PART 34-2

832 73 2
                                        

PART 34-2


Dominic tiba di kantor menjelang pukul sepuluh pagi. Ia langsung menuju ruangannya. Saat duduk di balik meja kerja, tatapan Dominic menangkap sebuah paket berbentuk persegi dan dibungkus kertas berwarna cokelat polos. Di paket tersebut tertera nama yang dituju adalah dirinya. Dan pengirimnya ..., Katerine.

Dominic tercenung. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. Apa mungkin di dalamnya isinya adalah berlian?

Dengan tak sabar dan sedikit kasar, Dominic membuka paket tersebut. Dan ia pun terpaku. Dugaannya benar. Kalung berlian langka tersebut terpampang di sana.

Apakah Isabella yang mengirim ke kantornya? Akan tetapi itu tidak mungkin. Isabella ditawan olehnya tanpa alat komunikasi apa pun. Lagi pula selama dua hari ini gadis itu sakit dan terus bersamanya. Isabella tak punya kesempatan mengirim paket tersebut atau meminta orang yang dipercaya melakukannya.

Ini artinya pengirimnya adalah Katerine. Dominic belum sempat bertemu Xavier untuk memastikan kecurigaannya akhir-akhir ini bahwa Isabella dan Katerine adalah dua orang yang berbeda dan meminta sahabatnya itu memeriksa ulang. Kini bukti bahwa kecurigaannya itu benar menampar wajahnya dengan telak.

Dengan cepat Dominic menekan interkom, bertanya pada sekretarisnya kapan paket itu diterima.

Lavanya mengatakan bahwa paket tersebut diterima oleh sekuriti hari Minggu sore.

Itu artinya Isabella sedang di rumah sakit bersamanya. Dominic nyaris tak pernah meninggalkan Isabella. Jadi gadis itu tak mungkin punya kesempatan meminjam alat komunikasi kepada perawat untuk menghubungi seseorang agar mengirim berlian tersebut. Isabella juga tidak bisa melakukan itu saat acara makan malam di rumah Dominic. Sejak tiba di rumah keluarga Jovano, sampai Isabella tak sadarkan diri, Dominic selalu bersamanya.

Dominic menghela napas kasar. Bisa dipastikan Katerine-lah yang mengirim berlian itu kepadanya. Mungkin gadis itu akhirnya menyerah karena tak bisa menjualnya. Berlian tersebut memiliki nomor seri, jadi dengan mudah melacak pemiliknya, yakni Dominic. Tidak ada yang berani membelinya tanpa sertifikat, apalagi dari orang sembarangan.

Dominic meraih ponsel dari saku celana dan menghubungi Xavier.

"Halo," sahut Xavier di ujung sana dengan suara parau, jelas sedang tidur dan terbangun oleh panggilan Dominic.

"Aku mendapatkannya."

"Apa?" tanya Xavier bingung.

"Berlian itu, Xavier."

"Ah, bagus! Kau seharusnya menyimpan berita gembira itu sampai beberapa jam lagi. Kau mengganggu tidurku, berengsek!"

Dominic mendesah gusar. "Sepertinya kau salah mengindentifikasi orang."

"Apa maksudmu?" tanya Xavier masih dengan suara setengah mengantuk.

"Isabella bukan Katerine."

"Apa?"

"Mereka berdua adalah dua orang yang berbeda."

Tak ada respons apa pun dari Xavier kecuali suara-suara samar akan sebuah aktivitas. Dominic tebak Xavier kini benar-benar terbangun dari tidur setengah sadarnya.

"Xavier?"

"Ehm!" Xavier berdeham. "Maksudmu Isabella bukan Katerine?"

"Ya."

"Mengapa kau berpikir seperti itu?"

"Katerine mengirim berliannya ke kantorku."

"Yah, mungkin Isabella diam-diam melakukan itu."

"Saat itu Isabella di rumah sakit bersamaku. Lagi pula dia tak punya alat komunikasi untuk menghubungi siapapun."

"Itu tidak mungkin. Aku sudah menyelidikinya dengan benar. Dia anak tunggal."

"Sepertinya kali ini kau salah besar, Xavier. Aku ingin kau menyelidik ulang."

Xavier menghela napas panjang. "Aku tak pernah salah selama ini. Seharusnya kali ini juga tidak. Tapi baiklah, aku akan menyelidik ulang."

"Terima kasih, Sobat." Dominic mengakhiri panggilan. Ia tercenung memandang ponsel di tangan yang layarnya perlahan-lahan menggelap.

Dominic teringat bagaimana kerasnya Isabella menyangkal kalau bukan dia yang mencuri berlian tersebut, dan bagaimana Dominic menganggap semua itu hanya lakonan semata.

Perasaan bersalah menghantam dada Dominic dengan keras saat teringat, bagaimana ia menyiksa gadis itu bekerja keras menjadi pengurus rumah sekaligus juru masak keluarganya.

Dominic menghela napas berat dan mengusap muka dengan kedua telapak tangan.

Buruk.

Perasaannya sangat buruk. Kesalahan Xavier mengindentifikasi orang berbuntut penderitaan bagi orang yang tak bersalah.

Dominic sangat memercayai Xavier. Pria itu bekerja sangat bagus di bidangnya. Mereka sudah lama berteman dekat. Bukan satu dua kali Dominic mengandalkan Xavier dalam banyak hal penting dan genting. Seperti kata Xavier, pria itu tak pernah salah selama ini. Namun rupanya kali ini sahabatnya itu harus menelan pil pahit bahwa kinerjanya buruk. Dan akibatnya Dominic harus menanggung perasaan bersalah.

***



bersambung ...

Guys, VERSI TAMAT cerita ini sudah tersedia dalam bentuk PDF, yang mau order silakan WA aku di 08125517788.

Anyway, jangan lupa vote dan komennya, ya.

Jangan lupa juga follow akun IG dan tiktok aku: evathink

Buat yang ingin koleksi karya aku yang lainnya (TAMAT), bisa purchase di:

>> Google play buku

>> Karya karsa

Atau versi PDF, bisa beli di aku, WA 08125517788

Makasih, teman2 atas dukungannya.

NOTE: CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT!

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang