PART 35-1

917 73 2
                                        

Part 35

Matahari siang bersinar terik. Dominic melangkah keluar dari mobil Range Rover berwarna merahnya sembari menenteng makanan untuk makan siang dirinya dan Isabella.

Sepanjang perjalanan menuju ke kamar Isabella, pikiran Dominic penuh oleh kenyataan yang ia dapat hari ini.

Isabella bukan Katerine. Ia bersalah pada Isabella.

Siapa Katerine sebenarnya? Apakah saudari kembar Isabella?

Dominic tidak sabar menunggu informasi dari Xavier. Sementara itu, meski belum mendapat informasinya, Dominic yakin, Isabella bukanlah Katerine. Jadi sepertinya hari ini menjadi hari terakhir ia menawan Isabella. Ia harus melepaskannya, karena bukan gadis itu yang mencuri berliannya.

Langkah Dominic terhenti di anak tangga menuju lantai atas. Ia terdiam. Membayangkan tidak bertemu Isabella lagi membuat perasaan Dominic menjadi muram.

Dominic membayangkan hari-hari yang akan ia lewati tanpa Isabella dan seketika merasa hampa. Mungkin terdengar gila, tapi ia tak siap kehilangan Isabella secepat ini. Gadis itu telah mewarnai hari-harinya yang abu-abu dengan mulut tajamnya. Dengan kehadirannya.

Dengan suasana hati yang berubah semakin kelabu, Dominic melanjutkan langkah menapaki anak tangga.

Tiba di depan pintu kamar Isabella, terlihat Randy berjaga di sana. Pengawalnya itu menyapa, tapi Dominic tak membalas. Ia mengetuk pelan pintu kamar Isabella, tanpa sadar menyeringai samar. Ironis, kini ia berubah sopan. Dulu, pasti ia langsung membuka pintu tanpa peduli pada privasi sang tawanan.

Meski tak terdengar jawaban, Dominic membuka pintu. Tampak Isabella sedang berbaring di ranjang. Dominic melangkah masuk dan menutup pintu, lalu berjalan menuju ranjang. Tiba di sana, ia melihat mata gadis itu terpejam. Isabella tidur. Gadis itu masih dalam masa pemulihan.

Untuk beberapa saat Dominic hanya berdiri di samping ranjang. Wajah Isabella masih sedikit pucat. Untuk kesekian kalinya hati Dominic teriris rasa bersalah. Karena dirinya, Isabella sakit.

Perlahan, tak ingin membangunkan Isabella yang masih lelap, Dominic meletakkan makanan yang dibawanya ke atas nakas, lalu duduk di bibir ranjang. Tatapannya terpaku di wajah Isabella yang damai. Tanpa sadar, tangan Dominic terjulur dan mengusap lembut wajah tawanannya itu. Kulit wajah Isabella begitu halus dan mulus, nyaris tak ada jerawat dan noda hitam. Meski tanpa riasan, gadis itu masih terlihat sangat cantik.

Elusan jari-jemari Dominic merampat ke dahi Isabella. Ia menyingkirkan poni gadis itu ke samping. Lalu jemarinya mengelus hidung mancung Isabella, turun ke bibir ranumnya.

Bibir itu begitu seksi. Dominic ingat ia pernah menciumnya dengan paksa. Sekarang, Dominic bertanya-tanya, apa rasanya jika Isabella membalas ciumannya? Apa akan terasa seperti terbang ke awang-awang?

Tiba-tiba ada keinginan kuat mencium gadis itu lagi. Bahkan memeluknya.

Dominic tahu ia makin tidak rasional. Keinginannya makin aneh, karena selama ini ia tak pernah merasa seperti itu pada gadis mana pun, selain kekasihnya di masa lalu. Namun Dominic tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Semakin memikirkan harus melepaskan Isabella dan kehilangannya, timbul kesadaran bahwa ia ingin memilikinya.

Isabella bergerak pelan. Dominic tersadar dan dengan cepat menarik tangannya, lalu berdiri.

Mata gadis itu bergerak-gerak, lalu terbuka. "Dominic?"

Dominic menatap Isabella tanpa senyum. "Apa tidurmu nyenyak?"

Isabella bangkit dan duduk di tengah ranjang. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku membawa makan siang untukmu."

"Ah, maaf merepotkanmu."

"Tidak repot sama sekali. Bagaimana kondisimu?"

"Yah, sudah jauh lebih baik."

"Syukurlah." Dominic mendesah lega. "Ayo, makan. Aku beli bubur ayam. Aku akan menyuruh Randy mengambil mangkuk dan sendok."

"Tak perlu. Aku ingin makan di ruang makan saja, Dominic."

"Aku tak mau kau kelelahan turun naik tangga."

Isabella tersenyum. "Aku tidak akan kelelahan. Lagi pula kondisiku sudah membaik."

"Baiklah," kata Dominic setelah menimbang beberapa saat.

Isabella turun dari ranjang dan ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu keduanya pun turun ke lantai bawah.

"Aku bingung harus membeli apa untuk makan siangmu. Karena kau dalam masa pemulihan, aku pikir bubur ayam kampung baik untukmu, aku harap kau suka. Selain itu, aku juga membeli roti dan cake, barangkali nanti kau lapar sebelum makan malam," kata Dominic saat meletak makanan yang ia bawa tadi ke atas meja makan.

"Terima kasih, Dominic."

Dominic hanya mengangguk samar. "Aku akan mengambil mangkuk dan sendok."

"Aku saja," kata Isabella.

"Tidak. Kau duduk saja." Dominic menarik kursi lalu mendorong pelan Isabella agar duduk.

Setelah itu pria itu mengambil mangkuk dan sendok. Saat kembali, kening Isabella berkerut melihat Dominic membawa dua buah mangkuk.

"Kenapa dua?"

"Untuk kau dan aku."

"Kau belum makan?"

"Ya."

Isabella tak berkata apa-apa lagi. Dominic menuang bubur yang dibelinya ke mangkuk. Keduanya pun makan sambil sesekali mengobrol ringan.

***

bersambung ...

Guys, VERSI TAMAT cerita ini sudah tersedia dalam bentuk PDF, yang mau order silakan WA aku di 08125517788.

Anyway, jangan lupa vote dan komennya, ya.

Jangan lupa juga follow akun IG dan tiktok aku: evathink

Buat yang ingin koleksi karya aku yang lainnya (TAMAT), bisa purchase di:

>> Google play buku

>> Karya karsa

Atau versi PDF, bisa beli di aku, WA 08125517788

Makasih, teman2 atas dukungannya.

NOTE: CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT!


Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang