hi guys, maaf br sempat update.
oh ya, novel terbaru aku udah terbit yah, versi PDF, bisa order di WA aku +628125517788
btw, met baca part ini, moga suka. anyway jangan lupa komen n dan vote ya, biar semangat update.
PART 30-2
Dominic tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, bahkan saat bersama Isabella yang berpura-pura menjadi Katerine. Padahal kala itu Isabella bersikap lebih manis. Namun entah mengapa, semua itu kini terasa palsu alias dibuat-buat. Sikap Isabella yang sekarang apa adanya dan membuat Dominic nyaman, yang menjadi magnet sehingga ingin terus berdekatan dengannya.
Lihatlah, di akhir pekan, alih-alih sarapan bersama kedua orangtuanya di restoran kesukaan mereka seperti yg selalu ia lakukan selama ini, ia justru berada di ruang keluarga rumah mewah tempat menawan Isabella, menunggu sang tawanan berdandan.
Gadis yang Dominic pikirkan itu muncul di ruang keluarga. Isabella mengenakan blus berwarna putih berlengan pendek, dipadu dengan celana jins panjang berwarna biru. Rambut sepunggungnya dikuncir. Lipstik merah muda tampak alami mewarnai bibirnya.
Dominic berdiri tepat saat Isabella tiba di dekatnya. Gadis itu mengenakan sepatu hak tinggi seperti yg dikenakan ketika menghadiri undangan makan siang dari ibu Dominic pekan lalu. Dominic ingat ia tak meminta lebih banyak sepatu dan sendal pada Jessica.
"Sudah siap?"
"Seperti yang kau lihat," kata Isabella.
Gadis itu memegang tas kecil yang ia bawa pekan lalu. Dominic memgingatkan diri agar membeli lebih banyak pakaian, sepatu, tas dan dompet untuk Isabella.
Penampilan Isabella sangat cantik hari ini, tapi Dominic tak akan memujinya secara langsung. Bagaimanapun, Isabella adalah tawanannya.
"Ayo." Dominic berjalan lebih dulu, disusul oleh Isabella.
Isabella mengerut kening saat tiba di samping Dominic yang berdiri di dekat sebuah mobil Buggati klasik.
"Ini mobilmu?" Isabella menatap Dominic sekilas, lalu kembali memandang mobil tersebut.
"Ya."
"Wow! Aku baru tahu kau suka mobil klasik. Mobil ini sangat keren."
Seringai samar terlukis di bibir Dominic. Seandainya Isabella tahu, di garasi rumah mewah Jovano, ada lebih dari 5 buah mobil klasik milik Dominic. Ada BMW, Mercy, dan lainnya.
Dominic tanpa sadar membukakan pintu untuk Isabella. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Untuk sesaat Dominic terpana melihat senyum Isabella. Anehnya, dadanya tiba-tiba berdebar halus.
Isabella masuk ke dalam mobil. Dominic menutup pintu dengan debar yang masih setia menabuh dada.
Dominic ingat debar ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun dadanya tak mampu berdebar seperti ini. Hanya satu orang di masa lalu yang mampu membuatnya merasakan debar ini. Seseorang yang juga menorehkan luka.
"Mobil ini pasti sangat mahal," komentar Isabella saat Dominic duduk di balik kemudi dan mengenakan sabuk pengaman.
"Yah ...," jawab Dominic singkat.
Lalu mobil bergerak meninggalkan halaman, diikuti oleh mobil pengawal.
Hampir tiga puluh menit kemudian, mobil Dominic berhenti di sebuah rumah makan yang cukup besar dengan halaman luas. Begitu mobil terparkir rapi dan Dominic melangkah keluar, Isabella melakukan hal yang sama.
Pengunjung rumah makan yang menjual bubur ayam itu cukup ramai dipenuhi pengunjung.
Dominic memilih sebuah meja di pojok ruangan. Ia menarik kursi untuk Isabella. Setelah gadis itu duduk, Dominic duduk di kursi lainnya, tepat di hadapan Isabella.
Pelayan datang. Dominic memesan dua porsi bubur ayam.
"Kau ingin minum apa?" tanya Dominic.
"Air mineral saja."
"Oke." Lalu Dominic memesan dua botol air mineral.
Di meja lain tak jauh dari keduanya, Aldo dan Randy tampak duduk siaga. Keduanya juga memesan bubur ayam, minumannya kopi hitam.
"Kau sering makan di sini?" tanya Isabella.
"Sesekali di akhir pekan bersama keluargaku." Sehari-hari Dominic jarang makan di luar kecuali di akhir pekan bersama keluarga, bersama relasi, Xavier, atau di momen-momen tertentu yang mengharuskan makan di luar.
Tak lama kemudian pelayan datang mengantar pesanan mereka. Keduanya pun mulai makan.
"Buburnya enak," komentar Isabella setelah suapan pertama.
"Yah, menurutku juga begitu. Ini bubur kesukaan ayah dan ibuku."
Keduanya melanjutkan makan tanpa bercakap-cakap lagi.
Tiga puluh menit kemudian keduanya sudah berada di dalam mobil yang siap meninggalkan rumah makan.
"Dominic, aku pikir kita tak perlu pergi berbelanja. Cukup antarkan aku ke rumahku. Aku bisa mengambil pakaian dan keperluanku yang lainnya."
"Aku pikir itu bukan ide yang baik. Kau bisa saja diam-diam meminta pertolongan dari tetanggamu."
Isabella menatap Dominic dengan kesal. "Bagaimana mungkin kau berpikir aku berani melakukan itu dengan taruhan nyawa sahabatku?"
"Ahh..., kau benar. Tapi aku akan meminta Randy mengambil semua pakaian-pakaian, atau kepeluanmu yang lain. Sekarang kita akan jalan-jalan dulu, setelah itu pergi berbelanja."
Isabella cemberut. "Randy tidak tahu apa saja yang aku butuhkan."
"Kau bisa memberitahunya."
"Dia tidak tahu di mana aku menyimpan barang-barangku."
"Dari cerita Xavier, aku pikir rumahmu tidak besar. Tipe tiga enam, bukan? Aku yakin Randy dengan mudah menemukan apa saja yang kau inginkan."
Isabella mendengkus lalu membuang muka, memandang ke luar jendela.
Dominic tergelak pelan. Bahkan ketika kesal pun Isabella tampak cantik.
Diam-diam ia mengirim pesan pada Xavier, meminta alamat rumah Isabella. Untunglah tak lama menunggu, sahabatnya itu membalas pesannya berupa peta alamat rumah Isabella.
Lalu Dominic menjalankan mobilnya.
***
bersambung ...
jangan lupa vote dan komennya ya, teman2, makasihhhh
follow instagram aku: evathink
FYI, VERSI TAMAT cerita ini sudah tersedia dalam bentuk PDF, yang mau order silakan WA aku di 08125517788.
Aku sarankan beli versi PDF-nya ya agar bisa baca langsung sampe tamat, karena untuk di karya karsa dan wattpad, aku mungkin agak slow update disebabkan kesibukan di real life. Thank you.
Note" cerita dilanjutkan di wattppad sampai tamat!
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
