PART 31

1.4K 95 0
                                        

Part 31

Jalan raya dipadati kendaraan yang berlalu-lalang. Isabella duduk diam di kursi penumpang. Tatapannya tertuju di jalan di depan, sesekali memandang keluar jendela.

Keheningan membentang sepanjang perjalanan. Setelah cukup lama, Isabella mengerut kening saat mengenali jalan yang mereka tuju dekat dengan rumahnya. Apakah toko yang Dominic ingin kunjungi berada di sekitar rumahnya? Isabella pikir Dominic akan mengajaknya ke butik di mal.

Kerutan di kening Isabella kian dalam saat mobil Dominic memasuki kompleks perumahan yang ia tinggali.

"Dominic?" Isabella menoleh pada pria yang sedang fokus mengendara itu.

Dominic melirik sekilas. "Ya?"

"Kenapa kita ke sini?"

"Kau bilang ingin mengambil barang-barangmu."

"Ahh ...." Isabella tersenyum, senang Dominic berubah pikiran.

Mobil Dominic berhenti tepat di depan rumah Isabella. Ia sama sekali tak heran pria itu tahu alamat lengkapnya.

Isabella memutar bola mata saat melihat sebuah banner digantung di pagar, ditujukan kepada kurir, menyatakan dirinya sedang berlibur. Dominic memang sangat licik.

Tak sabar masuk ke rumahnya, Isabella bersiap keluar dari mobil, tapi Dominic menahan tangannya.

Isabella memandang pria itu dengan heran.

"Tunggu sebentar," kata Dominic.

Bertepatan dengan itu, sebuah mobil berhenti di samping mereka. Pengemudi mobil itu keluar. Dominic melakukan hal yang sama.

Pengemudi mobil itu mengulurkan kunci pada Dominic, kemudian berlalu.

Dominic membuka kunci pagar.

Isabella keluar dari mobil dan menghampiri pria itu, sama sekali tak berkomentar tentang bagaimana rumahnya telah dikuasai oleh Dominic.

Isabella masuk, Dominic mengunci pintu pagar, lalu menyusul gadis itu. Sementara itu, Randy dan Aldo siaga berjaga di luar pagar, tentu saja dengan cara yang tidak mencurigakan.

Mata Isabella memanas saat Dominic membuka pintu rumah untuknya. Ia sangat merindukan rumahnya. Meski sangat kecil dibandingkan rumah Dominic yang besar dan mewah, tetaplah tempat ternyaman adalah rumah sendiri.

Isabella sudah tinggal di rumah ini sekitar lima tahun. Rumah yang ia tinggali sedari kecil lebih besar.

Sang ayah yang berprofesi notaris, tidak meninggalkan banyak uang untuk mereka. Sementara setelah kepergian sang ayah, sang ibu yang tadinya ibu rumah tangga, mulai mencoba menjual pakaian di sebuah pasar. Malang, lima tahun lalu pasar tersebut terbakar, ibu Isabella merugi. Akhirnya sang ibu menjual rumah mereka. Sebagian uangnya digunakan untuk keperluan biaya hidup dan ditabung, sebagiannya digunakan untuk membeli rumah ini. Sejak itu, ibu Isabella tidak lagi bekerja. Awalnya mereka hidup dari uang tabungan. Sampai kemudian Isabella memiliki toko buku online. Ekonomi mereka pun terbantu.

Isabella masuk dan mendapati rumahnya berdebu. Ia menyeringai sedih melihat rumah yang selalu bersih dan rapi, kini begitu kotor tak terawat. Di dekat ruang tamu ada beberapa kotak paket buku dari penerbit. Isabella senang orang suruhan Dominic tidak membiarkan buku-buku tersebut terkena tempias hujan di teras.

Isabella melirik meja kerjanya dekat sofa. Tidak ada lagi laptop yang biasanya selalu berada di sana. Mungkin Dominic menyita laptopnya seperti halnya ponselnya. Isabella memikirkan bagaimana dengan pembeli-pembeli yang pasti bingung mengapa ia tidak membalas pesan. Atau pesanan-pesanan di market place yang pastinya otomatis terbatalkan karena paket tidak dikirim. Isabella menghela napas sedih. Tiada angin, tiada hujan, hidup yang tadinya tenang menjadi kacau balau.

Tak mau berlama-lama larut dalam perasaan sedihnya, Isabella berkata pada Dominic, "Tunggu sebentar, aku akan mengambil barang-barang yang aku inginkan."

Dominic tak memberi reaksi, hanya berdiri memandang ke sekeliling.

Isabella yakin pria itu pasti tak nyaman berada di ruangan sempit yang dikelilingi rak-rak berisi buku.

Isabella masuk ke kamar, mengambil pakaian dan berbagai keperluan yang lainnya, lalu memasukkan ke koper. Lima belas menit kemudian, Isabella sudah selesai mengemas semua keperluannya, termasuk novel-novel terbaru koleksinya yang belum sempat dibaca.

"Ayo," kata Isabella pada Dominic yang sedang berdiri di dekat rak sembari membaca blurb sebuah novel.

Pria itu meletakkan kembali novel ke rak dengan rapi, lalu berbalik dan memandangi Isabella. Tatapannya beralih ke koper di sisi gadis itu.

Isabella tersenyum sedih. Ironis sekali meninggalkan rumahnya dan menjadi tawanan pria itu tanpa perlawanan sama sekali.

Dominic menghampiri Isabella, lalu meraih gagang koper dan menyeretnya menuju pintu keluar.

Isabella memandang ke seantero rumah untuk terakhir kali dengan mata berembun. Lalu tatapannya berhenti pada sebuah figura. Foto ia dan kedua orangtuanya yang diambil saat ulang tahunnya yang ke-10.

Air mata Isabella tanpa sadar menetes. Ia merindukan ayah dan ibunya, yang begitu perhatian dan memanjakannya. Tanpa keduanya, Isabella selalu kesepian. Dan kini saat ia menjadi tawanan Dominic, rasa membutuhkan kedua orangtuanya jauh lebih besar. Seandainya ibu dan ayahnya masih hidup, keduanya pasti akan membantunya melewati kesulitan ini.

Isabella melangkah meninggalkan rumah dengan harapan sang pencuri berlian yang sebenarnya akan segera menampakkan diri dan membebaskannya dari segala tuduhan.

***



bersambung ...

Guys, VERSI TAMAT cerita ini sudah tersedia dalam bentuk PDF, yang mau order silakan WA aku di 08125517788. Aku sarankan beli versi PDF-nya ya agar bisa baca langsung sampe tamat, jadi gak perlu nunggu update lagi. Thank you.

NOTE: CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT!

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang