insan duduk berhadapan dengan wajah muram.

"Tapi kenapa, Bella? Aku pikir kau mencintaiku. Selama ini kau selalu bilang sangat mencintaiku," kata pria tampan yang duduk di hadapan Isabella itu dengan sedih.

Isabella menatap pria yang sudah tiga tahun ini menjadi kekasihnya, tepatnya sejak ia duduk di bangku SMA. "Maafkan aku, Ar. Yah ..., terkadang perasaan bisa berubah."

"Ada yang lain?" Arvin menatap Isabella dengan sorot menyelidik.

Isabella bergeming.

Rupanya itu membuat Arvin menebak bahwa Isabella menyukai pria lain. "Siapa dia? Dia tidak mungkin lebih baik dariku, Bella. Please, putuskan hubungan dengannya. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak bisa berpisah denganmu."

Isabella menatap pria dengan tinggi 177 senti di depannya itu dengan hati nelangsa. Lesung pipi yang ia sukai itu kini tak lagi mekar. Isabella paham Arvin sedang sedih, seperti halnya dirinya, tapi sang pujaan hati tak perlu tahu. "Ini yang terbaik, Ar."

"Tidak, Bella. Ini bukan yang terbaik. Tak ada yang baik dari perpisahan."

Arvin benar. Tak ada yang baik dari perpisahan. Air mata Isabella nyaris runtuh, tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia berusaha menyunggingkan senyum samar mesķi bibirnya terasa kaku. "Maafkan aku, Ar. Percayalah ini yang terbaik untuk kita."

Isabella bangkit, meraih tas dari meja, lalu berbalik.

Arvin bangkit dengan buru-buru, menimbulkan suara derit tajam dari kursi yang didudukinya. Pria itu berjalan cepat menghampiri Isabella lalu meraih tangan si gadis. Mata Arvin memerah.

Isabella tak sanggup melihat kesedihan sang kekasih, ah, kini sudah menjadi mantan kekasih. Ia ingin buru-buru pergi agar bisa menangis sepuasnya.

"Bella, katakan. Katakan bahwa kau hanya bercanda. Kau tak benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita."

Isabella tak kuasa memandang sang kekasih. Ia menyentak tangannya dari pegangan Arvin. "Aku serius ingin mengakhiri hubungan kita, Ar. Tolong hormati keputusanku."

Kata-kata itu seperti tombak yang seketika mematikan Arvin. Pria itu terdiam. Syok.

Isabella melangkah pergi dan Arvin hanya membisu. Kata-kata Isabella telah membunuhnya.

Sembari berjalan meninggalkan kafe, air mata Isabella runtuh. Dalam sekejap pipinya basah.

Mengapa semua ini harus terjadi pada hubungan mereka? Isabella merintih perih di dalam hati. Seandainya saja ....

Suara pintu yang dibuka dan derap langkah kaki yang memasuki kamar, membuyarkan seluruh pikiran-pikiran Isabella. Ia yang sedang berdiri di depan jendela berteralis dengan panorama langit Sabtu pagi yang indah, menoleh ke arah sumber suara.

"Aku pikir kau belum bangun," ujar Dominic sembari menghampiri Isabella.

Isabella menatap pria itu sejenak. Pagi ini Dominic mengenakan pakaian santai berupa celana jins tiga per empat dan kaus pas badan yang memamerkan otot-otot kekarnya. Pria itu tampak gagah dan menawan.

Tanpa merespons perkataan Dominic, Isabella kembali memalingkan wajah. Ia menatap kebun bunga di halaman samping. Karena kemarin sudah bekerja keras membersihkan kebun bunga, pagi ini Isabella bisa sedikit bersantai.

Dominic berdiri di sisi Isabella, pun melakukan hal yang sama.

Lama keheningan membentang di antara keduanya.

Berlatarkan langit biru, awan-awan berarak pelan ditiup angin. Di taman bunga, kupu-kupu bersuka ria menghisap madu.

Isabella menoleh pada Dominic. "Kau ingin aku masakkan sarapan?"

Dominic menggeleng. "Tidak. Aku ingin mengajakmu sarapan di luar sekaligus berbelanja."

"Berbelanja lagi? Tadi malam aku sudah banyak belanja."

"Kau butuh pakaian, sepatu dan tas baru untuk bertemu ibuku."

"Di lemari banyak pakaian."

"Tidak ada salahnya mengenakan sesuatu yang lebih baik untuk bertemu keluargaku."

Isabella memutar bola mata. Gaun-gaun di lemari, meski bermodel sederhana yang diperuntukkan dipakai sehari-hari, Isabella tahu gaun tersebut tidak murah. Tidak ada salahnya mengenakannya untuk bertemu ibu Dominic. Apa penampilan sangat penting di keluarga Dominic? Meski keluarga Jovano adalah orang kaya, menurut Isabella, mereka bukan orang yang angkuh dan picik, yang menilai orang lain melalui kekayaannya. Buktinya meski tahu Isabella hanya bekerja mengurusi toko buku online, sikap orangtua dan adik Dominic tetap hangat.

"Kau tidak takut aku melarikan diri lagi?"

Dominic menyeringai. "Tidak. Kau tak akan berani melakukan itu. Jika kau mencoba melarikan diri lagi, Daysi akan menjadi korban, kau tahu itu. Selain itu, ke mana pun kau pergi, aku akan menemukan."

Isabella mencebik. "Kenapa kau sangat menyebalkan?"

Seringai Dominic melebar.

Keduanya kembali terdiam untuk sejenak. Lalu Dominic berkata. "Ayo, aku sudah lapar."

"Aku akan berganti pakaian dan berdandan."

"Oke." Dominic pun meninggalkan kamar Isabella.

***

bersambung ....

vote dan komen yuk teman2

makasih ....

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang